“Kok Nggak Ketemu dari Dulu?”

Awal aku di-hire sih enak-enak aja ya. Tapi makin kesini ketenanganku semakin diusik.

Salah satu atasanku suka mengirimkan teks pribadi diluar jam kantor, mulai dari “kamu sudah makan?”, “makan apa nanti malam?”, sampai “mau saya bawain makanan ke kost kamu nggak?”.

Semuanya kujawab dengan jawaban yang sama, “Nggak usah, Pak. Terima kasih”. Singkat, padat, jelas, dan masih sopan. Lama-kelamaan, aku tidak mau dianggap memberi cela. Akhirnya pesan ybs pun tidak pernah kubalas lagi.

Puncaknya dia protes. “Kamu kenapa sih? Marah sama saya? WA online tapi gapernah balas pesan saya?!”. Masih aku abaikan. Beberapa minuggu kemudian dia mengajak aku pulang berdua dengannya. “Pulang bareng yuk, daripada naik angkutan umum. Nggak aman”. Kubalas, “Saya ada janji sama temen, Pak. Gapapa”. Sebisa mungkin aku tolak bahkan dengan cara berbohong.

Atasan saya juga menawarkan posisi baru di tempat kerja. “Di secton saya ada posisi bagus. Lagi butuh orang. Kamu mau nggak? Tapi kamu nanti harus pindah disitu kalo kerja.” Dia menunjuk meja kosong dipojok ruangannya. Sebagai informasi, ruangan tersebut hanya untuk 2 orang saja. Kujawab, “saya pikirin dulu ya pak.” Aku langsung kabur dari kantor, padahal dalam hati, aku benar-benar tidak mau bergabung dengan section dia.

Kupikir cara menghindar itu efektif. Ternyata tidak. Dia bahkan secara terang-terangan berbicara di depan banyak orang, “Ada ya cewek kaya kamu. Saya jadi nyesel buru-buru nikah”.

Karena ucapannya itu akhirnya aku memberanika diri untuk email dia. Di email itu aku protes dengan segala perlakuannya selama ini. Aku minta diperlakukan sebagaimana karyawati lainnya. Tidak perlu dispesialkan.

Dia minta maaf. Namun, delapan bulan kemudian setlah aku mencoba kembali profesional, dia mengulangi hal-hal tersebut. Dia bahka menyebar gosip di penjuru kantor, bahwa aku pernah main ke apartmentnya.

Mengingat harga diriku sudah terancam aku dengan berani berkirim pesan ke dirinya. Aku langsung konfrontasi karena gosipnya juga sudah menyebar kemana-mana.

Guess what?. Dia menyangkal.

Capek berdebat dengan atasan sendiri, akhirnya aku block kontak orang ini dari semua media sosial dan media komunikasi. Walaupun aku tahu betul taruhannya adalah karirku, tapi aku yakin selama aku benar, rezeki pasti tidak akan tertukar.

Mudah-mudahan cerita ini dapat menginspirasi kalian semua untuk berani mengambil tindakan, terlebih jika untuk melindungi diri kita sendiri.

😊

Add a comment

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Cerita Lainnya