Photo Journey
12
min read
Daniel Baskara Putra
Penulis
NEVEROKAY
Diterbitkan pada
5 Nov 2019
“Saat lo pegang mic, lo punya power untuk bikin lingkungan jadi lebih baik”
Baskara Putra, atau yang lewat nama panggungnya disebut sebagai Hindia, adalah seorang lelaki kelahiran 22 Februari 1994. Di umurnya yang 25 tahun saat ini, Baskara terbilang sudah sukses sebagai pemusik nasional yang berhasil melahirkan single-single hits yang diputar di radio-radio besar. Belum lagi musik yang dia ciptakan bersama teman-teman kuliahnya dalam sebuah band bernama .Feast, bisa dipastikan kawula (tidak jarang juga yang tua, seperti ayah dari penulis) yang menyukai genre rock pasti akrab dengan lagu berjudul “Peradaban” dan “Berita Kehilangan” yang terinspirasi oleh pengeboman di Surabaya. Beberapa waktu yang lalu, tim Never Okay Project yang diwakili oleh Fiana dan Imel berkesempatan untuk berbincang dengan Baskara. Mulai dari kesetaraan gender, women empowerment, dan tentu saja pelecehan seksual di industri musik dari sudut pandang laki-laki, terlebih, dari sudut pandang seorang Baskara Putra.

Pernah menjadi pegawai di British Council, Brand Manager di Double Deer, dan Founding Father sekaligus CEO Bagikata, tentu saja Baskara menganggap dirinya pekerja. Saat kami membacakan kondisi pekerja terutama pekerja perempuan di Indonesia. Baskara terkejut mengetahui 43% pekerja perempuan Indonesia mampu mencapai jenjang manajemen senior di perusahaan / ini angka kedua tertinggi di dunia (Women in Business 2018). Sebuah prestasi kecil yang bisa dibanggakan, menurutnya. Ternyata, keterkejutan Baskara berlandaskan cerita rekan-rekannya yang bekerja di US dan mengalami diskriminasi, terutama di industri kreatif. Celetukan-celetukan seperti “Gue gamau director cewe!” pernah terdengar oleh rekannya yang bekerja disana.

Kesetaraan Gender Dalam Kacamata Baskara
Baskara bersekolah di SMA homogen yang sudah menanamkan value-value kesetaraan. Hal ini ia sadari saat kuliah dan menemui mata kuliah gender studies, melihat kebelakang pada masa SMA nya, ia menyadari bahwa sekolahnya dahulu sudah menanamkan nilai-nilai kesetaraan. Penurunan nilai dari seniornya berupa hal-hal kecil seperti tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak baik kepada perempuan.
Baskara tidak menyangka sekolahnya yang homogen tidak membuatnya menjadi seorang yang seksis. Dan saat di dunia perkuliahan, FISIP UI sudah progresif dalam hal kesetaraan. Ia mencontohkan Fiana, yang kebetulan sedang mewawancarai Baskara sebagai contoh. Fiana adalah koordinator Baskara dalam suatu divisi di kepanitiaan saat ia menempuh pendidikan di FISIP UI. Suatu divisi yang sudah dikenal sulit untuk dipimpin oleh seorang perempuan. Namun Baskara menyebutkan bahwa Fiana bisa memimpin divisi tersebut dengan baik dan sukses terlepas dari stigma apapun. Selain Fiana, di banyak divisi lain pun sudah mulai dipimpin oleh perempuan.
Baskara sendiri akhirnya dewasa dengan pandangan bahwa perempuan cocok untuk memimpin. Namun, ia menyayangkan masih banyak teman-temannya dan orang-orang diluar sana yang tidak sependapat dengannya terutama di industri musik ia tekankan. Sampai saat ini ia masih mendengar kalimat-kalimat seperti “Hah serius lo sound engineer lo cewek?”. Jika dihadapkan dengan situasi seperti itu, Baskara selalu memposisikan dirinya untuk mengoreksi pertanyaan tersebut dengan mempertanyakan perbedaan jika sound engineer nya laki-laki. Baskara membalikan pertanyaan dengan mempertanyakan apakah laki-laki bisa mendengar frekuensi lebih tinggi dari perempuan, ataukah perempuan hanya memiliki 8 jari sehingga tidak bisa memegang papan kontrol. Saat ini sendiri, Sound Engineer Baskara menceritakan bahwa sudah banyak perempuan di almamaternya yang mengambil jurusan Sound Engineer, Sound Design, dan jurusan-jurusan yang biasanya didominasi oleh laki-laki.
“Jaman sekarang dunia sudah lebih progresif”, ucap Baskara. Jika ingin berkaca keluar, bahkan di industri global, produser-produser talent-talent besar itu perempuan. Dan yang tidak bisa dipungkiri adalah, jika suatu pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh satu gender dikerjakan oleh gender yang berlawanan, akan membawa perspektif baru di bidang tersebut. Karena pasti ada pengalaman pribadi yang tidak bisa didapatkan sebagai laki-laki atau perempuan, ataupun sebaliknya. Baskara sangat bersyukur bisa tumbuh kembang di lingkungan yang terbuka dan tidak kolot. Karena menurutnya, yang kolot masih sangat banyak.
Perempuan Yang Menginspirasi Baskara
Membicarakan mengenai perempuan yang menginspirasi Baskara, ia langsung menyebutkan nama lengkap General Manager .feast “Rifanda Putri” dan manager Hindia “Melina Anggraini”.
