Inilah Wajah Dunia

Sekitar 10 atau 11 tahun dari sekarang, saat duduk di bangku sekolah dasar, saya adalah siswa yang cukup freak, weird, nerd, kalau dideskripsikan dengan bahasa gaul zaman sekarang, saya saat itu adalah siswa yang pick me, playing victim, nakal, dan rupanya saya juga melakukan bullying non-verbal yang baru saya sadari perilaku tersebut termasuk bullying. Tapi pintar. Nilai saya bagus-bagus dan saya tetap memiliki teman. Entahlah, tapi, dulu saya sempat merasa teman-teman itu selalu tidak menyukai saya di belakang. Jelas. Entah alasannya karena saya suka berperilaku seenaknya, cari perhatian, atau iri dengan pencapaian saya.

Sampai suatu hari, saat itu akan ada pertemuan rutin orangtua dan guru. Ibu salah satu teman saya (bukan orang yang saya bully, sebut saja anak ini R) datang lebih awal, kemudian kami teman-temannya pun menyalami beliau. Kalau tidak salah, saat itu saya kelas 3 SD, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ibu si R ini menyeletuk, “Ranking itu nggak penting.” Kemudian beliau melanjutkan kalimatnya, tapi, sayangnya saya lupa. Setelah kalimat itu terucap, saya merasa ada petir menyambar saya. Entah kenapa, sampai saat ini pun saya tidak tahu alasannya, yang pasti rasanya tidak nyaman.

Semenjak itu pula, saya berhenti menjadi peraih ranking 1. Ranking saya turun, tapi masih 3 besar. Begitu pula rasa percaya diri saya. Saya mulai menutup diri, takut salah, seringkali berasumsi negatif atas perilaku teman-teman saya. Seorang teman lelaki sempat mengucapkan sebuah kalimat yang sampai sekarang bahkan hingga ajal menjemput terpatri di ingatan saya. Saya sudah memaafkan karena perkataan tersebut tidak pantas dan saya baru paham saat di asrama. Dia bilang, “Wuuu! Kamu tuh nggak punya harga diri!” Bayangkan, siswa sekolah dasar zaman itu belum seperti sekarang. Saya tidak cerita kepada siapa pun, kami setelahnya juga tetap berteman, tetap menjadi duo rival memperebutkan peringkat 1. Long story short, saya lulus sekolah dasar, hari ketulusan berjalan lancar, hubungan saya dan teman-teman pun juga baik.

Kemudian orangtua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di asrama. Saya memutuskan untuk mengubah kepribadian dan perilaku. Saya mulai mengerti dan paham arti bullying. Saya baru sadar, ternyata dulu saya orang yang jahat, mungkin membuat kehidupan masa sekolah dasarnya suram, meski sesaat, karena setelahnya saya justru sering bermain dengannya, menginap di rumahnya, sampai ibunya suka sekali memasakkan sambal mantap kesukaan saya. Ya, ibu mana yang tidak senang karena anak pintar ini bermain ke rumahnya.

Kembali di saat saya di asrama. Ada beberapa hal yang saya baru sadari penyebab hilangnya rasa percaya diri saya. Di asrama saya, ada yang namanya ekstrakulikuler wajib pidato. Mau tidak mau seluruh siswa asrama pun harus mengikuti kegiatan tersebut, bukan yang hanya minat saja. Pidato tersebut menggunakan 3 bahasa. Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Setiap pekan bergantian. Tiba saatnya giliran saya menggunakan Bahasa Arab. Saya ingat sekali, saat di ruang kelas, saya bertanya kepada salah satu pembimbing pidato, untuk anak baru apakah boleh sambil membaca teks? Pembimbing itu menjawab, katanya boleh. Tapi berbanding terbalik dengan realitanya. Saat saya mulai maju, saya membaca teks dan pembimbing tersebut mempermalukan saya, menggertak saya, mengevaluasi saya di depan umum. Bilang katanya kenapa membaca teks, bla bla bla, sampai saya tidak tahan untuk tidak menangis dan menyumpahi pembimbing tersebut. Rasa tidak percaya diri saya mulai turun perlahan. Tapi masih ada. Selanjutnya saya masih berani berpidato, mengungkapkan pendapat. Sampai rasa percaya diri itu benar-benar menipis setipis-tipisnya saat saya duduk di kelas 9. Saya merasa saya mulai hilang, ini bukan saya. Sejak hari itu, saya mulai merasa bahwa saya bukanlah seorang main character lagi. Akademik, guru, beberapa hal mulai tidak berpihak kepada saya. Yang dulu rasanya semua keberuntungan akan selalu berpihak kepada saya, semenjak hari itu rasanya dunia mulai bicara, kalau dunia yang sebenarnya adalah seperti ini. Saya harus bersusah payah untuk jadi baik, saya harus berpura-pura untuk jadi baik, dan saya harus memberikan inout usaha yang sangat-sangat besar. Padahal output yang dihasilkan tidak sebesar inputnya.

Waktu berjalan, hingga saat ini pun, rasa percaya diri saya belum kembali, jiwa kepemimpinan saya memudar, bahkan kepribadian saya yang dulunya seorang yang adaptif, berani, tidak malu dalam menyampaikan sesuatu seperti lenyap. Sampai saat ini pun saya harus memberikan input yang besar dan lebih dari outputnya. Beberapa hal sesekali memang berpihak, tapi inilah wajah dunia yang sebenarnya.

Beberapa hal baik yang tak terduga terjadi, beberapa hal yang menyesakkan dan merusak kesehatan fisik dan mental juga terjadi. Inilah wajah dunia, saya tidak ingin kembali kecil, karena saya seorang yang jahat. Saya juga tidak ingin segera dewasa, karena banyak hal yang harus saya penuhi sebagai seorang yang sudah dewasa. Saya kemudian berpikir, andai dulu usaha saya saat duduk di sekolah dasar lebih besar, ya. Kenapa saya hanya belajar sedikit, dapat peringkat 1, lalu saya merasa tugas saya sudah selesai?

Diceritakan oleh KS

Sektor Pekerjaan:

Kirim Komentar

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Cerita Lainnya