Inilah Wajah Dunia

Lainnya

Surat dari Penyintas

Because story is part of resistance

Inilah Wajah Dunia

Lainnya

Surat dari Penyintas

Because story is part of resistance

Inilah Wajah Dunia

Lainnya

Surat dari Penyintas

Because story is part of resistance

Inilah Wajah Dunia

Lainnya

14 Des 2025

Sekitar 10 atau 11 tahun dari sekarang, saat duduk di bangku sekolah dasar, saya adalah siswa yang cukup freak, weird, nerd, kalau dideskripsikan dengan bahasa gaul zaman sekarang, saya saat itu adalah siswa yang pick me, playing victim, nakal, dan rupanya saya juga melakukan bullying non-verbal yang baru saya sadari perilaku tersebut termasuk bullying. Tapi pintar. Nilai saya bagus-bagus dan saya tetap memiliki teman. Entahlah, tapi, dulu saya sempat merasa teman-teman itu selalu tidak menyukai saya di belakang. Jelas. Entah alasannya karena saya suka berperilaku seenaknya, cari perhatian, atau iri dengan pencapaian saya.

Sampai suatu hari, saat itu akan ada pertemuan rutin orangtua dan guru. Ibu salah satu teman saya (bukan orang yang saya bully, sebut saja anak ini R) datang lebih awal, kemudian kami teman-temannya pun menyalami beliau. Kalau tidak salah, saat itu saya kelas 3 SD, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ibu si R ini menyeletuk, “Ranking itu nggak penting.” Kemudian beliau melanjutkan kalimatnya, tapi, sayangnya saya lupa. Setelah kalimat itu terucap, saya merasa ada petir menyambar saya. Entah kenapa, sampai saat ini pun saya tidak tahu alasannya, yang pasti rasanya tidak nyaman.

Semenjak itu pula, saya berhenti menjadi peraih ranking 1. Ranking saya turun, tapi masih 3 besar. Begitu pula rasa percaya diri saya. Saya mulai menutup diri, takut salah, seringkali berasumsi negatif atas perilaku teman-teman saya. Seorang teman lelaki sempat mengucapkan sebuah kalimat yang sampai sekarang bahkan hingga ajal menjemput terpatri di ingatan saya. Saya sudah memaafkan karena perkataan tersebut tidak pantas dan saya baru paham saat di asrama. Dia bilang, “Wuuu! Kamu tuh nggak punya harga diri!” Bayangkan, siswa sekolah dasar zaman itu belum seperti sekarang. Saya tidak cerita kepada siapa pun, kami setelahnya juga tetap berteman, tetap menjadi duo rival memperebutkan peringkat 1. Long story short, saya lulus sekolah dasar, hari ketulusan berjalan lancar, hubungan saya dan teman-teman pun juga baik.

Kemudian orangtua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di asrama. Saya memutuskan untuk mengubah kepribadian dan perilaku. Saya mulai mengerti dan paham arti bullying. Saya baru sadar, ternyata dulu saya orang yang jahat, mungkin membuat kehidupan masa sekolah dasarnya suram, meski sesaat, karena setelahnya saya justru sering bermain dengannya, menginap di rumahnya, sampai ibunya suka sekali memasakkan sambal mantap kesukaan saya. Ya, ibu mana yang tidak senang karena anak pintar ini bermain ke rumahnya.

Kembali di saat saya di asrama. Ada beberapa hal yang saya baru sadari penyebab hilangnya rasa percaya diri saya. Di asrama saya, ada yang namanya ekstrakulikuler wajib pidato. Mau tidak mau seluruh siswa asrama pun harus mengikuti kegiatan tersebut, bukan yang hanya minat saja. Pidato tersebut menggunakan 3 bahasa. Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Setiap pekan bergantian. Tiba saatnya giliran saya menggunakan Bahasa Arab. Saya ingat sekali, saat di ruang kelas, saya bertanya kepada salah satu pembimbing pidato, untuk anak baru apakah boleh sambil membaca teks? Pembimbing itu menjawab, katanya boleh. Tapi berbanding terbalik dengan realitanya. Saat saya mulai maju, saya membaca teks dan pembimbing tersebut mempermalukan saya, menggertak saya, mengevaluasi saya di depan umum. Bilang katanya kenapa membaca teks, bla bla bla, sampai saya tidak tahan untuk tidak menangis dan menyumpahi pembimbing tersebut. Rasa tidak percaya diri saya mulai turun perlahan. Tapi masih ada. Selanjutnya saya masih berani berpidato, mengungkapkan pendapat. Sampai rasa percaya diri itu benar-benar menipis setipis-tipisnya saat saya duduk di kelas 9. Saya merasa saya mulai hilang, ini bukan saya. Sejak hari itu, saya mulai merasa bahwa saya bukanlah seorang main character lagi. Akademik, guru, beberapa hal mulai tidak berpihak kepada saya. Yang dulu rasanya semua keberuntungan akan selalu berpihak kepada saya, semenjak hari itu rasanya dunia mulai bicara, kalau dunia yang sebenarnya adalah seperti ini. Saya harus bersusah payah untuk jadi baik, saya harus berpura-pura untuk jadi baik, dan saya harus memberikan inout usaha yang sangat-sangat besar. Padahal output yang dihasilkan tidak sebesar inputnya.

