Photo Journey

12

min read

Daniel Baskara Putra

Penulis

NEVEROKAY

Diterbitkan pada

“Saat lo pegang mic, lo punya power untuk bikin lingkungan jadi lebih baik”

Baskara Putra, atau yang lewat nama panggungnya disebut sebagai Hindia, adalah seorang lelaki kelahiran 22 Februari 1994. Di umurnya yang 25 tahun saat ini, Baskara terbilang sudah sukses sebagai pemusik nasional yang berhasil melahirkan single-single hits yang diputar di radio-radio besar. Belum lagi musik yang dia ciptakan bersama teman-teman kuliahnya dalam sebuah band bernama .Feast, bisa dipastikan kawula (tidak jarang juga yang tua, seperti ayah dari penulis) yang menyukai genre rock pasti akrab dengan lagu berjudul “Peradaban” dan “Berita Kehilangan” yang terinspirasi oleh pengeboman di Surabaya. Beberapa waktu yang lalu, tim Never Okay Project yang diwakili oleh Fiana dan Imel berkesempatan untuk berbincang dengan Baskara. Mulai dari kesetaraan gender, women empowerment, dan tentu saja pelecehan seksual di industri musik dari sudut pandang laki-laki, terlebih, dari sudut pandang seorang Baskara Putra.


Pernah menjadi pegawai di British Council, Brand Manager di Double Deer, dan Founding Father sekaligus CEO Bagikata, tentu saja Baskara menganggap dirinya pekerja. Saat kami membacakan kondisi pekerja terutama pekerja perempuan di Indonesia. Baskara terkejut mengetahui 43% pekerja perempuan Indonesia mampu mencapai jenjang manajemen senior di perusahaan / ini angka kedua tertinggi di dunia (Women in Business 2018). Sebuah prestasi kecil yang bisa dibanggakan, menurutnya. Ternyata, keterkejutan Baskara berlandaskan cerita rekan-rekannya yang bekerja di US dan mengalami diskriminasi, terutama di industri kreatif. Celetukan-celetukan seperti “Gue gamau director cewe!” pernah terdengar oleh rekannya yang bekerja disana.


Daniel Baskara Putra

Kesetaraan Gender Dalam Kacamata Baskara

Baskara bersekolah di SMA homogen yang sudah menanamkan value-value kesetaraan. Hal ini ia sadari saat kuliah dan menemui mata kuliah gender studies, melihat kebelakang pada masa SMA nya, ia menyadari bahwa sekolahnya dahulu sudah menanamkan nilai-nilai kesetaraan. Penurunan nilai dari seniornya berupa hal-hal kecil seperti tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak baik kepada perempuan.

Baskara tidak menyangka sekolahnya yang homogen tidak membuatnya menjadi seorang yang seksis. Dan saat di dunia perkuliahan, FISIP UI sudah progresif dalam hal kesetaraan. Ia mencontohkan Fiana, yang kebetulan sedang mewawancarai Baskara sebagai contoh. Fiana adalah koordinator Baskara dalam suatu divisi di kepanitiaan saat ia menempuh pendidikan di FISIP UI. Suatu divisi yang sudah dikenal sulit untuk dipimpin oleh seorang perempuan. Namun Baskara menyebutkan bahwa Fiana bisa memimpin divisi tersebut dengan baik dan sukses terlepas dari stigma apapun. Selain Fiana, di banyak divisi lain pun sudah mulai dipimpin oleh perempuan.

Baskara sendiri akhirnya dewasa dengan pandangan bahwa perempuan cocok untuk memimpin. Namun, ia menyayangkan masih banyak teman-temannya dan orang-orang diluar sana yang tidak sependapat dengannya terutama di industri musik ia tekankan. Sampai saat ini ia masih mendengar kalimat-kalimat seperti “Hah serius lo sound engineer lo cewek?”. Jika dihadapkan dengan situasi seperti itu, Baskara selalu memposisikan dirinya untuk mengoreksi pertanyaan tersebut dengan mempertanyakan perbedaan jika sound engineer nya laki-laki. Baskara membalikan pertanyaan dengan mempertanyakan apakah laki-laki bisa mendengar frekuensi lebih tinggi dari perempuan, ataukah perempuan hanya memiliki 8 jari sehingga tidak bisa memegang papan kontrol. Saat ini sendiri, Sound Engineer Baskara menceritakan bahwa sudah banyak perempuan di almamaternya yang mengambil jurusan Sound Engineer, Sound Design, dan jurusan-jurusan yang biasanya didominasi oleh laki-laki.

