Cerita
Cerita
Telling Stories is the Part of the Resistance
Inilah Wajah Dunia
Lainnya
14 Des 2025
Sekitar 10 atau 11 tahun dari sekarang, saat duduk di bangku sekolah dasar, saya adalah siswa yang cukup freak, weird, nerd, kalau dideskripsikan dengan bahasa gaul zaman sekarang, saya saat itu adalah siswa yang pick me, playing victim, nakal, dan rupanya saya juga melakukan bullying non-verbal yang baru saya sadari perilaku tersebut termasuk bullying. Tapi pintar. Nilai saya bagus-bagus dan saya tetap memiliki teman. Entahlah, tapi, dulu saya sempat merasa teman-teman itu selalu tidak menyukai saya di belakang. Jelas. Entah alasannya karena saya suka berperilaku seenaknya, cari perhatian, atau iri dengan pencapaian saya.
Sampai suatu hari, saat itu akan ada pertemuan rutin orangtua dan guru. Ibu salah satu teman saya (bukan orang yang saya bully, sebut saja anak ini R) datang lebih awal, kemudian kami teman-temannya pun menyalami beliau. Kalau tidak salah, saat itu saya kelas 3 SD, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ibu si R ini menyeletuk, “Ranking itu nggak penting.” Kemudian beliau melanjutkan kalimatnya, tapi, sayangnya saya lupa. Setelah kalimat itu terucap, saya merasa ada petir menyambar saya. Entah kenapa, sampai saat ini pun saya tidak tahu alasannya, yang pasti rasanya tidak nyaman.
Semenjak itu pula, saya berhenti menjadi peraih ranking 1. Ranking saya turun, tapi masih 3 besar. Begitu pula rasa percaya diri saya. Saya mulai menutup diri, takut salah, seringkali berasumsi negatif atas perilaku teman-teman saya. Seorang teman lelaki sempat mengucapkan sebuah kalimat yang sampai sekarang bahkan hingga ajal menjemput terpatri di ingatan saya. Saya sudah memaafkan karena perkataan tersebut tidak pantas dan saya baru paham saat di asrama. Dia bilang, “Wuuu! Kamu tuh nggak punya harga diri!” Bayangkan, siswa sekolah dasar zaman itu belum seperti sekarang. Saya tidak cerita kepada siapa pun, kami setelahnya juga tetap berteman, tetap menjadi duo rival memperebutkan peringkat 1. Long story short, saya lulus sekolah dasar, hari ketulusan berjalan lancar, hubungan saya dan teman-teman pun juga baik.
Kemudian orangtua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di asrama. Saya memutuskan untuk mengubah kepribadian dan perilaku. Saya mulai mengerti dan paham arti bullying. Saya baru sadar, ternyata dulu saya orang yang jahat, mungkin membuat kehidupan masa sekolah dasarnya suram, meski sesaat, karena setelahnya saya justru sering bermain dengannya, menginap di rumahnya, sampai ibunya suka sekali memasakkan sambal mantap kesukaan saya. Ya, ibu mana yang tidak senang karena anak pintar ini bermain ke rumahnya.
Kembali di saat saya di asrama. Ada beberapa hal yang saya baru sadari penyebab hilangnya rasa percaya diri saya. Di asrama saya, ada yang namanya ekstrakulikuler wajib pidato. Mau tidak mau seluruh siswa asrama pun harus mengikuti kegiatan tersebut, bukan yang hanya minat saja. Pidato tersebut menggunakan 3 bahasa. Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Setiap pekan bergantian. Tiba saatnya giliran saya menggunakan Bahasa Arab. Saya ingat sekali, saat di ruang kelas, saya bertanya kepada salah satu pembimbing pidato, untuk anak baru apakah boleh sambil membaca teks? Pembimbing itu menjawab, katanya boleh. Tapi berbanding terbalik dengan realitanya. Saat saya mulai maju, saya membaca teks dan pembimbing tersebut mempermalukan saya, menggertak saya, mengevaluasi saya di depan umum. Bilang katanya kenapa membaca teks, bla bla bla, sampai saya tidak tahan untuk tidak menangis dan menyumpahi pembimbing tersebut. Rasa tidak percaya diri saya mulai turun perlahan. Tapi masih ada. Selanjutnya saya masih berani berpidato, mengungkapkan pendapat. Sampai rasa percaya diri itu benar-benar menipis setipis-tipisnya saat saya duduk di kelas 9. Saya merasa saya mulai hilang, ini bukan saya. Sejak hari itu, saya mulai merasa bahwa saya bukanlah seorang main character lagi. Akademik, guru, beberapa hal mulai tidak berpihak kepada saya. Yang dulu rasanya semua keberuntungan akan selalu berpihak kepada saya, semenjak hari itu rasanya dunia mulai bicara, kalau dunia yang sebenarnya adalah seperti ini. Saya harus bersusah payah untuk jadi baik, saya harus berpura-pura untuk jadi baik, dan saya harus memberikan inout usaha yang sangat-sangat besar. Padahal output yang dihasilkan tidak sebesar inputnya.
Waktu berjalan, hingga saat ini pun, rasa percaya diri saya belum kembali, jiwa kepemimpinan saya memudar, bahkan kepribadian saya yang dulunya seorang yang adaptif, berani, tidak malu dalam menyampaikan sesuatu seperti lenyap. Sampai saat ini pun saya harus memberikan input yang besar dan lebih dari outputnya. Beberapa hal sesekali memang berpihak, tapi inilah wajah dunia yang sebenarnya.