Waktu berjalan, hingga saat ini pun, rasa percaya diri saya belum kembali, jiwa kepemimpinan saya memudar, bahkan kepribadian saya yang dulunya seorang yang adaptif, berani, tidak malu dalam menyampaikan sesuatu seperti lenyap. Sampai saat ini pun saya harus memberikan input yang besar dan lebih dari outputnya. Beberapa hal sesekali memang berpihak, tapi inilah wajah dunia yang sebenarnya.

Beberapa hal baik yang tak terduga terjadi, beberapa hal yang menyesakkan dan merusak kesehatan fisik dan mental juga terjadi. Inilah wajah dunia, saya tidak ingin kembali kecil, karena saya seorang yang jahat. Saya juga tidak ingin segera dewasa, karena banyak hal yang harus saya penuhi sebagai seorang yang sudah dewasa. Saya kemudian berpikir, andai dulu usaha saya saat duduk di sekolah dasar lebih besar, ya. Kenapa saya hanya belajar sedikit, dapat peringkat 1, lalu saya merasa tugas saya sudah selesai?

Baca selengkapnya

Dilecehkan Rekan Sendiri

Lainnya

13 Jun 2024

Cerita ini terjadi sekitar 12 tahun lalu saat aku (AS) baru lulus SMA. Saat itu, aku masih training di salah satu franchise minuman.

Begitu sampai di tempat, hanya ada aku dan satu laki-laki yang seumuran (MG). Dia mengajariku cara membuat minumannya, mengemas, dll.

Akan tetapi, aku yang sedang istirahat, tiba-tiba dari belakang, dia memasukkan tangannya ke payudaraku. Aku hanya bisa diam karena takut meskipun sebenarnya mudah saja aku berteriak karena orang ramai berlalu lalang lewat di depan kedai atau membeli. Tapi entahlah, aku terlalu takut saat itu. Tidak hanya itu, dia juga menciumi bibirku saat tidak ada orang.

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan itu dan menjalani kehidupan seperti biasa. Aku memilih untuk menjadi penulis. Ya, meskipun sampai sekarang, aku belum menghasilkan apapun.

Apakah aku trauma? Jujur saja iya. Karena, itu bukan pertama kalinya. Aku pernah mengalami kejadian serupa saat masih kelas tiga SD yang dilakukan oleh guru Penjas. Hal itu sangat menakutkan bagiku yang masih kecil.

Akibat dari dua kejadian ini, aku yang pada dasarnya memang introvert, jadi semakin sulit untuk bergaul dengan siapapun. Aku mengalami insomnia parah selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Berat badanku berkurang drastis dari yang tadinya 57kg, sekarang hanya 38kg. Aku bahkan baru sembuh dari sakit darah rendah+gerd parah selama empat puluh hari.

Aku baru berani bercerita ke keluarga bulan lalu. Tentu saja, mereka sulit untuk percaya karena aku tidak pernah menceritakan hal yang buruk pada mereka. Tapi itulah kenyataannya.

Sekarang, aku benar-benar ingin menjadi penulis skenario dan juga sutradara. Tapi, aku tidak berkuliah karena takut terjadi lagi. Tapi, aku masih ingin menjadi penulis skenario dan juga sutradara meskipun tidak tahu bagaimana caranya.

Baca selengkapnya

Athena With No Parthenons

Lainnya

26 Mei 2024

I am a woman in my late 20s, and catching up for my career has been one hell of a disaster.

In this economy, one might say that the regular cycle is writing hundreds of cover letters only to found out all the replies are all about “we received your application”

So of course I don’t mind it one bit when a relative of mine offered me to work at his company, a very small company that only has 4 employees, and to this day, I still don’t know what my job title or my job descriptions. But okay, beggars can’t be choosey.