“Jaman sekarang dunia sudah lebih progresif”, ucap Baskara. Jika ingin berkaca keluar, bahkan di industri global, produser-produser talent-talent besar itu perempuan. Dan yang tidak bisa dipungkiri adalah, jika suatu pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh satu gender dikerjakan oleh gender yang berlawanan, akan membawa perspektif baru di bidang tersebut. Karena pasti ada pengalaman pribadi yang tidak bisa didapatkan sebagai laki-laki atau perempuan, ataupun sebaliknya. Baskara sangat bersyukur bisa tumbuh kembang di lingkungan yang terbuka dan tidak kolot. Karena menurutnya, yang kolot masih sangat banyak.

Perempuan Yang Menginspirasi Baskara

Membicarakan mengenai perempuan yang menginspirasi Baskara, ia langsung menyebutkan nama lengkap General Manager .feast “Rifanda Putri” dan manager Hindia “Melina Anggraini”.

Saat Baskara pertama kali membentuk .feast saat berkuliah di FISIP UI, ia tidak pernah mengatakan bahwa .feast adalah sebuah band rock. Namun tidak disangkal bahwa .feast memiliki image yang sangat keras, dan juga kerap mendapatkan kritik yang sangat keras. Sering pula ada celotehan jenaka bahwa personel .feast adalah target-target operasi polisi. Membawa image sekeras itu dari saat .feast masih berada di kampus, Rifanda berhasil membawa .feast sampai pada sekarang ini. Tahun ini Feast memasuki tahun ke 7 dan Rifanda membuktikan bahwa dia bisa bekerja lebih bagus dari laki-laki. Baskara mengatakan, “apa yang Panda (Rifanda) kerjakan untuk .feast, apa yang Anggra (Melina Anggraini kerjakan untuk Hindia dan .feast, tidak sembarang orang bisa ngerjain dan ini udah gada hubungannya sama gender. Kalo lo bisa ya lo bisa aja, kenapa harus dibedain”.

Selain sebagai manager Hindia, Anggra juga merupakan Stage Photographer. Baskara mengemukakan mengenai jarangnya ia lihat stage photographer seorang perempuan, sedangkan .feast adalah band yang imagenya dibangun oleh Visual Live Photography. Anggra mampu membangun image .feast sampai kepada ia sangat dihormati di industrinya. Bagi baskara, seorang laki-laki diberi tanggung jawab untuk mengatur lima orang laki-laki lain itu sulit. Namun Panda dan Anggra bisa mengatur .feast yang beranggotakan lima orang laki-laki muda dengan sifat yang beragam.

Baskara pernah mendengar sebuah perkataan “dia ga cocok dikasih manager cewe”. Kontan Baskara mempertanyakan “kenapa? Band gue bisa kok, band gue sudah sampai level nasional di-manage sama cewe dari awal”. Menurut Baskara, Panda tidak hanya mendobrak stereotype dengan memegang band musik yang citranya sangat maskulin, namun ia juga mendobrak bahwa seorang perempuan berhijab bisa mengatur sebuah band seperti .feast. Bersama dengan Anggra, Panda berhasil mempererat hubungan antara personel, kru dan pihak lainnya yang terlibat dalam .feast dan Hindia. Baskara sendiri berusaha selalu membela Panda saat kredibilitas Panda atau Anggra dalam pekerjaannya dipertanyakan oleh orang lain.

Menurut Baskara ada ada perbedaan yang signifikan antara seorang bos dan pemimpin. Jika bos adalah sebuah gelar maka orang yang dipimpinnya mengikuti kemauannya karena rasa takut. Panda dan Anggra dalam mata Baskara, adalah team leader. Jika terdapat hal-hal yang tidak disetujui oleh semua pihak Panda akan membuka diskusi bahkan sampai ke perdebatan, namun Panda bisa mengarahkan perdebatan ke arah jalan keluar yang terbaik. Baskara menilai Panda bisa menjalankan tugasnya dengan sukses di industri yang dimana orang bilang pekerjaan ini hanya bisa dikerjakan oleh laki-laki. Baskara pun mengatakan bahwa ia jarang sekali menemukan seorang general manager perempuan yang memegang band dengan genre seperti .feast dan tentunya berpersonel laki-laki semua. Begitu pula dengan para pendengar Feast, mereka telah mengetahui dengan baik Panda siapa. Dan untuk pendengar .feast dan Hindia, Panda dan Anggra adalah figur pemimpinnya.Panda dan Anggra datang kepada .feast membawa sudut pandang yang berbeda dari kelima personilnya. Ada berbagai macam poin yang tidak bisa ditangkap personilnya sebagai laki-laki.

.feast dengan musiknya keras, Baskara sangat menekankan bahwa ia tidak men-grooming toxic masculinity dalam musiknya. Bagi Baskara musik di .feast dan bagaimana .feast itu di grooming bisa bisa membuatnya nge-fans sama Troye Sivan yang seorang homoseksual namun menurut Baskara Troye Sivan lebih cowok dibandingkan beberapa cowok lain.