Saat Baskara pertama kali membentuk .feast saat berkuliah di FISIP UI, ia tidak pernah mengatakan bahwa .feast adalah sebuah band rock. Namun tidak disangkal bahwa .feast memiliki image yang sangat keras, dan juga kerap mendapatkan kritik yang sangat keras. Sering pula ada celotehan jenaka bahwa personel .feast adalah target-target operasi polisi. Membawa image sekeras itu dari saat .feast masih berada di kampus, Rifanda berhasil membawa .feast sampai pada sekarang ini. Tahun ini Feast memasuki tahun ke 7 dan Rifanda membuktikan bahwa dia bisa bekerja lebih bagus dari laki-laki. Baskara mengatakan, “apa yang Panda (Rifanda) kerjakan untuk .feast, apa yang Anggra (Melina Anggraini kerjakan untuk Hindia dan .feast, tidak sembarang orang bisa ngerjain dan ini udah gada hubungannya sama gender. Kalo lo bisa ya lo bisa aja, kenapa harus dibedain”.
Selain sebagai manager Hindia, Anggra juga merupakan Stage Photographer. Baskara mengemukakan mengenai jarangnya ia lihat stage photographer seorang perempuan, sedangkan .feast adalah band yang imagenya dibangun oleh Visual Live Photography. Anggra mampu membangun image .feast sampai kepada ia sangat dihormati di industrinya. Bagi baskara, seorang laki-laki diberi tanggung jawab untuk mengatur lima orang laki-laki lain itu sulit. Namun Panda dan Anggra bisa mengatur .feast yang beranggotakan lima orang laki-laki muda dengan sifat yang beragam.
Baskara pernah mendengar sebuah perkataan “dia ga cocok dikasih manager cewe”. Kontan Baskara mempertanyakan “kenapa? Band gue bisa kok, band gue sudah sampai level nasional di-manage sama cewe dari awal”. Menurut Baskara, Panda tidak hanya mendobrak stereotype dengan memegang band musik yang citranya sangat maskulin, namun ia juga mendobrak bahwa seorang perempuan berhijab bisa mengatur sebuah band seperti .feast. Bersama dengan Anggra, Panda berhasil mempererat hubungan antara personel, kru dan pihak lainnya yang terlibat dalam .feast dan Hindia. Baskara sendiri berusaha selalu membela Panda saat kredibilitas Panda atau Anggra dalam pekerjaannya dipertanyakan oleh orang lain.
Menurut Baskara ada ada perbedaan yang signifikan antara seorang bos dan pemimpin. Jika bos adalah sebuah gelar maka orang yang dipimpinnya mengikuti kemauannya karena rasa takut. Panda dan Anggra dalam mata Baskara, adalah team leader. Jika terdapat hal-hal yang tidak disetujui oleh semua pihak Panda akan membuka diskusi bahkan sampai ke perdebatan, namun Panda bisa mengarahkan perdebatan ke arah jalan keluar yang terbaik. Baskara menilai Panda bisa menjalankan tugasnya dengan sukses di industri yang dimana orang bilang pekerjaan ini hanya bisa dikerjakan oleh laki-laki. Baskara pun mengatakan bahwa ia jarang sekali menemukan seorang general manager perempuan yang memegang band dengan genre seperti .feast dan tentunya berpersonel laki-laki semua. Begitu pula dengan para pendengar Feast, mereka telah mengetahui dengan baik Panda siapa. Dan untuk pendengar .feast dan Hindia, Panda dan Anggra adalah figur pemimpinnya.Panda dan Anggra datang kepada .feast membawa sudut pandang yang berbeda dari kelima personilnya. Ada berbagai macam poin yang tidak bisa ditangkap personilnya sebagai laki-laki.
.feast dengan musiknya keras, Baskara sangat menekankan bahwa ia tidak men-grooming toxic masculinity dalam musiknya. Bagi Baskara musik di .feast dan bagaimana .feast itu di grooming bisa bisa membuatnya nge-fans sama Troye Sivan yang seorang homoseksual namun menurut Baskara Troye Sivan lebih cowok dibandingkan beberapa cowok lain.
Pelecehan Seksual Di Tempat Kerja
Baskara bersyukur tidak pernah bekerja dilingkungan yang seksis sebelum ia terjun penuh kedalam industri musik. Namun setelah Baskara mendengar hasil survey Never Okay Project bahwa 94% responden mengatakan pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja membuat ia meragukan pemahamannya selama ini. Yang Baskara takutkan adalah bahwa fenomena tersebut terjadi di lingkungannya tempat dulu ia bekerja namun ia tidak menyadarinya. Baskara mengemukakan bahwa ketidak sadarannya ini bisa dikarenakan ia adalah seorang laki-laki, sehingga kurangnya sensitivitas akan fenomena tersebut bisa terjadi. Baskara berpendapat bukan tidak mungkin karena kuatnya relasi kuasa membuat fenomena yang terjadi tidak sampai terdengar di kupingnya karena sudah diredam oleh kuasa yang lebih kuat.