With my bachelor degree after my name, I came to work everyday, trying to get on to work at anything thrown at me, or even assign myself (and the company) targets, goals, tasks. I tried to be as handy as possible, I tried to really show them, that I can compensate for the lack of experience on my behalf by working hard.

I once thought of making a company profile since I learned (and experienced the repercussions myself) that the company lacks structure and my superior said; “No, we don’t do that thing out here”

This kept happening. I wanted to do more, and met with a brick wall of a response.

Did I mention that I was the only woman? I should’ve put that in the beginning.

As I keep meeting roadblocks, I left with little to no job. I slowly become an obsolete employee. And my boss thinks highly of my supervisor, so he began to ask “what are you doing for today?”
I swear I never hated a phrase more.

I felt invisible, unappreciated, and most importantly, useless.

With my bachelor degree, my two years experience in an organization, it’s so embarrassing that none of it were of good use.

For that company, I learned to use a designer software from scratch in three days, no mentor, no anything.

Since I began to realize that the only “missing” puzzle of this company is the marketing strategy, I uphold myself to fill that position. I believe I had something to give, I like designing, and Social Media is kinda my forte, so I did work on that solo.

Until one day I’ve had enough:

I came to work finding out that they outsourced a social media analyst (which conveniently consists of ALL GUYS) to “look up” on our marketing strategy.

Don’t get me wrong, I want the best for the company, but they didn’t even run it up on me that they’re trying to solve the marketing problem (that I was unaware of).

I will never forget the laughs they all shared in the meeting room, with no vagina to be found,

with me on the sideline.

Meanwhile when my friends asked me “What do you do in your company?” I would say that I handle their Social Media. Because I did!

These dirtbags can’t even press upload on the drafts of posts I planned, wrote, and designed!
If I didn’t actually wait enough time and upload them myself, they wouldn’t do it.

And my boss blamed me because it took too long for me to upload.

Long story short, after the no-vagina-in-meeting-room incident, I stopped giving effort.

And they found victory in calling me lazy, embarrassing, and unreliable.

At the end of it, they “terminated” me out of the office saying I should “work online”. No professionalism, or the good deed to legalize stuff on paper. Just the mere verbatim of, yeah you couldn’t go back.

I can’t help but think I could ended things on good terms, but, since they didn’t give me that, I feel that it’s unfair that I get to be the bigger GUY, and I know they wouldn’t even notice if I do.

So yeah I no longer work there, I learned nothing because they don’t respect me enough to actually mentor or guide me through their jobs, and I’m left with huge trauma thinking “is this what workplace really is?”

But I hope you all can learn how bad it can get when you run a company with no vaginas.

Note: I am a very private person and I dreaded having my identity to be associated with this story. But funny enough, I don’t worry that my coworkers happen to stumble upon this story, not in a million years, because that’s how misogynistic they are.

Baca selengkapnya

Inilah Wajah Dunia

Lainnya

14 Des 2025

Sekitar 10 atau 11 tahun dari sekarang, saat duduk di bangku sekolah dasar, saya adalah siswa yang cukup freak, weird, nerd, kalau dideskripsikan dengan bahasa gaul zaman sekarang, saya saat itu adalah siswa yang pick me, playing victim, nakal, dan rupanya saya juga melakukan bullying non-verbal yang baru saya sadari perilaku tersebut termasuk bullying. Tapi pintar. Nilai saya bagus-bagus dan saya tetap memiliki teman. Entahlah, tapi, dulu saya sempat merasa teman-teman itu selalu tidak menyukai saya di belakang. Jelas. Entah alasannya karena saya suka berperilaku seenaknya, cari perhatian, atau iri dengan pencapaian saya.

Sampai suatu hari, saat itu akan ada pertemuan rutin orangtua dan guru. Ibu salah satu teman saya (bukan orang yang saya bully, sebut saja anak ini R) datang lebih awal, kemudian kami teman-temannya pun menyalami beliau. Kalau tidak salah, saat itu saya kelas 3 SD, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ibu si R ini menyeletuk, “Ranking itu nggak penting.” Kemudian beliau melanjutkan kalimatnya, tapi, sayangnya saya lupa. Setelah kalimat itu terucap, saya merasa ada petir menyambar saya. Entah kenapa, sampai saat ini pun saya tidak tahu alasannya, yang pasti rasanya tidak nyaman.