Pelecehan Seksual Di Tempat Kerja

Baskara bersyukur tidak pernah bekerja dilingkungan yang seksis sebelum ia terjun penuh kedalam industri musik. Namun setelah Baskara mendengar hasil survey Never Okay Project bahwa 94% responden mengatakan pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja membuat ia meragukan pemahamannya selama ini. Yang Baskara takutkan adalah bahwa fenomena tersebut terjadi di lingkungannya tempat dulu ia bekerja namun ia tidak menyadarinya. Baskara mengemukakan bahwa ketidak sadarannya ini bisa dikarenakan ia adalah seorang laki-laki, sehingga kurangnya sensitivitas akan fenomena tersebut bisa terjadi. Baskara berpendapat bukan tidak mungkin karena kuatnya relasi kuasa membuat fenomena yang terjadi tidak sampai terdengar di kupingnya karena sudah diredam oleh kuasa yang lebih kuat.

Beberapa bulan yang lalu, Baskara dengan mengeluarkan sebuah single dengan judul Secukupnya dibawah persona Hindia. Dengan memanfaatkan keikutsertaan pengikutnya di sosial media, Baskara meminta pengikutnya mengirimkan cerita singkat mengenai kejadian sedih yang dialami pengikutnya di sosial media. Baskara tidak menyangka bahwa 10% dari cerita yang masuk menceritakan pengalaman pelecehan seksual di tempat kerja. Salah satu yang cerita yang masuk menceritakan bagaimana ia dilecehkan setiap hari oleh atasannya namun tidak berani menceritakan kepada siapa-siapa karena beberapa alasan, pertama karena malu, kedua karena ia masih membutuhkan pekerjaan dan pendapatan dari pekerjaan tersebut.

Baskara sendiri mengatakan bahwa ia adalah pribadi yang sangat tidak menyukai pelecehan seksual. Ia sering kali merasa tidak nyaman saat mendengar teman-temannya mengeluarkan candaan berbau seksis. Selain itu, Baskara mengaku cukup mengikuti isu gender dan feminis di sosial medianya.

Jika Baskara sebelumnya mengatakan bahwa ia tidak pernah mengalami, menyaksikan atau mendengar fenomena pelecehan seksual di tempat kerjanya terdahulu saat masih bekerja sebagai pegawai korporasi, lain ceritanya pada industri musik dimana tempatnya sekarang berkecimpung secara penuh. Banyak rekan performer perempuan Baskara yang dilecehkan oleh penonton. Baskara sendiri mengatakan bahwa setiap kali ia mendengar kalimat yang berbau pelecehan seksual ia akan tegur langsung dari atas panggung. Pun ia juga tidak segan menegur siapapun yang melontarkan komentar seksis di kanal digital .feast dengan akun pribadinya (@wordfangs)

Karena buat Baskara pribadi, saat seseorang menjadi role model, sosok untuk orang lain, orang-orang akan memandang orang tersebut, apa yang disuka dan tidak disuka oleh orang tersebut akan dihargai oleh orang-orang yang memandangnya. Baskara sendiri sadar dari 100% orang yang mengikutinya, kemungkinan yang sadar akan isu pelecehan seksual hanya 40% sampai 60%. Sampai saat ini Baskara terus berupaya untuk meningkatkan angka tersebut.

Dari pengalaman baskara bertahun-tahun bekerja di industri musik dan industri korporat. Baskara mengatakan bahwa paling terasa jelas adanya fenomena pelecehan seksual adalah di industri musik. Baskara mengingat, industri korporasinya terdahulu memiliki lingkungan dengan orang-orang yang berpendidikan sehingga tidak terasa adanya pelecehan seksual dibandingkan di industri musik yang sangat bervariasi tingkat pendidikannya.

Terlebih jika acara musik gratis, seperti yang pernah Fiana datangi sekitar 1 bulan yang lalu disaat .feast juga berpartisipasi dalam acara tersebut. Penonton Feast tidak hanya dari kalangan laki-laki, perempuan pun banyak yang menikmati lantunan yang konon katanya terlalu keras untuk perempuan. Dan menjadi perhatian Baskara ketika banyak pendengarnya yang bercerita melalui kanal digital bahwa mereka merasa tidak aman saat menonton Feast. Ancaman datang mulai dari rusuhnya penonton, dilecehkan dengan berbagai cara (dipegang, digesek, dan dihimpit). Bagi Baskara sendiri, Kelelawar (fanbase .feast) justru membantunya untuk melindungi pendengar-pendengar perempuan yang sulit mempertahankan diri saat berada di kerumunan penonton. Karena Kelelawar merasa dititahkan untuk menjaga situasi agar kondusif dan tidak ada korban dari para penonton .feast. Namun baskara masih merasakan untuk melawan hal tersebut sangat lah sulit. Dengan pengikut instagram Feast yang hampir mencapai 40.000 akun pengikut, Baskara tidak bisa memastikan siapa yang akan datang ke acara musik yang ia ikuti dan tidak bisa menjamin bahwa yang datang adalah benar-benar pendengar setianya yang ia sudah yakin tidak akan melakukan tindakan yang ia tidak sukai. Yang kalaupun Baskara beritahu dari atas panggung pun mereka tidak akan mendengarkan karena orang-orang tersebut datang bukan untuk Feast.

