Ex-Reporter

Ex-Reporter

5th December 2018 0

Dua kali saya pernah mengalami kejadian gak enak dengan orang yang bekerja di pemerintahan. Pertama memang teman saya yang mengenalkan ke seorang lelaki yang bekerja di sebuah badan pemerintahan. Dia sempat ngajak ke hotel, karena ada curhatan penting soal masalah di tempat kerjanya yang perlu diceritakan. Namun, saya sudah tegaskan dan memperingatkan untuk tidak menyentuh saya atau berhubungan badan. Dia mengiyakan dan berjanji, sekadar ke hotel untuk menceritakan masalahnya.

Namun, ternyata geliat tubuhnya mulai meresahkan. Mulai menciumi tangan saya. Tatapannya berbeda. Ya, bisa dibilang mungkin itu pelecehan seksual mengarah ke percobaan pemerkosaan. Saya tagih janjinya, dia pura-pura menyesal lalu melanjutkan aksinya menikmati tubuh saya. Mungkin tak sedikit orang telah menyalahkan posisi saya karena saya bodoh mengiyakan untuk pergi ke hotel bersama laki-laki yang bekerja di pemerintahan itu. Untung saya bisa kabur, meski dia telah menciumi bibir, menjilati telinga saya secara bertubi-tubi, merogoh payudara, dan memegang bokong saya. Saya trauma setengah mati, tidak berani melihat orang-orang, keramaian, tidak percaya laki-laki lagi.

Kedua kalinya saya bertemu di bandara dengan seseorang yang mengaku anggota DPRD di sebuah daerah di Jatim. Awalnya saya merokok di smoking area bandara, meminta koreknya, lalu berbincang soal pariwisata dengan orang itu. Kemudian kami sempat bertukar nomor ponsel untuk kebutuhan wawancara yang bisa diadakan sewaktu-waktu.
Ketika saya sampai di Jakarta, ternyata orang itu telepon saya dan katanya ia menunggu saya di Hotel Mer****. Hello? Apakah meminjam korek sama dengan kode minta berhubungan badan?

Tak ayal saya bekerja menjadi reporter dengan dinas keluar kota dan dikeliling oleh para lelaki, ada saja satu pria yang modus minta “jajan” ke kamar. Tapi tak sedikit juga pria yang memang asyik diajak
berteman, bertukar pikiran, dan kami pun saling menghormati tanpa curi-curi kesempatan. Saya masih trauma dengan kejadian empat tahun lalu itu. Tapi yang bisa menyelamatkan saya dari rasa trauma itu adalah diri sendiri dan teman yang selalu support saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Latest Stories

Baby Talk

Kantor saya kedatangan seorang bos baru. Dia bapak-bapak yang mungkin kira-kira berusia 40 tahunan. Gue…
Read more

Nyaman di Tempat Kerja?

Aku, staff baru di salah satu NGO yang juga masih berstatus sebagai mahasiswa di salah…
Read more

Ogah Meeting Bareng

Saat ini gue megang proyek iklan di salah satu agensi yang cukup terkenal. Proyek ini…
Read more

Jadi Cowok Gym

Gue tuh bisa dibilang gym-freak ya. Hampir tiap hari abis kelar kantor gue sempetin banget…
Read more

Our Partners

IDC
sinarmas
we act for sdgs
scoop news asia
IBCWE