Beberapa hal baik yang tak terduga terjadi, beberapa hal yang menyesakkan dan merusak kesehatan fisik dan mental juga terjadi. Inilah wajah dunia, saya tidak ingin kembali kecil, karena saya seorang yang jahat. Saya juga tidak ingin segera dewasa, karena banyak hal yang harus saya penuhi sebagai seorang yang sudah dewasa. Saya kemudian berpikir, andai dulu usaha saya saat duduk di sekolah dasar lebih besar, ya. Kenapa saya hanya belajar sedikit, dapat peringkat 1, lalu saya merasa tugas saya sudah selesai?
Baca selengkapnya
Dihajar Oleh Keadaan
Lainnya
13 Feb 2023
Saya adalah seorang lulusan freshgraduate. dulu pada masa-masa kuliah saya merasa dunia ini sangat menyenangkan, hingga pada suatu saat setelah saya lulus dari bangku kuliah saya diberikan begitu banyak ujian oleh kehidupan realita yang sesungguhnya, dimana sulitnya mencari pekerjaan, teman yang perlahan menjauh, down, tidak tau harus berbuat apa, dibuat bingung dengan keadaan yang dituntut harus tetap terlihat baik-baik saja, ditambah lagi melihat orangtua yang berharap begitu besar terhadap saya, membuat saya sedih dan takut tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka walaupun mereka secara langsung tidak pernah menuntut saya untuk menjadi apa yang mereka inginkan, tapi setiap saya melihat cara mereka menatap saya ada banyak harapan yang tersimpan di dalamnya, hingga suatu hari ibu saya pernah berkata kepada saya “yang penting kamu sudah melakukan yang terbaik nak, jangan bersedih kami tau kau sudah berusaha pasti tiba waktunya kau akan mendapatkan apa yang sedang kau cari” begitulah ucapan seorang ibu untuk menguatkan anaknya, kata-kata inilah yang membuat saya untuk tetap semangat berusaha mencapai apa yang saya inginkan saya terus berusaha untuk bisa membahagiakan orangtua saya, saya coba buat lamaran kerja kesana kemari, tapi belum juga ada panggilan, saya tanya teman-teman saya yang sudah bekerja namun tidak ada juga respon dari mereka, dan hingga sampai saat ini saya masih berusaha memperjuangkan apa yang ingin saya capai.
Baca selengkapnya
Dilecehkan Rekan Sendiri
Industri Barang Konsumsi
13 Jun 2024
Cerita ini terjadi sekitar 12 tahun lalu saat aku (AS) baru lulus SMA. Saat itu, aku masih training di salah satu franchise minuman.
Begitu sampai di tempat, hanya ada aku dan satu laki-laki yang seumuran (MG). Dia mengajariku cara membuat minumannya, mengemas, dll.
Akan tetapi, aku yang sedang istirahat, tiba-tiba dari belakang, dia memasukkan tangannya ke payudaraku. Aku hanya bisa diam karena takut meskipun sebenarnya mudah saja aku berteriak karena orang ramai berlalu lalang lewat di depan kedai atau membeli. Tapi entahlah, aku terlalu takut saat itu. Tidak hanya itu, dia juga menciumi bibirku saat tidak ada orang.
Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan itu dan menjalani kehidupan seperti biasa. Aku memilih untuk menjadi penulis. Ya, meskipun sampai sekarang, aku belum menghasilkan apapun.
Apakah aku trauma? Jujur saja iya. Karena, itu bukan pertama kalinya. Aku pernah mengalami kejadian serupa saat masih kelas tiga SD yang dilakukan oleh guru Penjas. Hal itu sangat menakutkan bagiku yang masih kecil.
Akibat dari dua kejadian ini, aku yang pada dasarnya memang introvert, jadi semakin sulit untuk bergaul dengan siapapun. Aku mengalami insomnia parah selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Berat badanku berkurang drastis dari yang tadinya 57kg, sekarang hanya 38kg. Aku bahkan baru sembuh dari sakit darah rendah+gerd parah selama empat puluh hari.
Aku baru berani bercerita ke keluarga bulan lalu. Tentu saja, mereka sulit untuk percaya karena aku tidak pernah menceritakan hal yang buruk pada mereka. Tapi itulah kenyataannya.
Sekarang, aku benar-benar ingin menjadi penulis skenario dan juga sutradara. Tapi, aku tidak berkuliah karena takut terjadi lagi. Tapi, aku masih ingin menjadi penulis skenario dan juga sutradara meskipun tidak tahu bagaimana caranya.
Baca selengkapnya
Tempat Kerja Yang Sudah Saya Anggap Keluarga Kedua Saya
Lainnya
10 Feb 2023
Suatu hari di salah satu rumah sakit swasta dikabupaten, saya bekerja di bagian instalasi farmasi yang dimana kita satu almamater yaitu ‘asisten apoteker’ aku sudah menganggap tempat kerja adalah keluarga kedua. Yang mana saya baru 4 bulan kerja dirs ini dan dia sudah 3 tahunan. Suatu malam dihari Minggu yang dimana hari Minggu hari yang paling sepi dirumah sakit. Saat kita bergantian sift dia langsung menerkam saya memaksakan saya untuk hal hal yang tidak saya inginkan dan benci 🙂
Baca selengkapnya
Athena With No Parthenons
Pariwisata, Pelayaran, Penerbangan, dan Perhotelan
26 Mei 2024
I am a woman in my late 20s, and catching up for my career has been one hell of a disaster.
In this economy, one might say that the regular cycle is writing hundreds of cover letters only to found out all the replies are all about “we received your application”
So of course I don’t mind it one bit when a relative of mine offered me to work at his company, a very small company that only has 4 employees, and to this day, I still don’t know what my job title or my job descriptions. But okay, beggars can’t be choosey.
With my bachelor degree after my name, I came to work everyday, trying to get on to work at anything thrown at me, or even assign myself (and the company) targets, goals, tasks. I tried to be as handy as possible, I tried to really show them, that I can compensate for the lack of experience on my behalf by working hard.