Beberapa bulan yang lalu, Baskara dengan mengeluarkan sebuah single dengan judul Secukupnya dibawah persona Hindia. Dengan memanfaatkan keikutsertaan pengikutnya di sosial media, Baskara meminta pengikutnya mengirimkan cerita singkat mengenai kejadian sedih yang dialami pengikutnya di sosial media. Baskara tidak menyangka bahwa 10% dari cerita yang masuk menceritakan pengalaman pelecehan seksual di tempat kerja. Salah satu yang cerita yang masuk menceritakan bagaimana ia dilecehkan setiap hari oleh atasannya namun tidak berani menceritakan kepada siapa-siapa karena beberapa alasan, pertama karena malu, kedua karena ia masih membutuhkan pekerjaan dan pendapatan dari pekerjaan tersebut.
Baskara sendiri mengatakan bahwa ia adalah pribadi yang sangat tidak menyukai pelecehan seksual. Ia sering kali merasa tidak nyaman saat mendengar teman-temannya mengeluarkan candaan berbau seksis. Selain itu, Baskara mengaku cukup mengikuti isu gender dan feminis di sosial medianya.
Jika Baskara sebelumnya mengatakan bahwa ia tidak pernah mengalami, menyaksikan atau mendengar fenomena pelecehan seksual di tempat kerjanya terdahulu saat masih bekerja sebagai pegawai korporasi, lain ceritanya pada industri musik dimana tempatnya sekarang berkecimpung secara penuh. Banyak rekan performer perempuan Baskara yang dilecehkan oleh penonton. Baskara sendiri mengatakan bahwa setiap kali ia mendengar kalimat yang berbau pelecehan seksual ia akan tegur langsung dari atas panggung. Pun ia juga tidak segan menegur siapapun yang melontarkan komentar seksis di kanal digital .feast dengan akun pribadinya (@wordfangs)
Karena buat Baskara pribadi, saat seseorang menjadi role model, sosok untuk orang lain, orang-orang akan memandang orang tersebut, apa yang disuka dan tidak disuka oleh orang tersebut akan dihargai oleh orang-orang yang memandangnya. Baskara sendiri sadar dari 100% orang yang mengikutinya, kemungkinan yang sadar akan isu pelecehan seksual hanya 40% sampai 60%. Sampai saat ini Baskara terus berupaya untuk meningkatkan angka tersebut.
Dari pengalaman baskara bertahun-tahun bekerja di industri musik dan industri korporat. Baskara mengatakan bahwa paling terasa jelas adanya fenomena pelecehan seksual adalah di industri musik. Baskara mengingat, industri korporasinya terdahulu memiliki lingkungan dengan orang-orang yang berpendidikan sehingga tidak terasa adanya pelecehan seksual dibandingkan di industri musik yang sangat bervariasi tingkat pendidikannya.
Terlebih jika acara musik gratis, seperti yang pernah Fiana datangi sekitar 1 bulan yang lalu disaat .feast juga berpartisipasi dalam acara tersebut. Penonton Feast tidak hanya dari kalangan laki-laki, perempuan pun banyak yang menikmati lantunan yang konon katanya terlalu keras untuk perempuan. Dan menjadi perhatian Baskara ketika banyak pendengarnya yang bercerita melalui kanal digital bahwa mereka merasa tidak aman saat menonton Feast. Ancaman datang mulai dari rusuhnya penonton, dilecehkan dengan berbagai cara (dipegang, digesek, dan dihimpit). Bagi Baskara sendiri, Kelelawar (fanbase .feast) justru membantunya untuk melindungi pendengar-pendengar perempuan yang sulit mempertahankan diri saat berada di kerumunan penonton. Karena Kelelawar merasa dititahkan untuk menjaga situasi agar kondusif dan tidak ada korban dari para penonton .feast. Namun baskara masih merasakan untuk melawan hal tersebut sangat lah sulit. Dengan pengikut instagram Feast yang hampir mencapai 40.000 akun pengikut, Baskara tidak bisa memastikan siapa yang akan datang ke acara musik yang ia ikuti dan tidak bisa menjamin bahwa yang datang adalah benar-benar pendengar setianya yang ia sudah yakin tidak akan melakukan tindakan yang ia tidak sukai. Yang kalaupun Baskara beritahu dari atas panggung pun mereka tidak akan mendengarkan karena orang-orang tersebut datang bukan untuk Feast.
Tidak hanya terjadi kepada penonton perempuan, Baskara juga menjadi korban pelecehan seksual ketika sedang bekerja di atas panggung. Ia sering merasakan ada tangan tangan jahil yang menyentuh bagian tertentu dari tubuhnya saat melakukan crowd surf. Baskara pun kerap terjebak dalam perasaan serba salah saat dihadapi dalam situasi tersebut jika yang melakukan adalah perempuan. Lagi-lagi yang bisa baskara lakukan adalah memberikan pengertian secara halus dan pantas kalau hal tersebut tidak benar untuk dilakukan.
Baskara menceritakan bahwa rekan-rekan perempuannya yang berada dalam band pun sering kali menemui komentar yang mengecilkan peran mereka seperti: “seneng deh ada kak X dan kak Y main, jadi pemanis di panggung”. Komentar tersebut tentu sangat menyinggung musisi perempuan telah mencurahkan energi dan usaha yang sama dalam memproduksi lagu-lagu yang sama dengan rekan-rekan laki-laki di dalam band itu.