Tidak hanya terjadi kepada penonton perempuan, Baskara juga menjadi korban pelecehan seksual ketika sedang bekerja di atas panggung. Ia sering merasakan ada tangan tangan jahil yang menyentuh bagian tertentu dari tubuhnya saat melakukan crowd surf. Baskara pun kerap terjebak dalam perasaan serba salah saat dihadapi dalam situasi tersebut jika yang melakukan adalah perempuan. Lagi-lagi yang bisa baskara lakukan adalah memberikan pengertian secara halus dan pantas kalau hal tersebut tidak benar untuk dilakukan.

Baskara menceritakan bahwa rekan-rekan perempuannya yang berada dalam band pun sering kali menemui komentar yang mengecilkan peran mereka seperti: “seneng deh ada kak X dan kak Y main, jadi pemanis di panggung”. Komentar tersebut tentu sangat menyinggung musisi perempuan telah mencurahkan energi dan usaha yang sama dalam memproduksi lagu-lagu yang sama dengan rekan-rekan laki-laki di dalam band itu.

Dalam sosial media, kedekatan Baskara dengan para pengikutnya yang disebut kelelawar patut diacungi jempol. Tidak hanya sekedar berinteraksi, Baskara sering memberikan informasi, masukan dan juga peringatan jika pengikutnya melakukan hal yang tidak-tidak saat Baskara berada di panggung. Masing-masing musisi memiliki fokus khusus ketika memberikan peringatan kepada penontonnya, salah satu contoh yang disebutkan Baskara adalah Iga (Barasuara) yang lebih berfokus pada etika saat menonton suatu pertunjukan. Baskara sendiri menekankan bahwa setiap musisi yang waras pasti paham mengenai masalah seksisme di dalam lingkungan musik.

Baskara mengatakan,“Buat gua, yang punya power buat ngomong dan punya power buat ngebenerin relasi antara penonton ke penonton, penonton ke performer, ya musisi yang pegang mic, karena siapa yang lagi yang mau ngedengerin. Karena buat gua, ini dalam konteks musik ya, saat lo pegang mic, lo punya power lebih tinggi dari siapapun yang ada disitu. Makanya itu yang bikin gue ngerasa bertanggung jawab buat bikin lingkungan gue jadi lebih baik”.

Baskara mengakui ia marah dan geram saat mendapatkan laporan bahwa ada salah satu penonton Feast perempuan yang menangis seusai pertunjukan karena dilecehkan saat menonton Feast.

Namun baskara tidak memungkiri masih banyak performer yang seksis dan tidak paham bahwa isu ini nyata berada di industri musik. Isu ini sering kali luput dan disepelekan. Baskara mengatakan permasalahan ini mulainya dari akar rumput, dan tidak semua orang di industri ini, apalagi penikmatnya, mengerti isu ini. Yang bisa Baskara lakukan saat ini adalah dengan menyederhanakan konsep dengan menyampaikan mana yang baik dan boleh dilakukan saat menonton pertunjukan, dan mana yang buruk dan tidak boleh dilakukan saat menonton performer mana pun.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, dalam video musik Secukupnya yang dinyanyikan oleh Hindia terdapat satu cuplikan kalimat yang berbunyi “Gue dilecehin bos gue setiap hari.” Baskara menjelaskan alasan kenapa ia memasukan kalimat tersebut. Baskara ia ingin pendengarnya melihat bahwa masalah tersebut nyata dan dirasakan oleh beberapa orang. Selain itu, esensi dari lagu Secukupnya sendiri adalah kegelisahan, masalah dan kesedihan seorang Baskara yang tidak berani ia ceritakan ke orang lain karena satu dan lain hal. Oleh karenanya, ia mengharapkan dengan video musik Secukupnya, bisa mendorong pendengarnya dan orang-orang yang sedang bermasalah menceritakan masalahnya dan tidak menyerah karenanya.

Baskara mengemukakan bahwa untuk mengatasi isu pelecehan seksual di tempat kerja, dibutuhkan suatu gerakan yang kuat dan konsisten yang dilakukan cukup lama untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Jika di negara maju saja sulit menerapkan hal tersebut bagaimana di Indonesia, yang kalau kata Baskara sorry to say nih, yang masyarakatnya masih ada yang memandang kalau perempuan lebih rendah dari laki-laki. Dimana perempuan sudah didikte untuk hanya memasak dan dirumah.