I once thought of making a company profile since I learned (and experienced the repercussions myself) that the company lacks structure and my superior said; “No, we don’t do that thing out here”
This kept happening. I wanted to do more, and met with a brick wall of a response.
Did I mention that I was the only woman? I should’ve put that in the beginning.
As I keep meeting roadblocks, I left with little to no job. I slowly become an obsolete employee. And my boss thinks highly of my supervisor, so he began to ask “what are you doing for today?”
I swear I never hated a phrase more.
I felt invisible, unappreciated, and most importantly, useless.
With my bachelor degree, my two years experience in an organization, it’s so embarrassing that none of it were of good use.
For that company, I learned to use a designer software from scratch in three days, no mentor, no anything.
Since I began to realize that the only “missing” puzzle of this company is the marketing strategy, I uphold myself to fill that position. I believe I had something to give, I like designing, and Social Media is kinda my forte, so I did work on that solo.
Until one day I’ve had enough:
I came to work finding out that they outsourced a social media analyst (which conveniently consists of ALL GUYS) to “look up” on our marketing strategy.
Don’t get me wrong, I want the best for the company, but they didn’t even run it up on me that they’re trying to solve the marketing problem (that I was unaware of).
I will never forget the laughs they all shared in the meeting room, with no vagina to be found,
with me on the sideline.
Meanwhile when my friends asked me “What do you do in your company?” I would say that I handle their Social Media. Because I did!
These dirtbags can’t even press upload on the drafts of posts I planned, wrote, and designed!
If I didn’t actually wait enough time and upload them myself, they wouldn’t do it.
And my boss blamed me because it took too long for me to upload.
Long story short, after the no-vagina-in-meeting-room incident, I stopped giving effort.
And they found victory in calling me lazy, embarrassing, and unreliable.
At the end of it, they “terminated” me out of the office saying I should “work online”. No professionalism, or the good deed to legalize stuff on paper. Just the mere verbatim of, yeah you couldn’t go back.
I can’t help but think I could ended things on good terms, but, since they didn’t give me that, I feel that it’s unfair that I get to be the bigger GUY, and I know they wouldn’t even notice if I do.
So yeah I no longer work there, I learned nothing because they don’t respect me enough to actually mentor or guide me through their jobs, and I’m left with huge trauma thinking “is this what workplace really is?”
But I hope you all can learn how bad it can get when you run a company with no vaginas.
Note: I am a very private person and I dreaded having my identity to be associated with this story. But funny enough, I don’t worry that my coworkers happen to stumble upon this story, not in a million years, because that’s how misogynistic they are.
Baca selengkapnya
Aku Dan 10 Tahun Yang Lalu
Lainnya
7 Feb 2023
Singkat saja, kalian bisa panggil aku K. Aku di 10 tahun yang lalu seperti anak anak pada umumnya, belajar dan bermain. Namun karna faktor genetik dan pola hidup yang kurang sehat aku memiliki berat badan diatas rata rata untuk anak Sekolah Dasar. Ya, aku obesitas, aku punya tubuh yang gemuk sehingga hampir tiada satu haripun aku tidak mendengar cacian dan bullyan dari teman teman dan lingkungan sekitarku.
Setiap hari di sekolah yang seharusnya menjadi tempatku bertumbuh malah menjadi tempat yang dulu aku hindari, aku mulai enggan untuk masuk sekolah dengan alasan yang aku buat sendiri agar orang tuaku tidak tau kalau aku jadi korban bully di sekolah. Salah satu kejadian bullying yang masih aku ingat sampai saat ini, aku pernah di pukul dari belakang oleh teman laki lakiku. Dia melakukan itu hanya karna tidak suka melihat badanku yang gendut. Melawan? dulu aku tidak punya keberanian sama sekali untuk melawan karena aku selalu merasa sendiri dan kesepian.
Kejadian 10 tahun yang lalu membuatku menjadi orang yang lebih berani, tapi aku memiliki sedikit masalah dalam menciptakan kepercayaan diri. Aku masih sulit untuk menjadi orang yang percaya diri untuk orang orang yang baru aku temui. Aahaha terimakasih sudah mau membaca ceritaku ini, aku harap kalian sehat sehat selalu.
Baca selengkapnya
Inilah Wajah Dunia
Lainnya
14 Des 2025
Sekitar 10 atau 11 tahun dari sekarang, saat duduk di bangku sekolah dasar, saya adalah siswa yang cukup freak, weird, nerd, kalau dideskripsikan dengan bahasa gaul zaman sekarang, saya saat itu adalah siswa yang pick me, playing victim, nakal, dan rupanya saya juga melakukan bullying non-verbal yang baru saya sadari perilaku tersebut termasuk bullying. Tapi pintar. Nilai saya bagus-bagus dan saya tetap memiliki teman. Entahlah, tapi, dulu saya sempat merasa teman-teman itu selalu tidak menyukai saya di belakang. Jelas. Entah alasannya karena saya suka berperilaku seenaknya, cari perhatian, atau iri dengan pencapaian saya.
Sampai suatu hari, saat itu akan ada pertemuan rutin orangtua dan guru. Ibu salah satu teman saya (bukan orang yang saya bully, sebut saja anak ini R) datang lebih awal, kemudian kami teman-temannya pun menyalami beliau. Kalau tidak salah, saat itu saya kelas 3 SD, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ibu si R ini menyeletuk, “Ranking itu nggak penting.” Kemudian beliau melanjutkan kalimatnya, tapi, sayangnya saya lupa. Setelah kalimat itu terucap, saya merasa ada petir menyambar saya. Entah kenapa, sampai saat ini pun saya tidak tahu alasannya, yang pasti rasanya tidak nyaman.