Dalam sosial media, kedekatan Baskara dengan para pengikutnya yang disebut kelelawar patut diacungi jempol. Tidak hanya sekedar berinteraksi, Baskara sering memberikan informasi, masukan dan juga peringatan jika pengikutnya melakukan hal yang tidak-tidak saat Baskara berada di panggung. Masing-masing musisi memiliki fokus khusus ketika memberikan peringatan kepada penontonnya, salah satu contoh yang disebutkan Baskara adalah Iga (Barasuara) yang lebih berfokus pada etika saat menonton suatu pertunjukan. Baskara sendiri menekankan bahwa setiap musisi yang waras pasti paham mengenai masalah seksisme di dalam lingkungan musik.
Baskara mengatakan,“Buat gua, yang punya power buat ngomong dan punya power buat ngebenerin relasi antara penonton ke penonton, penonton ke performer, ya musisi yang pegang mic, karena siapa yang lagi yang mau ngedengerin. Karena buat gua, ini dalam konteks musik ya, saat lo pegang mic, lo punya power lebih tinggi dari siapapun yang ada disitu. Makanya itu yang bikin gue ngerasa bertanggung jawab buat bikin lingkungan gue jadi lebih baik”.
Baskara mengakui ia marah dan geram saat mendapatkan laporan bahwa ada salah satu penonton Feast perempuan yang menangis seusai pertunjukan karena dilecehkan saat menonton Feast.
Namun baskara tidak memungkiri masih banyak performer yang seksis dan tidak paham bahwa isu ini nyata berada di industri musik. Isu ini sering kali luput dan disepelekan. Baskara mengatakan permasalahan ini mulainya dari akar rumput, dan tidak semua orang di industri ini, apalagi penikmatnya, mengerti isu ini. Yang bisa Baskara lakukan saat ini adalah dengan menyederhanakan konsep dengan menyampaikan mana yang baik dan boleh dilakukan saat menonton pertunjukan, dan mana yang buruk dan tidak boleh dilakukan saat menonton performer mana pun.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, dalam video musik Secukupnya yang dinyanyikan oleh Hindia terdapat satu cuplikan kalimat yang berbunyi “Gue dilecehin bos gue setiap hari.” Baskara menjelaskan alasan kenapa ia memasukan kalimat tersebut. Baskara ia ingin pendengarnya melihat bahwa masalah tersebut nyata dan dirasakan oleh beberapa orang. Selain itu, esensi dari lagu Secukupnya sendiri adalah kegelisahan, masalah dan kesedihan seorang Baskara yang tidak berani ia ceritakan ke orang lain karena satu dan lain hal. Oleh karenanya, ia mengharapkan dengan video musik Secukupnya, bisa mendorong pendengarnya dan orang-orang yang sedang bermasalah menceritakan masalahnya dan tidak menyerah karenanya.
Baskara mengemukakan bahwa untuk mengatasi isu pelecehan seksual di tempat kerja, dibutuhkan suatu gerakan yang kuat dan konsisten yang dilakukan cukup lama untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Jika di negara maju saja sulit menerapkan hal tersebut bagaimana di Indonesia, yang kalau kata Baskara sorry to say nih, yang masyarakatnya masih ada yang memandang kalau perempuan lebih rendah dari laki-laki. Dimana perempuan sudah didikte untuk hanya memasak dan dirumah.
Harapan Baskara
Baskara mengharapkan bagi orang-orang di belakang mic yang mempunyai power untuk berbicara di industrinya memiliki kompas moral yang bisa dibagikan ke penontonnya, tidak hanya musik atau hasil karya seninya saja. Musik memiliki kekebalan komunikasi dimana lewat musik, kritik sosial bisa dilontarkan sebagai bentuk opini dan mendorong pendengarnya memahami sudut pandang lain dari suatu isu. Pendengar tidak harus selalu setuju tapi setidaknya opini tersebut tersampaikan.
Artikel lainnya

Artikel
4
min read
Pura-pura Baik-baik Saja: Tentang Kesejahteraan Dosen di Indonesia
Dosen selama ini keliatan kayak enggak ada masalah, jangan-jangan karena kita denial. Kita pura-pura baik-baik aja. Jadi kayak (butuh) kesadaran bahwa kita nggak baik-baik aja, kesadaran bahwa ada yang perlu berubah, kesadaran bahwa kita adalah kelas pekerja yang sangat mungkin tertindas dalam relasi pemenuhan kerja kita.” – Nabiyla Risfa Azzati, perwakilan Tim Riset Kesejahteraan Dosen(2023)

Profesi dosen yang dianggap menjanjikan ternyata tidak menjamin kesejahteraan pekerja. Survei dari Tim Kesejahteraan Dosen menunjukkan bahwa masih ada dosen yang tidak puas dengan gaji yang didapat. Riset ini dirilis dalam rangka Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional 2023.
Survei oleh Tim Riset Kesejahteraan Dosen (UGM-UI-Unram, 2023) ini menunjukkan bahwa 42,9% dosen bergaji dibawah Rp3 juta. Sekitar 35% dari mereka merasa pendapatan bulanan mereka tidak sesuai dengan beban kerja dan kualifikasi sebagai dosen. Apalagi, hampir sepertiga dari responden mengaku mengeluarkan biaya hidup per bulan sebesar Rp3-5 juta.
Tidak Semua Dosen Hidup Sejahtera
Perwakilan Tim Riset Kesejahteraan Dosen, Nabiyla Risfa Azzati, menyatakan bahwa riset ini menunjukkan fakta bahwa masih banyak dosen yang tidak sejahtera. Dosen hukum ketenagakerjaan di UGM itu menilai bahwa lebih dari 40% dosen bergaji di bawah Rp3 juta adalah red flag.
