SAY NEVER OKAY

Helga Worotitjan

Helga Worotitjan

1st May 2018 0

“Paling tidak bertindak, jangan diam”

Tim Never Okay mendapatkan kesempatan bertemu dengan Helga Worotitjan, seorang penyintas, aktivis, maupun pendamping penyintas pelecehan dan kekerasan seksual tepat di tanggal 1 Mei 2018. Helga menceritakan alasan kenapa akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan formalnya dan memilih aktif dalam kerja-kerja sosial, terutama pendampingan penyintas. Bersinggungan langsung dengan industri migas dan tambang, Helga juga berbagi tentang kerentanan perempuan di tengah angka keterwakilan yang sangat tidak seimbang dengan kaum laki-laki.

“Paling tidak bertindak, jangan diam!”

“Di industri migas dan tambang, kerjaan tuh masih dikasih gender” Helga menerangkan bahwa kentalnya konstruksi gender dan pemahaman bahwa perempuan tidak mampu untuk melakukan beberapa jenis pekerjaan dan menempati posisi tertentu. “Kalau perempuan mau berhasil, harus maskulin. Kalau tidak maskulin, karier mandek. Bahkan kalau terlihat terlalu feminin rentan sekali dilecehkan” Ia menambahkan.

Bukan hanya pelecehan verbal, pelecehan dalam bentuk fisik seperti sentuhan-sentuhan disengaja dianggap hal biasa bagi kebanyakan pekerja. “Mempersoalkan pelecehan itu aneh.” ujarnya, tetapi bukan berarti Helga diam saja. Ia memulai dari unitnya, membangun lingkungan kerja yang memungkinkan untuk satu sama lain bercerita jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sudah biasa dicap galak oleh unit dan divisi lain, Helga tetap berprinsip yang terpenting budaya bicara dibangun “Paling tidak bertindak, jangan diam!”. Meskipun akhirnya Ia memilih untuk berhenti bekerja. “Saya keluar kerja karena tidak tahan.”

Setelah aktif dalam pekerjaan sosial dan pendampingan seperti sekarang, Helga ternyata masih mengkhawatirkan keadaan di industri kerja lamanya. Setiap pulang kampung, Ia sering menawarkan ke teman-temannya “Eh, ada yang mau buat Code of Conduct nggak?” katanya menirukan.

Berdasarkan pengalamannya, Ia mengakui pada akhirnya pengadaan peraturan yang spesifik terkait pelecehan seksual sangat dipengaruhi oleh siapa pengampu kepentingan tertinggi di perusahaan itu. “Biasanya kalau perempuan, akan senang kalau ditawari”. Karena itu ia aktif menawarkan pada teman-teman yang sudah mempunyai posisi strategis di perusahaan. “Jangan sampai pelecehan seksual di tempat kerja seakan-akan menjadi pelecehan direncanakan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Latest Stories

Baby Talk

Kantor saya kedatangan seorang bos baru. Dia bapak-bapak yang mungkin kira-kira berusia 40 tahunan. Gue…
Read more

Nyaman di Tempat Kerja?

Aku, staff baru di salah satu NGO yang juga masih berstatus sebagai mahasiswa di salah…
Read more

Ogah Meeting Bareng

Saat ini gue megang proyek iklan di salah satu agensi yang cukup terkenal. Proyek ini…
Read more

Jadi Cowok Gym

Gue tuh bisa dibilang gym-freak ya. Hampir tiap hari abis kelar kantor gue sempetin banget…
Read more

Our Partners

IDC
sinarmas
we act for sdgs
scoop news asia
IBCWE