Semenjak itu pula, saya berhenti menjadi peraih ranking 1. Ranking saya turun, tapi masih 3 besar. Begitu pula rasa percaya diri saya. Saya mulai menutup diri, takut salah, seringkali berasumsi negatif atas perilaku teman-teman saya. Seorang teman lelaki sempat mengucapkan sebuah kalimat yang sampai sekarang bahkan hingga ajal menjemput terpatri di ingatan saya. Saya sudah memaafkan karena perkataan tersebut tidak pantas dan saya baru paham saat di asrama. Dia bilang, “Wuuu! Kamu tuh nggak punya harga diri!” Bayangkan, siswa sekolah dasar zaman itu belum seperti sekarang. Saya tidak cerita kepada siapa pun, kami setelahnya juga tetap berteman, tetap menjadi duo rival memperebutkan peringkat 1. Long story short, saya lulus sekolah dasar, hari ketulusan berjalan lancar, hubungan saya dan teman-teman pun juga baik.
Kemudian orangtua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di asrama. Saya memutuskan untuk mengubah kepribadian dan perilaku. Saya mulai mengerti dan paham arti bullying. Saya baru sadar, ternyata dulu saya orang yang jahat, mungkin membuat kehidupan masa sekolah dasarnya suram, meski sesaat, karena setelahnya saya justru sering bermain dengannya, menginap di rumahnya, sampai ibunya suka sekali memasakkan sambal mantap kesukaan saya. Ya, ibu mana yang tidak senang karena anak pintar ini bermain ke rumahnya.
Kembali di saat saya di asrama. Ada beberapa hal yang saya baru sadari penyebab hilangnya rasa percaya diri saya. Di asrama saya, ada yang namanya ekstrakulikuler wajib pidato. Mau tidak mau seluruh siswa asrama pun harus mengikuti kegiatan tersebut, bukan yang hanya minat saja. Pidato tersebut menggunakan 3 bahasa. Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Setiap pekan bergantian. Tiba saatnya giliran saya menggunakan Bahasa Arab. Saya ingat sekali, saat di ruang kelas, saya bertanya kepada salah satu pembimbing pidato, untuk anak baru apakah boleh sambil membaca teks? Pembimbing itu menjawab, katanya boleh. Tapi berbanding terbalik dengan realitanya. Saat saya mulai maju, saya membaca teks dan pembimbing tersebut mempermalukan saya, menggertak saya, mengevaluasi saya di depan umum. Bilang katanya kenapa membaca teks, bla bla bla, sampai saya tidak tahan untuk tidak menangis dan menyumpahi pembimbing tersebut. Rasa tidak percaya diri saya mulai turun perlahan. Tapi masih ada. Selanjutnya saya masih berani berpidato, mengungkapkan pendapat. Sampai rasa percaya diri itu benar-benar menipis setipis-tipisnya saat saya duduk di kelas 9. Saya merasa saya mulai hilang, ini bukan saya. Sejak hari itu, saya mulai merasa bahwa saya bukanlah seorang main character lagi. Akademik, guru, beberapa hal mulai tidak berpihak kepada saya. Yang dulu rasanya semua keberuntungan akan selalu berpihak kepada saya, semenjak hari itu rasanya dunia mulai bicara, kalau dunia yang sebenarnya adalah seperti ini. Saya harus bersusah payah untuk jadi baik, saya harus berpura-pura untuk jadi baik, dan saya harus memberikan inout usaha yang sangat-sangat besar. Padahal output yang dihasilkan tidak sebesar inputnya.
Waktu berjalan, hingga saat ini pun, rasa percaya diri saya belum kembali, jiwa kepemimpinan saya memudar, bahkan kepribadian saya yang dulunya seorang yang adaptif, berani, tidak malu dalam menyampaikan sesuatu seperti lenyap. Sampai saat ini pun saya harus memberikan input yang besar dan lebih dari outputnya. Beberapa hal sesekali memang berpihak, tapi inilah wajah dunia yang sebenarnya.
Beberapa hal baik yang tak terduga terjadi, beberapa hal yang menyesakkan dan merusak kesehatan fisik dan mental juga terjadi. Inilah wajah dunia, saya tidak ingin kembali kecil, karena saya seorang yang jahat. Saya juga tidak ingin segera dewasa, karena banyak hal yang harus saya penuhi sebagai seorang yang sudah dewasa. Saya kemudian berpikir, andai dulu usaha saya saat duduk di sekolah dasar lebih besar, ya. Kenapa saya hanya belajar sedikit, dapat peringkat 1, lalu saya merasa tugas saya sudah selesai?
Baca selengkapnya
Dilecehkan Rekan Sendiri
Industri Barang Konsumsi
13 Jun 2024
Cerita ini terjadi sekitar 12 tahun lalu saat aku (AS) baru lulus SMA. Saat itu, aku masih training di salah satu franchise minuman.
Begitu sampai di tempat, hanya ada aku dan satu laki-laki yang seumuran (MG). Dia mengajariku cara membuat minumannya, mengemas, dll.
Akan tetapi, aku yang sedang istirahat, tiba-tiba dari belakang, dia memasukkan tangannya ke payudaraku. Aku hanya bisa diam karena takut meskipun sebenarnya mudah saja aku berteriak karena orang ramai berlalu lalang lewat di depan kedai atau membeli. Tapi entahlah, aku terlalu takut saat itu. Tidak hanya itu, dia juga menciumi bibirku saat tidak ada orang.
Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan itu dan menjalani kehidupan seperti biasa. Aku memilih untuk menjadi penulis. Ya, meskipun sampai sekarang, aku belum menghasilkan apapun.
Apakah aku trauma? Jujur saja iya. Karena, itu bukan pertama kalinya. Aku pernah mengalami kejadian serupa saat masih kelas tiga SD yang dilakukan oleh guru Penjas. Hal itu sangat menakutkan bagiku yang masih kecil.