“Ini bicara tentang sebuah profesi yang di satu sisi dia membutuhkan kualifikasi sangat tinggi untuk bisa masuk sehingga barrier-nya sangat tinggi, di sisi lain profesi ini juga menjadi tulang punggung dari penciptaan pengetahuan,” tegas Nabiyla saat ditemui tim Never Okay Project (NOP).
Isu Kesejahteraan Dosen yang Jarang Dibicarakan
Nabiyla mengungkapkan bahwa kesejahteraan dosen jarang diangkat. Inilah mengapa riset dibuat: menjadikan isu ini mainstream sehingga pihak yang bersangkutan bisa lebih terbuka dan mengakui bahwa ada permasalahan.
“Karena kalau kita bisa mengakui ada permasalahan, kan kita bisa mulai dari situ, kita bisa mencari solusinya bareng. Kalau ngakuin ada masalah aja enggak, sulit sekali kan kita bisa,” tutur dia.
Nabiyla menyadari bahwa pembahasan gaji masih dianggap tabu, terutama untuk profesi dosen, yang dianggap mulia dan memberikan status sosial tertentu. Ia pun mengakui bahwa tak sulit mencari dosen yang sejahtera. Namun, bukan berarti harus menutup mata pada 42,9% responden yang bergaji tak sampai Rp3 juta.
“Kalau misalnya kehidupan saya yang dijadikan contoh, dosen itu baik-baik saja. Cuma yang dosen itu nggak cuma saya, ada banyak sekali orang yang ternyata tidak baik-baik saja,” tutur dia.
Dosen tak Lagi Menjadi Pilihan Karier Menarik
Hasil riset ini juga seakan menjawab adanya asumsi yang menyatakan bahwa menjadi dosen bukan lagi pilihan menarik. “Bagaimana kemudian kita bisa menarik seseorang yg berkualitas untuk bekerja di sebuah profesi yang di masa-masa awalnya tidak bisa memberikan kesejahteraan. Like it’s impossible,” kata dia.
Nabiyla juga menyinggung angka pengunduran diri dari CASN (Calon Aparatur Sipil Negara) Dosen yang cukup tinggi. Hal ini menandakan ada sesuatu yang salah.
“Itu kan sebenarnya menunjukkan bahwa there’s something wrong, kita tidak menghargai orang-orang yang sebenarnya mau mendedikasikan waktunya untuk penciptaan pengetahuan di Indonesia,” terang dia.
Baca juga: Kekerasan Terhadap Jurnalis: Mulai Dari Seksual Hingga KBGO
Standar Gaji Dosen yang Ideal
Membicarakan upah dosen yang ideal cukup rumit. Pasalnya, patokan kelayakan upah di Indonesia mengacu pada upah minimum, yang dalam hal ini adalah standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Namun, konteks ini dinilai kurang tepat jika berbicara soal upah dosen.
“Kenapa? Karena pertama, barrier untuk menjadi dosen itu tinggi sehingga ini harusnya dilihat sebagai sebuah profesi yang harusnya tidak dihargai bare minimum,” terang Nabiyla.
Ia membandingkan dengan negara-negara lain yang mana kebanyakan tidak menghargai gaji dosen dengan upah minimum. Alasannya karena gaji dosen di sana dinegosiasikan. Di Indonesia, negosiasi berbasis sektor itu nyaris tak ada sehingga Tim Riset Kesejahteraan Dosen juga tak bisa menjawab bagaimana memberikan standar ideal bagi dosen.
Membandingkan Gaji Dosen dengan Negara Tetangga
Tim Riset Kesejahteraan Dosen mencoba membandingkan gaji dosen di Indonesia dengan negara tetangga yang sepadan, yaitu Malaysia dan Thailand. Hasilnya cukup mencengangkan. Rata-rata gaji dosen di Malaysia adalah Rp 20-25 juta dan Thailand Rp 38-42 juta. Nabiyla mengungkapkan awalnya tim merasa angka tersebut tak cocok untuk pekerjaan ini karena terlalu tinggi. Namun ternyata, permasalahan utama adalah Indonesia tak memiliki standar gaji dosen.
“Harusnya perbandingan Malaysia dan Thailand bukan perbandingan yang sangat jauh, tapi melihat kita yang sekarang enggak punya standar ya, kalau misal disuruh presentasi di Kemendikbudristek, bisa diketawain kita. Aneh juga saking kita enggak punya standar, kita sampai takut menyebutkan sebuah angka yang sebenarnya nggak tinggi-tinggi banget juga, sebenarnya normal-normal aja,” beber Nabiyla.
Dosen juga Buruh: Berjuang agar tak Tertindas
Hasil survei Tim Riset Kesejahteraan Dosen juga menunjukkan bahwa profesi dosen adalah buruh. Oleh karena itu perlu berjuang agar tak tertindas.
“Mau dibilang kita pekerja profesional lah, kita pekerja kerah putih lah, kita produsen pengetahuan lah, apapun namanya, at the end of the day, kita itu buruh, kita itu pekerja,” ucap Nabiyla.
Sumber:
Tim Riset Kesejahteraan Dosen. (2023, May 4). Berapa gaji dosen? Berikut hasil survei nasional pertama yang memetakan kesejahteraan akademisi di Indonesia. The Conversation. https://theconversation.com/berapa-gaji-dosen-berikut-hasil-survei-nasional-pertama-yang-memetakan-kesejahteraan-akademisi-di-indonesia-203854 diakses pada 21 Mei 2023.
