Dhyta Caturani

“Kasus-kasus pelecehan seksual di tempat kerja adalah kasus-kasus yang paling jarang terdengar. Ini harus dibongkar!”

Minggu lalu, tim Never Okay bertemu dengan Dhyta Caturani, aktivis HAM dan kesetaraan gender yang sudah malang melintang dalam gerakan-gerakan untuk menghapuskan berbagai ketidak-adilan sosial.

Bekerja di industri tekhnologi, Dhyta menyuarakan betapa masih kentalnya diskriminasi dan seksime di industri yang sudah lama terafiliasi dengan dominasi laki-laki itu. Kepada kami, Dhyta juga memberikan pandangannya perihal isu pelecehan seksual di tempat kerja, dan bagaimana menanggapi pelecehan itu sendiri.

Dhyta Caturani

“Seksime dan diskriminasi masih sangat kental.” Berdasarkan pengalamannya, Dhyta masih melihat diskriminasi terhadap perempuan di dunia kerja. Hal ini dimulai dari sulitnya perjuangan perempuan untuk mendapatkan promosi kenaikan jabatan. Mirisnya, meski telah menempati posisi tertentu, tidak menjamin perempuan pekerja bebas dari perlakuan diskriminatif. “Perempuan harus membuktikan dia jauh lebih baik untuk bisa dipromosikan. Tetapi, ketika perempuan sudah ada di posisi manajemen, apakah dia mendapatkan hal yang sama seperti kolega laki-laki di posisi sama? Pada kenyataannya tidak.” Disini, Dhyta menekankan adanya kesenjangan upah dan perakuan terhadap laki-laki dan perempuan.

Perihal pelecehan seksual di tempat kerja, Dhyta meyakini bahwa ada normalisasi atas beberapa bentuk pelecehan seksual di lingkungan kerja yang tentu menjadi berbahaya jika dibiarkan terus berkembang. “Bahwa nyolek, meluk itu bukan pelecehan, it’s a way to show affection. Tapi ga pernah melihat ada sisi korban.” Selain itu, seperti halnya pada kasus pelecehan seksual secara general, seringkali ada banyak pihak yang tidak peduli dan percaya bahwa pelecehan seksual benar adanya terjadi. Apalagi jika pelakunya adalah orang dengan posisi tinggi dan terhormat. Ketiga, ada ketakutan dari institusi pemberi kerja bahwa jika ada laporan terkait pelecehan seksual yang terjadi akan berdampak buruk pada reputasi mereka.

Dhyta Caturani

Disisi lain, Dhyta melihat masih banyak perempuan yang belum bisa mengidentifikasi pelecehan seksual itu sendiri. “Ketika kita masih kecil, kita ditanamkan bahwa tubuhmu adalah tubuh yang sakral, tidak boleh disentuh. Tapi itu ternyata cuma di-limit soal keperawanan saja, tidak berlaku pada yang lain-lain. Sehingga kita sering tidak bisa mengidentifikasi ini pelecehan atau bukan.” Ini menjadi tugas kita bersama untuk meningkatkan kesadaran kepada masyarakat luas.

Untuk teman-teman di luar sana yang sedang berjuang melawan pelecehan seksual di tempat kerja, Dhyta mengajak kalian untuk mulai bergerak dengan cara mencari “ally”. “Reach out to people, reach out to other woman. Bahkan ketika lo tidak yakin itu pelecehan atau engga, find someone that can confirm you.”

Dhyta juga menekankan pentingnya mengambil peran aktif ketika menyaksikan pelecehan seksual di tempat kerja. “Seringkali korban takut bicara karena merasa dia sendirian. Jadi kalau kita lihat, datangi korban!” Sebagai bystander, keberadaan dan dukungan kita berarti besar untuk penyintas. Tapi, juga perlu diingat untuk berhati-hati dan tidak mendikte teman-teman penyintas. Bersama Never Okay Project, Dhyta mengajak kamu untuk menjadi bagian dari perlawanan untuk mengakhiri pelecehan seksual di tempat kerja! Mari #gerakbersama!

Add a comment

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Dukung Kami!

Dukung Never Okay Project dalam IndoRelawan Awards 2019!

Klik link di bawah ini, dan pilih Never Okay Project pada kategori Organisasi Komunitas.

 

VOTE NOW!

Terimakasih Sudah Mendukung Kami!