Akibat dari dua kejadian ini, aku yang pada dasarnya memang introvert, jadi semakin sulit untuk bergaul dengan siapapun. Aku mengalami insomnia parah selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Berat badanku berkurang drastis dari yang tadinya 57kg, sekarang hanya 38kg. Aku bahkan baru sembuh dari sakit darah rendah+gerd parah selama empat puluh hari.
Aku baru berani bercerita ke keluarga bulan lalu. Tentu saja, mereka sulit untuk percaya karena aku tidak pernah menceritakan hal yang buruk pada mereka. Tapi itulah kenyataannya.
Sekarang, aku benar-benar ingin menjadi penulis skenario dan juga sutradara. Tapi, aku tidak berkuliah karena takut terjadi lagi. Tapi, aku masih ingin menjadi penulis skenario dan juga sutradara meskipun tidak tahu bagaimana caranya.
Baca selengkapnya
Athena With No Parthenons
Pariwisata, Pelayaran, Penerbangan, dan Perhotelan
26 Mei 2024
I am a woman in my late 20s, and catching up for my career has been one hell of a disaster.
In this economy, one might say that the regular cycle is writing hundreds of cover letters only to found out all the replies are all about “we received your application”
So of course I don’t mind it one bit when a relative of mine offered me to work at his company, a very small company that only has 4 employees, and to this day, I still don’t know what my job title or my job descriptions. But okay, beggars can’t be choosey.
With my bachelor degree after my name, I came to work everyday, trying to get on to work at anything thrown at me, or even assign myself (and the company) targets, goals, tasks. I tried to be as handy as possible, I tried to really show them, that I can compensate for the lack of experience on my behalf by working hard.
I once thought of making a company profile since I learned (and experienced the repercussions myself) that the company lacks structure and my superior said; “No, we don’t do that thing out here”
This kept happening. I wanted to do more, and met with a brick wall of a response.
Did I mention that I was the only woman? I should’ve put that in the beginning.
As I keep meeting roadblocks, I left with little to no job. I slowly become an obsolete employee. And my boss thinks highly of my supervisor, so he began to ask “what are you doing for today?”
I swear I never hated a phrase more.
I felt invisible, unappreciated, and most importantly, useless.
With my bachelor degree, my two years experience in an organization, it’s so embarrassing that none of it were of good use.
For that company, I learned to use a designer software from scratch in three days, no mentor, no anything.
Since I began to realize that the only “missing” puzzle of this company is the marketing strategy, I uphold myself to fill that position. I believe I had something to give, I like designing, and Social Media is kinda my forte, so I did work on that solo.
Until one day I’ve had enough:
I came to work finding out that they outsourced a social media analyst (which conveniently consists of ALL GUYS) to “look up” on our marketing strategy.
Don’t get me wrong, I want the best for the company, but they didn’t even run it up on me that they’re trying to solve the marketing problem (that I was unaware of).
I will never forget the laughs they all shared in the meeting room, with no vagina to be found,
with me on the sideline.
Meanwhile when my friends asked me “What do you do in your company?” I would say that I handle their Social Media. Because I did!
These dirtbags can’t even press upload on the drafts of posts I planned, wrote, and designed!
If I didn’t actually wait enough time and upload them myself, they wouldn’t do it.
And my boss blamed me because it took too long for me to upload.
Long story short, after the no-vagina-in-meeting-room incident, I stopped giving effort.
And they found victory in calling me lazy, embarrassing, and unreliable.
At the end of it, they “terminated” me out of the office saying I should “work online”. No professionalism, or the good deed to legalize stuff on paper. Just the mere verbatim of, yeah you couldn’t go back.
I can’t help but think I could ended things on good terms, but, since they didn’t give me that, I feel that it’s unfair that I get to be the bigger GUY, and I know they wouldn’t even notice if I do.
So yeah I no longer work there, I learned nothing because they don’t respect me enough to actually mentor or guide me through their jobs, and I’m left with huge trauma thinking “is this what workplace really is?”
But I hope you all can learn how bad it can get when you run a company with no vaginas.
Note: I am a very private person and I dreaded having my identity to be associated with this story. But funny enough, I don’t worry that my coworkers happen to stumble upon this story, not in a million years, because that’s how misogynistic they are.
Baca selengkapnya
Dihajar Oleh Keadaan
Lainnya
13 Feb 2023
Saya adalah seorang lulusan freshgraduate. dulu pada masa-masa kuliah saya merasa dunia ini sangat menyenangkan, hingga pada suatu saat setelah saya lulus dari bangku kuliah saya diberikan begitu banyak ujian oleh kehidupan realita yang sesungguhnya, dimana sulitnya mencari pekerjaan, teman yang perlahan menjauh, down, tidak tau harus berbuat apa, dibuat bingung dengan keadaan yang dituntut harus tetap terlihat baik-baik saja, ditambah lagi melihat orangtua yang berharap begitu besar terhadap saya, membuat saya sedih dan takut tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka walaupun mereka secara langsung tidak pernah menuntut saya untuk menjadi apa yang mereka inginkan, tapi setiap saya melihat cara mereka menatap saya ada banyak harapan yang tersimpan di dalamnya, hingga suatu hari ibu saya pernah berkata kepada saya “yang penting kamu sudah melakukan yang terbaik nak, jangan bersedih kami tau kau sudah berusaha pasti tiba waktunya kau akan mendapatkan apa yang sedang kau cari” begitulah ucapan seorang ibu untuk menguatkan anaknya, kata-kata inilah yang membuat saya untuk tetap semangat berusaha mencapai apa yang saya inginkan saya terus berusaha untuk bisa membahagiakan orangtua saya, saya coba buat lamaran kerja kesana kemari, tapi belum juga ada panggilan, saya tanya teman-teman saya yang sudah bekerja namun tidak ada juga respon dari mereka, dan hingga sampai saat ini saya masih berusaha memperjuangkan apa yang ingin saya capai.