Semenjak itu pula, saya berhenti menjadi peraih ranking 1. Ranking saya turun, tapi masih 3 besar. Begitu pula rasa percaya diri saya. Saya mulai menutup diri, takut salah, seringkali berasumsi negatif atas perilaku teman-teman saya. Seorang teman lelaki sempat mengucapkan sebuah kalimat yang sampai sekarang bahkan hingga ajal menjemput terpatri di ingatan saya. Saya sudah memaafkan karena perkataan tersebut tidak pantas dan saya baru paham saat di asrama. Dia bilang, “Wuuu! Kamu tuh nggak punya harga diri!” Bayangkan, siswa sekolah dasar zaman itu belum seperti sekarang. Saya tidak cerita kepada siapa pun, kami setelahnya juga tetap berteman, tetap menjadi duo rival memperebutkan peringkat 1. Long story short, saya lulus sekolah dasar, hari ketulusan berjalan lancar, hubungan saya dan teman-teman pun juga baik.

Kemudian orangtua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di asrama. Saya memutuskan untuk mengubah kepribadian dan perilaku. Saya mulai mengerti dan paham arti bullying. Saya baru sadar, ternyata dulu saya orang yang jahat, mungkin membuat kehidupan masa sekolah dasarnya suram, meski sesaat, karena setelahnya saya justru sering bermain dengannya, menginap di rumahnya, sampai ibunya suka sekali memasakkan sambal mantap kesukaan saya. Ya, ibu mana yang tidak senang karena anak pintar ini bermain ke rumahnya.

Kembali di saat saya di asrama. Ada beberapa hal yang saya baru sadari penyebab hilangnya rasa percaya diri saya. Di asrama saya, ada yang namanya ekstrakulikuler wajib pidato. Mau tidak mau seluruh siswa asrama pun harus mengikuti kegiatan tersebut, bukan yang hanya minat saja. Pidato tersebut menggunakan 3 bahasa. Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Setiap pekan bergantian. Tiba saatnya giliran saya menggunakan Bahasa Arab. Saya ingat sekali, saat di ruang kelas, saya bertanya kepada salah satu pembimbing pidato, untuk anak baru apakah boleh sambil membaca teks? Pembimbing itu menjawab, katanya boleh. Tapi berbanding terbalik dengan realitanya. Saat saya mulai maju, saya membaca teks dan pembimbing tersebut mempermalukan saya, menggertak saya, mengevaluasi saya di depan umum. Bilang katanya kenapa membaca teks, bla bla bla, sampai saya tidak tahan untuk tidak menangis dan menyumpahi pembimbing tersebut. Rasa tidak percaya diri saya mulai turun perlahan. Tapi masih ada. Selanjutnya saya masih berani berpidato, mengungkapkan pendapat. Sampai rasa percaya diri itu benar-benar menipis setipis-tipisnya saat saya duduk di kelas 9. Saya merasa saya mulai hilang, ini bukan saya. Sejak hari itu, saya mulai merasa bahwa saya bukanlah seorang main character lagi. Akademik, guru, beberapa hal mulai tidak berpihak kepada saya. Yang dulu rasanya semua keberuntungan akan selalu berpihak kepada saya, semenjak hari itu rasanya dunia mulai bicara, kalau dunia yang sebenarnya adalah seperti ini. Saya harus bersusah payah untuk jadi baik, saya harus berpura-pura untuk jadi baik, dan saya harus memberikan inout usaha yang sangat-sangat besar. Padahal output yang dihasilkan tidak sebesar inputnya.

Waktu berjalan, hingga saat ini pun, rasa percaya diri saya belum kembali, jiwa kepemimpinan saya memudar, bahkan kepribadian saya yang dulunya seorang yang adaptif, berani, tidak malu dalam menyampaikan sesuatu seperti lenyap. Sampai saat ini pun saya harus memberikan input yang besar dan lebih dari outputnya. Beberapa hal sesekali memang berpihak, tapi inilah wajah dunia yang sebenarnya.

Beberapa hal baik yang tak terduga terjadi, beberapa hal yang menyesakkan dan merusak kesehatan fisik dan mental juga terjadi. Inilah wajah dunia, saya tidak ingin kembali kecil, karena saya seorang yang jahat. Saya juga tidak ingin segera dewasa, karena banyak hal yang harus saya penuhi sebagai seorang yang sudah dewasa. Saya kemudian berpikir, andai dulu usaha saya saat duduk di sekolah dasar lebih besar, ya. Kenapa saya hanya belajar sedikit, dapat peringkat 1, lalu saya merasa tugas saya sudah selesai?