Wawancara dengan perwakilan Tim Riset Kesejahteraan Dosen, Nabiyla Risfa Azzati. 17 Mei 2023.
Penulis: Yanti Nainggolan
Editor: Imelda
Baca selengkapnya

Artikel
6
min read
Hari AIDS Sedunia: Maraknya Diskriminasi ODHA di Dunia Kerja
1 Desember merupakan Hari AIDS Sedunia. Sayangnya, stigma Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) masih melekat kuat di masyarakat, tak terkecuali di dunia kerja. Banyak dari teman kita yang kehilangan akses pekerjaan sejak awal akibat aturan perusahaan yang diskriminatif. Alasannya bermacam-macam, mulai dari khawatir tak produktif sampai takut tertular.
ODHA tak perlu dikasihani, melainkan dirangkul agar tetap berdaya. Lawan stigma HIV/AIDS bisa dimulai dengan mengedukasi diri, lho, jadi silakan baca artikel ini sampai habis, ya!
Hari AIDS Sedunia: HIV/AIDS di Indonesia dalam Angka
Layaknya Hari AIDS Sedunia yang diperingati tiap tahun, angka kasus HIV/AIDS di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Epidemi HIV/AIDS di Indonesia berlangsung sejak 1987. Kasus HIV/AIDS tersebar di 34 provinsi dan 308 (61%) dari 504 kabupaten/kota. Berdasarkan data WHO tahun 2019, terdapat 78% infeksi HIV baru di regional Asia Pasifik.
Menurut data Kemkes RI, jumlah pemeriksaan tertinggi tercatat pada tahun 2019 yaitu sebanyak sekitar 4.1 juta pemeriksaan HIV dan 50,282 di antaranya merupakan HIV positif. Berdasarkan gender, mayoritas ODHA berjenis kelamin laki-laki. Faktor risiko AIDS terbesar adalah heteroseks (70%) dan homoseks (22%). Jumlah kasus AIDS yang terdapat di tahun 2019 sebesar 7,036 kasus.
Pada akhir tahun 2020, UNAIDS melaporkan jumlah ODHIV di Indonesia sebanyak 540,000 orang. Pada tahun ini tercatat 28,000 kasus baru ODHIV. Data menunjukkan, 66% ODHIV tahu mengenai kondisi mereka dan 26% ODHA mendapatkan akses terapi Anti-Retroviral (ARV). Sejak 2010, angka persentase ODHA yang mendapatkan terapi ARV terus meningkat.
Baca juga: Hasil riset oleh Never Okay Project mengenai Pelecehan dan Kekerasan Seksual di Lingkungan Kerja
Hari AIDS Sedunia: Diskriminasi terhadap ODHA di Dunia Kerja Masih Terus Terjadi
Walaupun angka ODHA yang menerima terapi ARV terus meningkat, namun tidak mengurangi diskriminasi yang diterima. Menurut UNAIDS, pada tahun 2019, 12.2% ODHA melaporkan bahwa mereka mendapatkan diskriminasi dari lingkungan sekitar mereka.
Tanpa persetujuan dari ODHA yang bersangkutan, orang-orang di sekitar mereka melaporkan status kesehatan kepada tenaga medis. Hal ini kemudian berdampak buruk terhadap hidup ODHA.
Bagaimana kerentanan diskriminasi ODHA di dunia kerja?
Lima kerentanan diskriminasi ODHA di dunia kerja yang patut kita ketahui:
Diskriminasi langsung, misalnya memecat pekerja hanya karena status HIV-positif
Diskriminasi tidak langsung, misalnya melalui syarat kerja bebas HIV
Diskriminasi asosiatif, misalnya seseorang dijauhi karena berhubungan dengan ODHA
Pelecehan, melalui tindakan yang merendahkan martabat ODHA
Menyalahkan korban, apabila ODHA korban diskriminasi melapor pada HRD. Bukan keadilan yang didapatkan, namun malah disalahkan oleh pihak HRD.
Bagaimana stigma dan tekanan mental terhadap ODHA?
Selain stigma masyarakat, ODHA juga memiliki tekanan atau reaksi psikososial pada dirinya, yaitu:
Kecemasan tentang penyakit yang diderita, pengobatan, bahkan ancaman kematian
Depresi, merasa sedih, tak berdaya, bersalah, tak berharga, putus asa, hingga keinginan bunuh diri karena status HIV/AIDS-nya
Isolasi dan kurangnya dukungan sosial, merasa ditolak keluarga dan masyarakat
Rasa marah dengan bersikap bermusuhan terhadap pemberi perawatan dan menolak terapi ARV karena kurangnya penerimaan diri
Rasa takut apabila ada orang lain yang mengetahui status HIV/AIDS-nya
Rasa malu akibat stigma negatif pengidap HIV/AIDS
Baca juga: Artikel lain terkait Pelecehan Seksual di Lingkungan Kerja
Bagaimana peran edukasi untuk memerangi stigma ODHA di dunia kerja?
“Tapi, kalau dekat ODHA nanti tertular.”
Faktanya, HIV tidak menular melalui sentuhan, air mata, keringat, air liur, urin bahkan feses pengidapnya. Menurut WHO, HIV dapat ditularkan melalui pertukaran berbagai cairan tubuh dari orang yang terinfeksi, seperti darah, ASI (Air Susu Ibu), semen dan cairan vagina.