Baca selengkapnya
Tempat Kerja Yang Sudah Saya Anggap Keluarga Kedua Saya
Lainnya
10 Feb 2023
Suatu hari di salah satu rumah sakit swasta dikabupaten, saya bekerja di bagian instalasi farmasi yang dimana kita satu almamater yaitu ‘asisten apoteker’ aku sudah menganggap tempat kerja adalah keluarga kedua. Yang mana saya baru 4 bulan kerja dirs ini dan dia sudah 3 tahunan. Suatu malam dihari Minggu yang dimana hari Minggu hari yang paling sepi dirumah sakit. Saat kita bergantian sift dia langsung menerkam saya memaksakan saya untuk hal hal yang tidak saya inginkan dan benci 🙂
Baca selengkapnya
Aku Dan 10 Tahun Yang Lalu
Lainnya
7 Feb 2023
Singkat saja, kalian bisa panggil aku K. Aku di 10 tahun yang lalu seperti anak anak pada umumnya, belajar dan bermain. Namun karna faktor genetik dan pola hidup yang kurang sehat aku memiliki berat badan diatas rata rata untuk anak Sekolah Dasar. Ya, aku obesitas, aku punya tubuh yang gemuk sehingga hampir tiada satu haripun aku tidak mendengar cacian dan bullyan dari teman teman dan lingkungan sekitarku.
Setiap hari di sekolah yang seharusnya menjadi tempatku bertumbuh malah menjadi tempat yang dulu aku hindari, aku mulai enggan untuk masuk sekolah dengan alasan yang aku buat sendiri agar orang tuaku tidak tau kalau aku jadi korban bully di sekolah. Salah satu kejadian bullying yang masih aku ingat sampai saat ini, aku pernah di pukul dari belakang oleh teman laki lakiku. Dia melakukan itu hanya karna tidak suka melihat badanku yang gendut. Melawan? dulu aku tidak punya keberanian sama sekali untuk melawan karena aku selalu merasa sendiri dan kesepian.
Kejadian 10 tahun yang lalu membuatku menjadi orang yang lebih berani, tapi aku memiliki sedikit masalah dalam menciptakan kepercayaan diri. Aku masih sulit untuk menjadi orang yang percaya diri untuk orang orang yang baru aku temui. Aahaha terimakasih sudah mau membaca ceritaku ini, aku harap kalian sehat sehat selalu.
Baca selengkapnya
Inilah Wajah Dunia
Lainnya
14 Des 2025
Sekitar 10 atau 11 tahun dari sekarang, saat duduk di bangku sekolah dasar, saya adalah siswa yang cukup freak, weird, nerd, kalau dideskripsikan dengan bahasa gaul zaman sekarang, saya saat itu adalah siswa yang pick me, playing victim, nakal, dan rupanya saya juga melakukan bullying non-verbal yang baru saya sadari perilaku tersebut termasuk bullying. Tapi pintar. Nilai saya bagus-bagus dan saya tetap memiliki teman. Entahlah, tapi, dulu saya sempat merasa teman-teman itu selalu tidak menyukai saya di belakang. Jelas. Entah alasannya karena saya suka berperilaku seenaknya, cari perhatian, atau iri dengan pencapaian saya.
Sampai suatu hari, saat itu akan ada pertemuan rutin orangtua dan guru. Ibu salah satu teman saya (bukan orang yang saya bully, sebut saja anak ini R) datang lebih awal, kemudian kami teman-temannya pun menyalami beliau. Kalau tidak salah, saat itu saya kelas 3 SD, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ibu si R ini menyeletuk, “Ranking itu nggak penting.” Kemudian beliau melanjutkan kalimatnya, tapi, sayangnya saya lupa. Setelah kalimat itu terucap, saya merasa ada petir menyambar saya. Entah kenapa, sampai saat ini pun saya tidak tahu alasannya, yang pasti rasanya tidak nyaman.
Semenjak itu pula, saya berhenti menjadi peraih ranking 1. Ranking saya turun, tapi masih 3 besar. Begitu pula rasa percaya diri saya. Saya mulai menutup diri, takut salah, seringkali berasumsi negatif atas perilaku teman-teman saya. Seorang teman lelaki sempat mengucapkan sebuah kalimat yang sampai sekarang bahkan hingga ajal menjemput terpatri di ingatan saya. Saya sudah memaafkan karena perkataan tersebut tidak pantas dan saya baru paham saat di asrama. Dia bilang, “Wuuu! Kamu tuh nggak punya harga diri!” Bayangkan, siswa sekolah dasar zaman itu belum seperti sekarang. Saya tidak cerita kepada siapa pun, kami setelahnya juga tetap berteman, tetap menjadi duo rival memperebutkan peringkat 1. Long story short, saya lulus sekolah dasar, hari ketulusan berjalan lancar, hubungan saya dan teman-teman pun juga baik.
Kemudian orangtua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di asrama. Saya memutuskan untuk mengubah kepribadian dan perilaku. Saya mulai mengerti dan paham arti bullying. Saya baru sadar, ternyata dulu saya orang yang jahat, mungkin membuat kehidupan masa sekolah dasarnya suram, meski sesaat, karena setelahnya saya justru sering bermain dengannya, menginap di rumahnya, sampai ibunya suka sekali memasakkan sambal mantap kesukaan saya. Ya, ibu mana yang tidak senang karena anak pintar ini bermain ke rumahnya.