Baca selengkapnya

Dilecehkan Rekan Sendiri

Lainnya

13 Jun 2024

Cerita ini terjadi sekitar 12 tahun lalu saat aku (AS) baru lulus SMA. Saat itu, aku masih training di salah satu franchise minuman.

Begitu sampai di tempat, hanya ada aku dan satu laki-laki yang seumuran (MG). Dia mengajariku cara membuat minumannya, mengemas, dll.

Akan tetapi, aku yang sedang istirahat, tiba-tiba dari belakang, dia memasukkan tangannya ke payudaraku. Aku hanya bisa diam karena takut meskipun sebenarnya mudah saja aku berteriak karena orang ramai berlalu lalang lewat di depan kedai atau membeli. Tapi entahlah, aku terlalu takut saat itu. Tidak hanya itu, dia juga menciumi bibirku saat tidak ada orang.

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan itu dan menjalani kehidupan seperti biasa. Aku memilih untuk menjadi penulis. Ya, meskipun sampai sekarang, aku belum menghasilkan apapun.

Apakah aku trauma? Jujur saja iya. Karena, itu bukan pertama kalinya. Aku pernah mengalami kejadian serupa saat masih kelas tiga SD yang dilakukan oleh guru Penjas. Hal itu sangat menakutkan bagiku yang masih kecil.

Akibat dari dua kejadian ini, aku yang pada dasarnya memang introvert, jadi semakin sulit untuk bergaul dengan siapapun. Aku mengalami insomnia parah selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Berat badanku berkurang drastis dari yang tadinya 57kg, sekarang hanya 38kg. Aku bahkan baru sembuh dari sakit darah rendah+gerd parah selama empat puluh hari.

Aku baru berani bercerita ke keluarga bulan lalu. Tentu saja, mereka sulit untuk percaya karena aku tidak pernah menceritakan hal yang buruk pada mereka. Tapi itulah kenyataannya.

Sekarang, aku benar-benar ingin menjadi penulis skenario dan juga sutradara. Tapi, aku tidak berkuliah karena takut terjadi lagi. Tapi, aku masih ingin menjadi penulis skenario dan juga sutradara meskipun tidak tahu bagaimana caranya.

Baca selengkapnya

Athena With No Parthenons

Lainnya

26 Mei 2024

I am a woman in my late 20s, and catching up for my career has been one hell of a disaster.

In this economy, one might say that the regular cycle is writing hundreds of cover letters only to found out all the replies are all about “we received your application”

So of course I don’t mind it one bit when a relative of mine offered me to work at his company, a very small company that only has 4 employees, and to this day, I still don’t know what my job title or my job descriptions. But okay, beggars can’t be choosey.

With my bachelor degree after my name, I came to work everyday, trying to get on to work at anything thrown at me, or even assign myself (and the company) targets, goals, tasks. I tried to be as handy as possible, I tried to really show them, that I can compensate for the lack of experience on my behalf by working hard.

I once thought of making a company profile since I learned (and experienced the repercussions myself) that the company lacks structure and my superior said; “No, we don’t do that thing out here”

This kept happening. I wanted to do more, and met with a brick wall of a response.

Did I mention that I was the only woman? I should’ve put that in the beginning.

As I keep meeting roadblocks, I left with little to no job. I slowly become an obsolete employee. And my boss thinks highly of my supervisor, so he began to ask “what are you doing for today?”
I swear I never hated a phrase more.

I felt invisible, unappreciated, and most importantly, useless.

With my bachelor degree, my two years experience in an organization, it’s so embarrassing that none of it were of good use.

For that company, I learned to use a designer software from scratch in three days, no mentor, no anything.

Since I began to realize that the only “missing” puzzle of this company is the marketing strategy, I uphold myself to fill that position. I believe I had something to give, I like designing, and Social Media is kinda my forte, so I did work on that solo.

Until one day I’ve had enough:

I came to work finding out that they outsourced a social media analyst (which conveniently consists of ALL GUYS) to “look up” on our marketing strategy.

Don’t get me wrong, I want the best for the company, but they didn’t even run it up on me that they’re trying to solve the marketing problem (that I was unaware of).

I will never forget the laughs they all shared in the meeting room, with no vagina to be found,

with me on the sideline.

Meanwhile when my friends asked me “What do you do in your company?” I would say that I handle their Social Media. Because I did!