Harapan Baskara

Baskara mengharapkan bagi orang-orang di belakang mic yang mempunyai power untuk berbicara di industrinya memiliki kompas moral yang bisa dibagikan ke penontonnya, tidak hanya musik atau hasil karya seninya saja. Musik memiliki kekebalan komunikasi dimana lewat musik, kritik sosial bisa dilontarkan sebagai bentuk opini dan mendorong pendengarnya memahami sudut pandang lain dari suatu isu. Pendengar tidak harus selalu setuju tapi setidaknya opini tersebut tersampaikan.

Artikel lainnya

A women with office uniform - Jinjing yu from Enemies with Benefit Series

Artikel

3

min read

Being Competent vs Being Liked. Mengapa pemimpin perempuan selalu dipaksa memilih?

"She's too emotional."

"She's too nice to lead."

Komentar seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun di balik itu, terdapat standar ganda yang masih memengaruhi cara kita memandang kepemimpinan di tempat kerja. Di berbagai organisasi, pemimpin perempuan masih dihadapkan pada ekspektasi yang saling bertentangan. Ketika perempuan bersikap tegas dan asertif, mereka berisiko dilabeli galak atau emosional. Namun ketika perempuan menunjukkan empati dan sikap yang hangat, kompetensinya justru dipertanyakan.

Dalam Enemies with Benefits, karakter Wine yang baru menjabat sebagai Supervisor langsung dicap "cuma modal tampang" karena keramahannya dalam bekerja. Untuk memperoleh rasa hormat dari timnya, Wine merasa harus mengubah cara bersikap dan menekan kepribadiannya agar terlihat lebih "layak" menjadi seorang pemimpin.

Pengalaman Wine ini mencerminkan fenomena yang dikenal sebagai likability-competence trap.

Bias yang membuat perempuan seringkali dipaksa memilih antara dihormati karena kompetensi atau disukai karena kepribadian. Standar ganda ini membuat kompetensi pemimpin perempuan tidak hanya dinilai dari hasil kerjanya, tetapi juga dari caranya berbicara, mengekspresikan emosi, dan membangun relasi.

“women who lead are disliked, and women who are liked don’t lead.”

Bias seperti ini jarang hadir dalam bentuk diskriminasi yang terang-terangan. Sebaliknya, ia muncul melalui komentar sehari-hari, feedback, performance review, hingga proses promosi yang tampak objektif, tetapi masih dipengaruhi oleh stereotip gender yang tidak disadari (unconscious bias).

Akibatnya, kepemimpinan seorang perempuan sering kali tidak hanya dinilai dari hal-hal yang secara objektif mendukung keberhasilan kerja seperti kualitas keputusan, hasil kerja, atau dampak yang diciptakan. Penilaian justru turut dipengaruhi oleh sejauh mana seorang pemimpin perempuan dianggap cukup "ramah", “tegas”, "menyenangkan", atau sesuai dengan ekspektasi gender yang masih melekat di lingkungan kerja.

Bagi organisasi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu. Bias dalam mengevaluasi kepemimpinan dapat membatasi keberagaman gaya memimpin, menghambat kreativitas dan perkembangan sumber daya manusianya, dan membuat proses pengambilan keputusan menjadi kurang adil.



Gambar: Adegan Wine menangis ketika mendengar gosip dari rekan kerjanya mengenai Wine.



Membangun tempat kerja yang inklusif bukan hanya tentang membuka lebih banyak kesempatan bagi perempuan atau kelompok rentan untuk memimpin. Yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa setiap proses evaluasi, promosi, dan pemberian feedback dilakukan dengan standar adil. Kepemimpinan yang inklusif dimulai ketika kompetensi menjadi dasar penilaian, bukan stereotip tentang bagaimana seorang pemimpin "seharusnya" bersikap. 


Fokus pada kompetensi.
Fokus pada hasil kerja, KPI objektif, kualitas kepemimpinan, dan dampaknya, bukan apakah seseorang terlihat “cukup ramah” atau “cukup tegas” dalam berinteraksi.

  1. Bedakan gaya memimpin dengan kemampuan memimpin.
    Tidak semua pemimpin harus menunjukkan gaya yang sama untuk bisa efektif. Beragam gaya kepemimpinan dapat mendukung tumbuhnya kreativitias dalam budaya kerja dan dalam mengambil keputusan. Dukung perempuan untuk memimpin secara autentik.

  1. Tinjau kembali bahasa dalam performance review.
    Hindari umpan balik yang berfokus pada kepribadian atau ekspresi seseorang, seperti "terlalu emosional", "kurang hangat", atau "kurang berwibawa". Berikan feedback yang spesifik, berbasis perilaku kerja, dan dapat ditindaklanjuti.

  1. Sadari bias sebelum mengambil keputusan.
    Refleksikan apakah penilaian, promosi, atau feedback benar berdasarkan performa, tidak dipengaruhi oleh stereotip gender yang tidak disadari (unconscious bias)

Karena pada akhirnya, kompetensi tidak memiliki gender.