Kembali di saat saya di asrama. Ada beberapa hal yang saya baru sadari penyebab hilangnya rasa percaya diri saya. Di asrama saya, ada yang namanya ekstrakulikuler wajib pidato. Mau tidak mau seluruh siswa asrama pun harus mengikuti kegiatan tersebut, bukan yang hanya minat saja. Pidato tersebut menggunakan 3 bahasa. Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Setiap pekan bergantian. Tiba saatnya giliran saya menggunakan Bahasa Arab. Saya ingat sekali, saat di ruang kelas, saya bertanya kepada salah satu pembimbing pidato, untuk anak baru apakah boleh sambil membaca teks? Pembimbing itu menjawab, katanya boleh. Tapi berbanding terbalik dengan realitanya. Saat saya mulai maju, saya membaca teks dan pembimbing tersebut mempermalukan saya, menggertak saya, mengevaluasi saya di depan umum. Bilang katanya kenapa membaca teks, bla bla bla, sampai saya tidak tahan untuk tidak menangis dan menyumpahi pembimbing tersebut. Rasa tidak percaya diri saya mulai turun perlahan. Tapi masih ada. Selanjutnya saya masih berani berpidato, mengungkapkan pendapat. Sampai rasa percaya diri itu benar-benar menipis setipis-tipisnya saat saya duduk di kelas 9. Saya merasa saya mulai hilang, ini bukan saya. Sejak hari itu, saya mulai merasa bahwa saya bukanlah seorang main character lagi. Akademik, guru, beberapa hal mulai tidak berpihak kepada saya. Yang dulu rasanya semua keberuntungan akan selalu berpihak kepada saya, semenjak hari itu rasanya dunia mulai bicara, kalau dunia yang sebenarnya adalah seperti ini. Saya harus bersusah payah untuk jadi baik, saya harus berpura-pura untuk jadi baik, dan saya harus memberikan inout usaha yang sangat-sangat besar. Padahal output yang dihasilkan tidak sebesar inputnya.
Waktu berjalan, hingga saat ini pun, rasa percaya diri saya belum kembali, jiwa kepemimpinan saya memudar, bahkan kepribadian saya yang dulunya seorang yang adaptif, berani, tidak malu dalam menyampaikan sesuatu seperti lenyap. Sampai saat ini pun saya harus memberikan input yang besar dan lebih dari outputnya. Beberapa hal sesekali memang berpihak, tapi inilah wajah dunia yang sebenarnya.
Beberapa hal baik yang tak terduga terjadi, beberapa hal yang menyesakkan dan merusak kesehatan fisik dan mental juga terjadi. Inilah wajah dunia, saya tidak ingin kembali kecil, karena saya seorang yang jahat. Saya juga tidak ingin segera dewasa, karena banyak hal yang harus saya penuhi sebagai seorang yang sudah dewasa. Saya kemudian berpikir, andai dulu usaha saya saat duduk di sekolah dasar lebih besar, ya. Kenapa saya hanya belajar sedikit, dapat peringkat 1, lalu saya merasa tugas saya sudah selesai?
Baca selengkapnya
Dilecehkan Rekan Sendiri
Industri Barang Konsumsi
13 Jun 2024
Cerita ini terjadi sekitar 12 tahun lalu saat aku (AS) baru lulus SMA. Saat itu, aku masih training di salah satu franchise minuman.
Begitu sampai di tempat, hanya ada aku dan satu laki-laki yang seumuran (MG). Dia mengajariku cara membuat minumannya, mengemas, dll.
Akan tetapi, aku yang sedang istirahat, tiba-tiba dari belakang, dia memasukkan tangannya ke payudaraku. Aku hanya bisa diam karena takut meskipun sebenarnya mudah saja aku berteriak karena orang ramai berlalu lalang lewat di depan kedai atau membeli. Tapi entahlah, aku terlalu takut saat itu. Tidak hanya itu, dia juga menciumi bibirku saat tidak ada orang.
Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan itu dan menjalani kehidupan seperti biasa. Aku memilih untuk menjadi penulis. Ya, meskipun sampai sekarang, aku belum menghasilkan apapun.
Apakah aku trauma? Jujur saja iya. Karena, itu bukan pertama kalinya. Aku pernah mengalami kejadian serupa saat masih kelas tiga SD yang dilakukan oleh guru Penjas. Hal itu sangat menakutkan bagiku yang masih kecil.
Akibat dari dua kejadian ini, aku yang pada dasarnya memang introvert, jadi semakin sulit untuk bergaul dengan siapapun. Aku mengalami insomnia parah selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Berat badanku berkurang drastis dari yang tadinya 57kg, sekarang hanya 38kg. Aku bahkan baru sembuh dari sakit darah rendah+gerd parah selama empat puluh hari.
Aku baru berani bercerita ke keluarga bulan lalu. Tentu saja, mereka sulit untuk percaya karena aku tidak pernah menceritakan hal yang buruk pada mereka. Tapi itulah kenyataannya.
Sekarang, aku benar-benar ingin menjadi penulis skenario dan juga sutradara. Tapi, aku tidak berkuliah karena takut terjadi lagi. Tapi, aku masih ingin menjadi penulis skenario dan juga sutradara meskipun tidak tahu bagaimana caranya.
Baca selengkapnya
Athena With No Parthenons
Pariwisata, Pelayaran, Penerbangan, dan Perhotelan
26 Mei 2024
I am a woman in my late 20s, and catching up for my career has been one hell of a disaster.
In this economy, one might say that the regular cycle is writing hundreds of cover letters only to found out all the replies are all about “we received your application”
So of course I don’t mind it one bit when a relative of mine offered me to work at his company, a very small company that only has 4 employees, and to this day, I still don’t know what my job title or my job descriptions. But okay, beggars can’t be choosey.