These dirtbags can’t even press upload on the drafts of posts I planned, wrote, and designed!
If I didn’t actually wait enough time and upload them myself, they wouldn’t do it.

And my boss blamed me because it took too long for me to upload.

Long story short, after the no-vagina-in-meeting-room incident, I stopped giving effort.

And they found victory in calling me lazy, embarrassing, and unreliable.

At the end of it, they “terminated” me out of the office saying I should “work online”. No professionalism, or the good deed to legalize stuff on paper. Just the mere verbatim of, yeah you couldn’t go back.

I can’t help but think I could ended things on good terms, but, since they didn’t give me that, I feel that it’s unfair that I get to be the bigger GUY, and I know they wouldn’t even notice if I do.

So yeah I no longer work there, I learned nothing because they don’t respect me enough to actually mentor or guide me through their jobs, and I’m left with huge trauma thinking “is this what workplace really is?”

But I hope you all can learn how bad it can get when you run a company with no vaginas.

Note: I am a very private person and I dreaded having my identity to be associated with this story. But funny enough, I don’t worry that my coworkers happen to stumble upon this story, not in a million years, because that’s how misogynistic they are.

Baca selengkapnya

Inilah Wajah Dunia

Lainnya

14 Des 2025

Sekitar 10 atau 11 tahun dari sekarang, saat duduk di bangku sekolah dasar, saya adalah siswa yang cukup freak, weird, nerd, kalau dideskripsikan dengan bahasa gaul zaman sekarang, saya saat itu adalah siswa yang pick me, playing victim, nakal, dan rupanya saya juga melakukan bullying non-verbal yang baru saya sadari perilaku tersebut termasuk bullying. Tapi pintar. Nilai saya bagus-bagus dan saya tetap memiliki teman. Entahlah, tapi, dulu saya sempat merasa teman-teman itu selalu tidak menyukai saya di belakang. Jelas. Entah alasannya karena saya suka berperilaku seenaknya, cari perhatian, atau iri dengan pencapaian saya.

Sampai suatu hari, saat itu akan ada pertemuan rutin orangtua dan guru. Ibu salah satu teman saya (bukan orang yang saya bully, sebut saja anak ini R) datang lebih awal, kemudian kami teman-temannya pun menyalami beliau. Kalau tidak salah, saat itu saya kelas 3 SD, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ibu si R ini menyeletuk, “Ranking itu nggak penting.” Kemudian beliau melanjutkan kalimatnya, tapi, sayangnya saya lupa. Setelah kalimat itu terucap, saya merasa ada petir menyambar saya. Entah kenapa, sampai saat ini pun saya tidak tahu alasannya, yang pasti rasanya tidak nyaman.

Semenjak itu pula, saya berhenti menjadi peraih ranking 1. Ranking saya turun, tapi masih 3 besar. Begitu pula rasa percaya diri saya. Saya mulai menutup diri, takut salah, seringkali berasumsi negatif atas perilaku teman-teman saya. Seorang teman lelaki sempat mengucapkan sebuah kalimat yang sampai sekarang bahkan hingga ajal menjemput terpatri di ingatan saya. Saya sudah memaafkan karena perkataan tersebut tidak pantas dan saya baru paham saat di asrama. Dia bilang, “Wuuu! Kamu tuh nggak punya harga diri!” Bayangkan, siswa sekolah dasar zaman itu belum seperti sekarang. Saya tidak cerita kepada siapa pun, kami setelahnya juga tetap berteman, tetap menjadi duo rival memperebutkan peringkat 1. Long story short, saya lulus sekolah dasar, hari ketulusan berjalan lancar, hubungan saya dan teman-teman pun juga baik.

Kemudian orangtua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di asrama. Saya memutuskan untuk mengubah kepribadian dan perilaku. Saya mulai mengerti dan paham arti bullying. Saya baru sadar, ternyata dulu saya orang yang jahat, mungkin membuat kehidupan masa sekolah dasarnya suram, meski sesaat, karena setelahnya saya justru sering bermain dengannya, menginap di rumahnya, sampai ibunya suka sekali memasakkan sambal mantap kesukaan saya. Ya, ibu mana yang tidak senang karena anak pintar ini bermain ke rumahnya.