Tempat kerja yang setara adalah tempat di mana setiap orang dapat memimpin secara autentik, tanpa perlu menekan diri demi memperoleh rasa hormat. Sudahkah kita benar-benar menilai dan menghargai pemimpin berdasarkan kompetensi, integritas, dan dampak yang diciptakannya?

Baca selengkapnya

Artikel

4

min read

Menciptakan Mekanisme Penanganan Pelecehan Seksual yang Proaktif: Belajar dari Filing for A Love

“Di kantor kami aman, kok, buktinya selama ini tidak pernah ada laporan masuk.” 

Pernyataan di atas tidak bisa menjadi landasan untuk memvalidasi tidak adanya mekanisme penanganan pelecehan dan kekerasan seksual di sebuah perusahaan atau institusi.

Bagi banyak manajemen perusahaan, ketiadaan laporan seringkali dijadikan indikator bahwa lingkungan kerja mereka sudah sepenuhnya bersih dan aman. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Tidak adanya laporan bukan berarti tidak ada kasus sama sekali. Dokumen regulasi tetap wajib dimiliki dan dijalankan secara aktif, walau laporan pelanggaran belum pernah ada.

Bahaya Tidak Ada Mekanisme yang Jelas

Berdasarkan data yang dirilis oleh Never Okay Project tahun 2022, masih banyak tempat kerja tidak memiliki mekanisme yang jelas untuk menangani kasus kekerasan dan pelecehan seksual. 

Sebanyak 34,53% responden menyebutkan bahwa tempat kerja mereka tidak memiliki mekanisme anti-kekerasan dan pelecehan seksual. Lalu 23,53% responden lain bahkan tidak tahu apakah kantor mereka sudah memiliki mekanisme penanganan tersebut atau belum.

Ini berbahaya. Ketidaktahuan dan tidak adanya mekanisme yang jelas akan membuat banyak korban dan saksi memilih untuk diam. Karena mereka tidak tahu ke mana harus melapor dan mendapatkan penanganan.

Belajar dari Tim Audit Haemu

Drakor Filing for Love, di episode 4 bercerita tentang Lim Ha-Kyong (insinyur junior) yang mengalami pelecehan seksual dan intimidasi oleh James (direktur). Korban merasa tertekan dan memilih tidak melaporkan situasinya saat ditanya oleh Jo In-A (Ketua Tim Audit Haemu).

Meski korban sudah mengaku “tidak ada apa-apa”, In-A tetap melakukan penyelidikan sesuai protokol dan kebijakan yang berlaku. Prosesnya dilakukan tanpa membahayakan posisi korban.

Keputusan berani In-A membuat kebijakan yang sudah ada dapat dijalankan dengan efektif. Bukti-bukti berhasil dikumpulkan, pelaku dihukum, dan korban bisa pelan-pelan memulihkan kondisinya dan bekerja kembali.

Kisah ini ingin menunjukkan bahwa, intervensi yang aktif dari perusahaan terbukti mampu menyelamatkan korban sekaligus menjaga integritas organisasi.

Mengapa Mekanisme yang Proaktif Penting

Menyediakan sistem perlindungan yang responsif bukan sekadar bentuk kepedulian terhadap staf, melainkan investasi strategis bagi kelangsungan bisnis. Manfaatnya bagi perusahaan tidak sedikit

  1. Menciptakan keamanan psikologis (psychological safety). Artinya karyawan dapat bekerja dengan tenang tanpa diliputi rasa cemas akan keselamatan dirinya.

  2. Meningkatkan produktivitas karyawan dan tim. Lingkungan kerja yang sehat dan bebas dari intimidasi serta tentunya, berdampak positif pada performa kerja.

  3. Membangun budaya kerja yang sehat dan berkelanjutan. Ini mungkin terjadi karena adanya nilai-nilai profesionalisme dan saling menghormati yang mengakar dengan kuat di ekosistem perusahaan.

  4. Menjaga dan meningkatkan reputasi bisnis. Berbisnis di era digital membuat perusahaan yang berkomitmen pada isu kemanusiaan memiliki daya tarik tinggi (employer branding) di mata pelamar kerja dan investor.

  5. Mitigasi risiko krisis manajemen dan public relations (PR). Memiliki SOP penanganan internal mencegah meluasnya kasus menjadi skandal publik, sekaligus memupuk kepercayaan publik pada penanganan perusahaan.


Sinergi Dua Arah untuk Ciptakan Mekanisme Proaktif dan Efektif

Mekanisme, sebaik apapun, tidak mungkin berjalan efektif, kalau pelaksananya bingung dan ciut.

Mengadaptasi panduan global dari International Labour Organization (ILO), berikut hal-hal yang dapat perusahaan lakukan untuk menciptakan mekanisme anti-kekerasan dan pelecehan seksual yang proaktif dan efektif.