With my bachelor degree after my name, I came to work everyday, trying to get on to work at anything thrown at me, or even assign myself (and the company) targets, goals, tasks. I tried to be as handy as possible, I tried to really show them, that I can compensate for the lack of experience on my behalf by working hard.
I once thought of making a company profile since I learned (and experienced the repercussions myself) that the company lacks structure and my superior said; “No, we don’t do that thing out here”
This kept happening. I wanted to do more, and met with a brick wall of a response.
Did I mention that I was the only woman? I should’ve put that in the beginning.
As I keep meeting roadblocks, I left with little to no job. I slowly become an obsolete employee. And my boss thinks highly of my supervisor, so he began to ask “what are you doing for today?”
I swear I never hated a phrase more.
I felt invisible, unappreciated, and most importantly, useless.
With my bachelor degree, my two years experience in an organization, it’s so embarrassing that none of it were of good use.
For that company, I learned to use a designer software from scratch in three days, no mentor, no anything.
Since I began to realize that the only “missing” puzzle of this company is the marketing strategy, I uphold myself to fill that position. I believe I had something to give, I like designing, and Social Media is kinda my forte, so I did work on that solo.
Until one day I’ve had enough:
I came to work finding out that they outsourced a social media analyst (which conveniently consists of ALL GUYS) to “look up” on our marketing strategy.
Don’t get me wrong, I want the best for the company, but they didn’t even run it up on me that they’re trying to solve the marketing problem (that I was unaware of).
I will never forget the laughs they all shared in the meeting room, with no vagina to be found,
with me on the sideline.
Meanwhile when my friends asked me “What do you do in your company?” I would say that I handle their Social Media. Because I did!
These dirtbags can’t even press upload on the drafts of posts I planned, wrote, and designed!
If I didn’t actually wait enough time and upload them myself, they wouldn’t do it.
And my boss blamed me because it took too long for me to upload.
Long story short, after the no-vagina-in-meeting-room incident, I stopped giving effort.
And they found victory in calling me lazy, embarrassing, and unreliable.
At the end of it, they “terminated” me out of the office saying I should “work online”. No professionalism, or the good deed to legalize stuff on paper. Just the mere verbatim of, yeah you couldn’t go back.
I can’t help but think I could ended things on good terms, but, since they didn’t give me that, I feel that it’s unfair that I get to be the bigger GUY, and I know they wouldn’t even notice if I do.
So yeah I no longer work there, I learned nothing because they don’t respect me enough to actually mentor or guide me through their jobs, and I’m left with huge trauma thinking “is this what workplace really is?”
But I hope you all can learn how bad it can get when you run a company with no vaginas.
Note: I am a very private person and I dreaded having my identity to be associated with this story. But funny enough, I don’t worry that my coworkers happen to stumble upon this story, not in a million years, because that’s how misogynistic they are.
Baca selengkapnya
Dihajar Oleh Keadaan
Lainnya
13 Feb 2023
Saya adalah seorang lulusan freshgraduate. dulu pada masa-masa kuliah saya merasa dunia ini sangat menyenangkan, hingga pada suatu saat setelah saya lulus dari bangku kuliah saya diberikan begitu banyak ujian oleh kehidupan realita yang sesungguhnya, dimana sulitnya mencari pekerjaan, teman yang perlahan menjauh, down, tidak tau harus berbuat apa, dibuat bingung dengan keadaan yang dituntut harus tetap terlihat baik-baik saja, ditambah lagi melihat orangtua yang berharap begitu besar terhadap saya, membuat saya sedih dan takut tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka walaupun mereka secara langsung tidak pernah menuntut saya untuk menjadi apa yang mereka inginkan, tapi setiap saya melihat cara mereka menatap saya ada banyak harapan yang tersimpan di dalamnya, hingga suatu hari ibu saya pernah berkata kepada saya “yang penting kamu sudah melakukan yang terbaik nak, jangan bersedih kami tau kau sudah berusaha pasti tiba waktunya kau akan mendapatkan apa yang sedang kau cari” begitulah ucapan seorang ibu untuk menguatkan anaknya, kata-kata inilah yang membuat saya untuk tetap semangat berusaha mencapai apa yang saya inginkan saya terus berusaha untuk bisa membahagiakan orangtua saya, saya coba buat lamaran kerja kesana kemari, tapi belum juga ada panggilan, saya tanya teman-teman saya yang sudah bekerja namun tidak ada juga respon dari mereka, dan hingga sampai saat ini saya masih berusaha memperjuangkan apa yang ingin saya capai.
Baca selengkapnya
MUST READ
Hasil survey 2022
Laporan: Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022 oleh Never Okay Project & International Labour Organization Indonesia

MUST READ
Hasil survey 2022
Laporan: Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022 oleh Never Okay Project & International Labour Organization Indonesia

MUST READ
Hasil survey 2022
Laporan: Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022 oleh Never Okay Project & International Labour Organization Indonesia

MUST READ
Hasil survey 2022
Laporan: Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022 oleh Never Okay Project & International Labour Organization Indonesia

Kami mendorong tempat kerja menjadi ruang yang aman, memuliakan kesetaraan dan berdiri untuk keadilan.
Training & Konsultasi
Follow kami
ID

© 2026 Never Okay Project. All rights reserved. Made by adila
Kami mendorong tempat kerja menjadi ruang yang aman, memuliakan kesetaraan dan berdiri untuk keadilan.
Training & Konsultasi
Follow kami
ID

© 2026 Never Okay Project. All rights reserved. Made by adila
Kami mendorong tempat kerja menjadi ruang yang aman, memuliakan kesetaraan dan berdiri untuk keadilan.
Training & Konsultasi
Follow kami
ID

© 2026 Never Okay Project.
All rights reserved. Made by adila