Kembali di saat saya di asrama. Ada beberapa hal yang saya baru sadari penyebab hilangnya rasa percaya diri saya. Di asrama saya, ada yang namanya ekstrakulikuler wajib pidato. Mau tidak mau seluruh siswa asrama pun harus mengikuti kegiatan tersebut, bukan yang hanya minat saja. Pidato tersebut menggunakan 3 bahasa. Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Setiap pekan bergantian. Tiba saatnya giliran saya menggunakan Bahasa Arab. Saya ingat sekali, saat di ruang kelas, saya bertanya kepada salah satu pembimbing pidato, untuk anak baru apakah boleh sambil membaca teks? Pembimbing itu menjawab, katanya boleh. Tapi berbanding terbalik dengan realitanya. Saat saya mulai maju, saya membaca teks dan pembimbing tersebut mempermalukan saya, menggertak saya, mengevaluasi saya di depan umum. Bilang katanya kenapa membaca teks, bla bla bla, sampai saya tidak tahan untuk tidak menangis dan menyumpahi pembimbing tersebut. Rasa tidak percaya diri saya mulai turun perlahan. Tapi masih ada. Selanjutnya saya masih berani berpidato, mengungkapkan pendapat. Sampai rasa percaya diri itu benar-benar menipis setipis-tipisnya saat saya duduk di kelas 9. Saya merasa saya mulai hilang, ini bukan saya. Sejak hari itu, saya mulai merasa bahwa saya bukanlah seorang main character lagi. Akademik, guru, beberapa hal mulai tidak berpihak kepada saya. Yang dulu rasanya semua keberuntungan akan selalu berpihak kepada saya, semenjak hari itu rasanya dunia mulai bicara, kalau dunia yang sebenarnya adalah seperti ini. Saya harus bersusah payah untuk jadi baik, saya harus berpura-pura untuk jadi baik, dan saya harus memberikan inout usaha yang sangat-sangat besar. Padahal output yang dihasilkan tidak sebesar inputnya.

Waktu berjalan, hingga saat ini pun, rasa percaya diri saya belum kembali, jiwa kepemimpinan saya memudar, bahkan kepribadian saya yang dulunya seorang yang adaptif, berani, tidak malu dalam menyampaikan sesuatu seperti lenyap. Sampai saat ini pun saya harus memberikan input yang besar dan lebih dari outputnya. Beberapa hal sesekali memang berpihak, tapi inilah wajah dunia yang sebenarnya.

Beberapa hal baik yang tak terduga terjadi, beberapa hal yang menyesakkan dan merusak kesehatan fisik dan mental juga terjadi. Inilah wajah dunia, saya tidak ingin kembali kecil, karena saya seorang yang jahat. Saya juga tidak ingin segera dewasa, karena banyak hal yang harus saya penuhi sebagai seorang yang sudah dewasa. Saya kemudian berpikir, andai dulu usaha saya saat duduk di sekolah dasar lebih besar, ya. Kenapa saya hanya belajar sedikit, dapat peringkat 1, lalu saya merasa tugas saya sudah selesai?

Baca selengkapnya

Dilecehkan Rekan Sendiri

Lainnya

13 Jun 2024

Cerita ini terjadi sekitar 12 tahun lalu saat aku (AS) baru lulus SMA. Saat itu, aku masih training di salah satu franchise minuman.

Begitu sampai di tempat, hanya ada aku dan satu laki-laki yang seumuran (MG). Dia mengajariku cara membuat minumannya, mengemas, dll.

Akan tetapi, aku yang sedang istirahat, tiba-tiba dari belakang, dia memasukkan tangannya ke payudaraku. Aku hanya bisa diam karena takut meskipun sebenarnya mudah saja aku berteriak karena orang ramai berlalu lalang lewat di depan kedai atau membeli. Tapi entahlah, aku terlalu takut saat itu. Tidak hanya itu, dia juga menciumi bibirku saat tidak ada orang.

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan itu dan menjalani kehidupan seperti biasa. Aku memilih untuk menjadi penulis. Ya, meskipun sampai sekarang, aku belum menghasilkan apapun.

Apakah aku trauma? Jujur saja iya. Karena, itu bukan pertama kalinya. Aku pernah mengalami kejadian serupa saat masih kelas tiga SD yang dilakukan oleh guru Penjas. Hal itu sangat menakutkan bagiku yang masih kecil.

Akibat dari dua kejadian ini, aku yang pada dasarnya memang introvert, jadi semakin sulit untuk bergaul dengan siapapun. Aku mengalami insomnia parah selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Berat badanku berkurang drastis dari yang tadinya 57kg, sekarang hanya 38kg. Aku bahkan baru sembuh dari sakit darah rendah+gerd parah selama empat puluh hari.