Dari sisi kebijakannya:

  • Mendefinisikan secara tegas apa saja bentuk pelecehan dan kekerasan seksual di tempat kerja yang jelas.
    Mendeklarasikan sikap anti terhadap segala bentuk kekerasan dan pelecehan seksual tanpa toleransi.

  • Menjamin mekanisme pelaporan yang jelas, confidential (rahasia), dan aman bagi pelapor.

  • Memiliki SOP investigasi yang berpihak pada hak-hak korban (victim-centered approach).

  • Mewajibkan penilaian risiko (risk assessment) secara berkala untuk memitigasi potensi pelanggaran.

Dari sisi kesiapan SDM:

  • Mengadakan pelatihan wajib terkait kebijakan anti-pelecehan bagi seluruh lapisan karyawan.

  • Membentuk tim khusus penanganan kasus dan memberikan mereka pelatihan khusus (seperti yang dicontohkan oleh Jo In-A dan Tim Audit-nya).

  • Memberikan pelatihan khusus bagi para manajer, supervisor, dan team leader agar peka mendeteksi masalah.

  • Menjamin adanya akses saluran khusus yang mudah digunakan untuk pelaporan.

Penanganan kasus pelecehan yang tuntas, transparan, dan berpihak pada keadilan terbukti mampu membangun kembali rasa percaya (trust) karyawan terhadap kredibilitas perusahaan. 

Langkah awal memutus rantai kekerasan seksual di tempat kerja dimulai ketika manajemen berani membuka mata, menyusun aturan yang tegas, dan melatih SDM-nya untuk menjadi garda pelindung yang proaktif.

Baca selengkapnya

2 women talking

Artikel

3

min read

Tidak Ada Hack untuk Pemimpin Perempuan

Deborah Vance dalam serial Hacks adalah karakter seorang komedian perempuan yang sukses selama tiga dekade terakhir kariernya. Sebagai pemimpin sekaligus pemberi kerja, Vance jauh dari ideal. Kultur kerja yang cepat dan terkadang toksik di industri hiburan tidak membuat keadaan lebih baik. Sebuah pola yang tidak asing terlihat ketika Vance berani bermimpi lebih besar lagi. Dia kemudian dianggap terlalu ambisius. Sebaliknya, Vance tidak mudah menunjukkan sisi rentannya kepada tim yang Ia pimpin, agar tidak dicap lemah. Perjalanan karier Vance menjadi pengingat atas tantangan yang familiar. Banyak di antara kita yang secara tidak sadar mempertanyakan perempuan di posisi kepemimpinan

Psikolog Madeline Heilman dari New York University mengembangkan kerangka yang ia sebut “lack of fit model”. Menurut model yang pertama kali dikenalkan di tahun 1983 ini, diskriminasi terhadap perempuan berasal dari ketidaksesuaian antara atribut yang dianggap dimiliki perempuan dan atribut yang dianggap diperlukan untuk sukses, terutama dalam posisi dan bidang yang didominasi laki-laki. Dengan kata lain, perempuan dianggap tidak cocok dengan peran kepemimpinan karena stereotip gender bertentangan dengan stereotip pemimpin. Stereotip gender pada umumnya menempatkan laki-laki sebagai pemimpin (take charge) dan perempuan bertanggung jawab untuk kerja-kerja perawatan (take care). Misalnya, laki-laki diharapkan untuk bersikap kuat, tegas, dan asertif. Perempuan dipandang penuh perhatian, emosional, dan komunikatif.  

Dalam penelitian lanjutan Heilman yang melibatkan 242 partisipan dalam 3 eksperimen berbeda, ditemukan bahwa ketika perempuan diakui berhasil dalam pekerjaan yang secara tradisional didominasi laki-laki, mereka dinilai lebih tidak disukai. Perempuan juga lebih banyak mendapat komentar personal yang merendahkan dibanding laki-laki yang mencapai keberhasilan yang identik. 

Fenomena ini kemudian dirangkum oleh organisasi Catalyst dalam laporan 2007 mereka dengan istilah “double bind”, yaitu perempuan pemimpin terjebak dalam situasi di mana mereka kalah di kedua sisi sekaligus. Damned If You Do, Doomed If You Don't. Ketika perempuan bersikap kuat, tegas, dan asertif, mereka dipandang sebagai pemimpin yang kompeten tetapi tidak disukai. Ketika perempuan bersikap penuh perhatian, emosional, dan komunikatif, mereka disukai tetapi dipandang sebagai pemimpin yang kurang kompeten.