HIV juga dapat ditularkan dari seorang ibu ke anaknya selama kehamilan dan persalinan. Ingat, kita tidak akan tertular hanya karena memeluk, mencium, berjabat tangan, dan berbagi peralatan makan dengan ODHA.
Salah kaprah mengenai stigma ODHA juga terlihat di dunia kerja. Banyak perusahaan menetapkan syarat kerja bebas HIV dan melakukan PHK terhadap pekerja dengan HIV/AIDS karena mitos bahwa ODHA itu lemah dan sakit-sakitan sehingga akan memengaruhi produktivitas.
Faktanya, dengan melakukan terapi ARV, ODHA dapat menjalani kehidupan produktif dan berkontribusi seperti orang lain pada umumnya. ARV terbukti menekan jumlah virus HIV dalam tubuh dan memulihkan sistem kekebalan tubuh.
Apakah memecat ODHA karena status HIV+ melanggar hukum?
Ya. Mirisnya, masih banyak ODHA yang mengalami PHK karena status HIV/AIDS-nya. Padahal ini melanggar HAM dan hukum:
Pasal 5 ayat (1) Kep. 68/MEN/IV/2004: “Pengusaha atau pengurus dilarang melakukan tes HIV untuk digunakan sebagai prasyarat suatu proses rekrutmen atau kelanjutan status pekerja/buruh atau kewajiban pemeriksaan kesehatan rutin.”
Konvensi Internasional tentang Ekonomi, Sosial, dan Budaya Pasal 2 ayat (2) dan (3) – diratifikasi lewat UU No. 11 tahun 2005: Melarang segala bentuk diskriminasi dalam mengakses dan mempertahankan pekerjaan.
Bagaimana seharusnya perusahaan melindungi ODHA?
Malah, pengusaha harus punya kebijakan penanggulangan HIV/AIDS. Menurut Kep. 20/DJPPK/VI/2005 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja, kebijakan pengusaha meliputi:
Program pendidikan HIV/AIDS bagi pekerja
Tidak mewajibkan tes HIV/AIDS sebagai prasyarat penerimaan pekerja, promosi, dan kelanjutan status kerja
Tidak membedakan pekerja dengan HIV/AIDS dalam hal mendapatkan kesempatan kerja, hak mendapatkan promosi, hal untuk mendapatkan pelatihan ataupun kondisi, dan perlakuan khusus lainnya
Mengizinkan pekerja dengan HIV/AIDS untuk terus bekerja selama pekerja secara medis mampu memenuhi standar kerja yang berlaku
Merahasiakan semua informasi medis, catatan kesehatan atau informasi lain yang terkait
Pekerja dengan HIV/AIDS tidak diharuskan menginformasikan status HIV/AIDS-nya kepada perusahaan, kecuali atas keinginan sendiri.
Dengan demikian, keamanan dalam bekerja akan dirasakan seluruh pekerja Indonesia. Untuk konteks isu HIV, rasa aman tersebut dapat berupa lingkungan kerja yang ramah dan bersih dari stigma dan diskriminasi. Dampak positif terhadap perkembangan ekonomi juga akan dirasakan oleh pemerintah Indonesia karena tingginya partisipasi angkatan kerja.
Yuk, rayakan Hari AIDS Sedunia dengan dukung penghapusan stigma pada ODHA di dunia kerja!
Referensi:
Indonesia. UNAIDS. (2021). Diakses pada December 3, 2021, dari https://www.unaids.org/en/regionscountries/countries/indonesia.
Infodatin HIV. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Diakses pada December 3, 2021, dari https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-2020-HIV.pdf.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP. 68/MEN/IV/2004 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja. ILO. (2005). Diakses pada December 3, 2021, dari https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/—asia/—ro-bangkok/—ilo-jakarta/documents/publication/wcms_123956.pdf.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. UNAIDS. (2004). Diakses pada December 3, 2021, dari https://data.unaids.org/topics/partnership-menus/indonesia_hiv-workplace_id.pdf.
Menuju Indonesia bebas AIDS 2030. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. (2020). Diakses pada December 3, 2021, dari https://www.kemenkopmk.go.id/menuju-indonesia-bebas-aids-2030.
Permata, A. (2018). Yang Dibutuhkan Itu #SayangODHA, Bukan Stigma. LBH Masyarakat. Diakses pada December 3, 2021, dari https://lbhmasyarakat.org/yang-dibutuhkan-itu-sayangodha-bukan-stigma/.
Program HIV/AIDS di Dunia Kerja. ILO. (2020). Diakses pada December 3, 2021, dari https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/—asia/—ro-bangkok/—ilo-jakarta/documents/projectdocumentation/wcms_746744.pdf.
Tristanto, A. (2020). Stigma Terhadap Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA). Pusat Penyuluhan Sosial. Diakses pada December 3, 2021, dari https://puspensos.kemensos.go.id/stigma-terhadap-orang-dengan-hiv-dan-aids-odha.
UNAIDS data 2021. UNAIDS. (2021). Diakses pada December 3, 2021, dari https://www.unaids.org/en/resources/documents/2021/2021_unaids_data.