Aku baru berani bercerita ke keluarga bulan lalu. Tentu saja, mereka sulit untuk percaya karena aku tidak pernah menceritakan hal yang buruk pada mereka. Tapi itulah kenyataannya.

Sekarang, aku benar-benar ingin menjadi penulis skenario dan juga sutradara. Tapi, aku tidak berkuliah karena takut terjadi lagi. Tapi, aku masih ingin menjadi penulis skenario dan juga sutradara meskipun tidak tahu bagaimana caranya.

Baca selengkapnya

Athena With No Parthenons

Lainnya

26 Mei 2024

I am a woman in my late 20s, and catching up for my career has been one hell of a disaster.

In this economy, one might say that the regular cycle is writing hundreds of cover letters only to found out all the replies are all about “we received your application”

So of course I don’t mind it one bit when a relative of mine offered me to work at his company, a very small company that only has 4 employees, and to this day, I still don’t know what my job title or my job descriptions. But okay, beggars can’t be choosey.

With my bachelor degree after my name, I came to work everyday, trying to get on to work at anything thrown at me, or even assign myself (and the company) targets, goals, tasks. I tried to be as handy as possible, I tried to really show them, that I can compensate for the lack of experience on my behalf by working hard.

I once thought of making a company profile since I learned (and experienced the repercussions myself) that the company lacks structure and my superior said; “No, we don’t do that thing out here”

This kept happening. I wanted to do more, and met with a brick wall of a response.

Did I mention that I was the only woman? I should’ve put that in the beginning.

As I keep meeting roadblocks, I left with little to no job. I slowly become an obsolete employee. And my boss thinks highly of my supervisor, so he began to ask “what are you doing for today?”
I swear I never hated a phrase more.

I felt invisible, unappreciated, and most importantly, useless.

With my bachelor degree, my two years experience in an organization, it’s so embarrassing that none of it were of good use.

For that company, I learned to use a designer software from scratch in three days, no mentor, no anything.

Since I began to realize that the only “missing” puzzle of this company is the marketing strategy, I uphold myself to fill that position. I believe I had something to give, I like designing, and Social Media is kinda my forte, so I did work on that solo.

Until one day I’ve had enough:

I came to work finding out that they outsourced a social media analyst (which conveniently consists of ALL GUYS) to “look up” on our marketing strategy.

Don’t get me wrong, I want the best for the company, but they didn’t even run it up on me that they’re trying to solve the marketing problem (that I was unaware of).

I will never forget the laughs they all shared in the meeting room, with no vagina to be found,

with me on the sideline.

Meanwhile when my friends asked me “What do you do in your company?” I would say that I handle their Social Media. Because I did!

These dirtbags can’t even press upload on the drafts of posts I planned, wrote, and designed!
If I didn’t actually wait enough time and upload them myself, they wouldn’t do it.

And my boss blamed me because it took too long for me to upload.

Long story short, after the no-vagina-in-meeting-room incident, I stopped giving effort.

And they found victory in calling me lazy, embarrassing, and unreliable.

At the end of it, they “terminated” me out of the office saying I should “work online”. No professionalism, or the good deed to legalize stuff on paper. Just the mere verbatim of, yeah you couldn’t go back.

I can’t help but think I could ended things on good terms, but, since they didn’t give me that, I feel that it’s unfair that I get to be the bigger GUY, and I know they wouldn’t even notice if I do.

So yeah I no longer work there, I learned nothing because they don’t respect me enough to actually mentor or guide me through their jobs, and I’m left with huge trauma thinking “is this what workplace really is?”

But I hope you all can learn how bad it can get when you run a company with no vaginas.

Note: I am a very private person and I dreaded having my identity to be associated with this story. But funny enough, I don’t worry that my coworkers happen to stumble upon this story, not in a million years, because that’s how misogynistic they are.

Baca selengkapnya

MUST READ

Hasil survey 2022

Laporan: Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022 oleh Never Okay Project & International Labour Organization Indonesia

MUST READ

Hasil survey 2022

Laporan: Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022 oleh Never Okay Project & International Labour Organization Indonesia

MUST READ

Hasil survey 2022

Laporan: Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022 oleh Never Okay Project & International Labour Organization Indonesia

MUST READ

Hasil survey 2022

Laporan: Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022 oleh Never Okay Project & International Labour Organization Indonesia

© 2026 Never Okay Project. All rights reserved. Made by adila

© 2026 Never Okay Project. All rights reserved. Made by adila

© 2026 Never Okay Project.

All rights reserved. Made by adila