Solusi yang paling sering ditawarkan adalah menambah jumlah perempuan, terutama di posisi kepemimpinan. Tapi sosiolog Rosabeth Moss Kanter sudah memperingatkan keterbatasan solusi ini sejak 1977.  Dalam penelitian yang dilakukan sebuah perusahaan Fortune 500, Kanter mengkategorikan perempuan yang menjadi minoritas di bawah 15% dalam sebuah kelompok kerja sebagai “token”. Token mengalami tekanan spesifik akibat proporsi yang timpang, seperti:

  • Visibilitas berlebihan: setiap tindakan dan kesalahan mereka diperhatikan dan dinilai lebih, karena mereka dianggap mewakili seluruh kelompoknya.

  • Asimilasi: didorong menyesuaikan diri dengan peran-peran yang sudah familiar bagi mayoritas, tidak diharapkan membawa cara memimpin yang baru.

  • Kontras dan jebakan peran: diarahkan mengisi stereotip yang sudah tersedia untuk perempuan dibanding dilihat murni sebagai pemimpin.

Di dunia kerja, fenomena double bind memastikan penilaian terhadap pemimpin perempuan timpang sejak awal, terlepas dari gaya kepemimpinan yang dipilih. Tokenisme memastikan kehadiran mereka di posisi puncak sekadar bersifat simbolis, tanpa ada perubahan sistem yang mengakar. Perubahan ini memang tidak bisa diharapkan terjadi dalam waktu singkat. Tetapi, ada beberapa strategi kecil yang mulai bisa dilakukan sehari-hari:

  1. Menginterupsi bias

Angkat bicara jika ada situasi yang melanggengkan stereotip gender negatif

Contoh: jika ada bilang “dia emosional banget” ketika ada perempuan yang bicara, coba arahkan untuk fokus kepada substansi pembicaraannya

  1. Pakai standard yang sama

Tantang cara berpikir dengan menukar jenis kelamin seseorang untuk melihat apakah ada perbedaan standar yang kamu pakai

Contoh: sebelum menanyakan kenapa kolega perempuan bagaimana dia bisa punya ambisi kerja dan mengurus keluarga, cek ke diri sendiri apakah saya akan bertanya hal yang sama kepada lawan bicara laki-laki

  1. Pahami tantangan khusus

Alih-alih menempatkan perempuan pemimpin sebagai token, berusaha untuk lebih peka terhadap hambatan yang dialami dan apa yang pelan-pelan bisa dirubah untuk memastikan lebih banyak perempuan pemimpin berdaya.

Contoh: dalam rapat, perhatikan apakah ide dari perempuan sering dipotong, diulang oleh orang lain dan baru dianggap valid, atau kurang mendapat waktu bicara dibanding rekan laki-laki. Kalau iya, coba secara aktif kembalikan kredit ke pemilik ide aslinya.

Deborah Vance bukan karakter dan pemimpin yang sempurna. Lalu kenapa? Laki-laki pemimpin yang tidak sempurna umumnya mendapat ruang untuk berkembang, gagal, dan mencoba lagi. Perempuan pemimpin yang tidak sempurna lebih sering mendapat pertanyaan apakah mereka seharusnya ada di posisi itu sejak awal. Mari mulai menggeser kebiasaan lama. Jika ada kekurangan dari kepemimpinan seseorang, seharusnya fokus terhadap hal tersebut dan tidak memberikan penilaian berdasarkan jenis kelamin dan stereotip gender.

Baca selengkapnya

MUST READ

Hasil survey 2022

Laporan: Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022 oleh Never Okay Project & International Labour Organization Indonesia

MUST READ

Hasil survey 2022

Laporan: Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022 oleh Never Okay Project & International Labour Organization Indonesia

MUST READ

Hasil survey 2022

Laporan: Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022 oleh Never Okay Project & International Labour Organization Indonesia

MUST READ

Hasil survey 2022

Laporan: Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022 oleh Never Okay Project & International Labour Organization Indonesia

Perkumpulan Kerja Setara untuk Kemanusiaan (Never Okay Project) - Kami mendorong tempat kerja menjadi ruang yang aman, memuliakan kesetaraan dan berdiri untuk keadilan.

Follow kami

Indonesian

ID

© 2026 Never Okay Project (Perkumpulan Kerja Setara untuk Kemanusiaan). All rights reserved. Made by adila

Perkumpulan Kerja Setara untuk Kemanusiaan (Never Okay Project) - Kami mendorong tempat kerja menjadi ruang yang aman, memuliakan kesetaraan dan berdiri untuk keadilan.

Follow kami

Indonesian

ID

© 2026 Never Okay Project (Perkumpulan Kerja Setara untuk Kemanusiaan).

All rights reserved. Made by adila

Perkumpulan Kerja Setara untuk Kemanusiaan (Never Okay Project) - Kami mendorong tempat kerja menjadi ruang yang aman, memuliakan kesetaraan dan berdiri untuk keadilan.

Follow kami

Indonesian

ID

© 2026 Never Okay Project (Perkumpulan Kerja Setara untuk Kemanusiaan).

All rights reserved. Made by adila