Penulis: Sasmithaningtyas Prihasti
Baca selengkapnya

Artikel
3
min read
Kekerasan terhadap Jurnalis: Mulai dari Seksual hingga KBGO
Kasus pelecehan seksual yang terjadi beberapa waktu lalu terhadap anggota KPI membuka mata bahwa pelecehan juga terjadi di dunia media, termasuk kasus kekerasan terhadap jurnalis. Dunia jurnalisme, terutama jurnalisme investigatif dan hard news, merupakan dunia maskulin yang identik dengan kekerasan, termasuk kekerasan seksual.
Kekerasan terhadap Jurnalis dalam Angka
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) melakukan riset pada akhir tahun 2020 untuk melihat kekerasan seksual yang terjadi para jurnalis. Dari kuesioner yang diisi oleh 34 responden – 31 perempuan dan tiga laki-laki – terkuak bahwa 85% (25 orang) diantaranya pernah mengalami kekerasan seksual, bahkan satu orang bisa mengalami lebih dari satu jenis kekerasan seksual.
Temuan ini tidak jauh beda dari hasil riset yang dilakukan oleh the International Center of Journalists dan UNESCO. Riset mereka terhadap 714 jurnalis perempuan di 113 negara pada akhir tahun 2020 lalu menunjukkan hampir 75% jurnalis perempuan pernah mengalami kekerasan siber yang termasuk pelecehan seksual.
Kekerasan siber yang diantaranya terjadi di media sosial ini bahkan dapat berujung pada pembunuhan.
Apa saja ancaman siber yang dialami jurnalis perempuan?
Ada tiga jenis ancaman siber yang dialami oleh jurnalis perempuan, yaitu
Pelecehan dan kekerasan misoginistik
Kampanye kotor atau disinformasi yang mengeksploitasi naratif misoginistik
Serangan privasi dan keamanan digital yang meningkatkan resiko fisik yang berhubungan dengan kekerasan siber
Ketiganya berujung pada tujuan yang sama; merusak reputasi jurnalis perempuan dengan merendahkan kredibilitas dan mempermalukan mereka, serta mengurangi jurnalisme yang mengkritik.
Bagaimana kekerasan misoginis yang dialami jurnalis perempuan?
Kekerasan misoginis yang dialami jurnalis perempuan diantaranya ancaman kekerasan seksual, perkosaan, dan pembunuhan, termasuk ancaman pada putri, saudara perempuan, atau ibu mereka. Jenis lainnya adalah kata-kata kasar dan hinaan terhadap penampilan dan profesi mereka untuk menurunkan percaya diri.
Secara langsung (offline), kekerasan misoginistik pernah dialami reporter CTV Kanada, Krista Sharpe, saat sedang syuting di Kitchener, Ontario. Seorang pria dalam sebuah mobil yang melintas meneriakinya dengan kata-kata kasar.
Apa bentuk kampanye kotor yang menyasar jurnalis perempuan?
Jurnalis perempuan juga kerap menjadi sasaran kampanye disinformasi digital, seperti menuduh bahwa mereka melakukan kesalahan profesi, menyebar hinaan tentang karakter mereka untuk merusak reputasinya, serta representasi yang penuh kebencian seperti menyebarkan video porno palsu, memes yang menghina, atau gambar yang dimanipulasi.
Jurnalis yang melakukan investigasi sering menghadapi ancaman penurunan privasi melalui malware, hacking akun media sosial, penyebaran informasi pribadi (doxing), dan penyamaran untuk mendapat informasi pribadi (spoofing).
Berkurangnya privasi ini memperbesar ancaman fisik bagi mereka karena diungkapnya identitas mereka seperti tempat tinggal, alamat kantor, dan pola pergerakan.
Maria Ressa: Penyintas Kekerasan terhadap Jurnalis
Beberapa jenis kekerasan siber itu pernah dialami Maria Ressa, CEO Rappler yang bulan Oktober lalu mendapat anugerah Nobel perdamaian. Sebagai jurnalis terkemuka yang tidak segan-segan menyuarakan kritik di bidang politik, Maria tidak luput dari tindakan tidak menyenangkan dari pihak-pihak yang tidak setuju dengannya.
Dia kerap menjadi sasaran ancaman perkosaan dan pembunuhan yang disampaikan secara siber, serta menjadi subyek kampanye tagar untuk mendiskreditkan dirinya dan Rappler. Tahun lalu Maria bahkan divonis bersalah atas tuduhan fitnah siber terhadap pemerintah Presiden Rodrigo Duterte.
Apa dampak kekerasan terhadap jurnalis bagi dunia jurnalisme?
Berbagai jenis kekerasan terhadap jurnalis perempuan ini memberi dampak negatif secara personal maupun sistemik terhadap dunia jurnalisme. Secara personal, jurnalis perempuan menjadi takut meliput di garis depan.
Demi keamanan, mereka terpaksa memilih untuk menghindari percakapan daring mengenai suatu isu, bahkan berhenti dari profesinya sebagai jurnalis.
Tanpa tindakan untuk menghentikan kekerasan terhadap jurnalis perempuan, maka jumlah jurnalis perempuan akan berkurang, sementara mereka yang tetap bertahan akan menurun kepercayaan dirinya untuk membahas hal-hal kritis secara daring.
Dengan berkurangnya jurnalis perempuan, ekosistem jurnalistik menjadi tidak sensitif gender, semakin bersifat maskulin dan tidak ramah perempuan.
Penulis: Sari Idayatni
Baca selengkapnya

