Liputan Webinar: DCED Women’s Economic Empowerment Working Group

Kali ini Never Okay Project berpartisipasi dalam sebuah Webinar yang diselenggarakan oleh Donor Committee for Enterprise Development (DCED) berjudul “Feminist International Policies in the Time of COVID 19 Perspective from Canada and Sweden”. Berlangsung pada jam 15.00 – 16.15 CEST, diskusi berlangsung interaktif dengan 2 profil pembicara berasal dari Canada, dan 1 profil pembicara berasal dari Swedia.

Pembukaan acara yang tepat waktu dipandu oleh seorang operator dari DCED bernama Aatif Somji. Aatif menyampaikan tentang garis besar pembahasan Webinar, yaitu tujuan dari adanya peraturan tentang feminis, serta melihat peraturan feminis dari kacamata krisis COVID 19 dan krisis lainnya. Setelah itu, Aatif mempersilahkan Shawn Hayes untuk mempresentasikan terlebih dahulu tentang perspektif beliau.

Shawn Hayes adalah seorang senior policies Feminist International Assistance Policy (FIAP). Perspektif dari Kanada mengenai keberadaan assistance policy itu sendiri adalah untuk mendorong kesetaraan gender bagi wanita dan anak-anak, kebebasan berpendapat, berpolitik, dan akses dalam bidang ekonomi. Segala bentuk tujuan tersebut diraih dengan membentuk suatu sistem yang pada dasarnya mencapai kesetaraan gender dan hak asasi manusia dalam bidang, seperti berkolaborasi dengan organisasi, menyebarkan kesadaran sejak dini akan pentingnya kesetaraan gender, dan memberikan dana kepada wanita yang termarjinalisasi.

Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh Reneta Lambreva yang juga senior policies di FIAP Canada. Area aksi FIAP dalam menghadapi pandemi COVID 19 ini adalah berkomitmen untuk membantu wanita yang terdampak dalam bidang ekonomi, seperti memberikan pekerjaan, dan meningkatkan kualitas pekerjaan yang sudah ada. FIAP juga berfokus kepada wanita yang memiliki pekerjaan tidak tetap dengan memberikan pelayanan seperti program penitipan anak secara gratis, jasa transportasi di Yordania, dan masih banyak lain. 

Webinar dilanjutkan dengan pemaparan dari Ulrika Grandin sebagai deputy director di Swedia. Ulrika mengungkapkan bahwa Swedia adalah adalah negara pertama yg memiliki feminist policy, sehingga negara tersebut sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender dan hak asasi manusia. Perspektif Ulrika mengenai feminist policy pun terbagi menjadi 3 pokok yaitu women and girls in right, representation, dan resources. Dan kini mereka tengah melakukan pengembangan untuk strategi baru terkait gender policy yg sedang berkembang untuk menyelesaikan global gap ini. COVID 19 sebagai krisis dunia dipandang oleh Ulrika sebagai kesempatan untuk terus mengembangkan gender policy.

Pada akhirnya ketiga pembicara menyampaikan argumen mereka tentang perspektif feminis di situasi krisis COVID 19. Situasi ini memang sangat merugikan berbagai pihak, tidak terkecuali wanita dan anak – anak. Pekerjaan di sektor non formal seperti pekerja seks komersial pun terganggu sehingga menimbulkan keresahan. Oleh karena itu di masa seperti ini, dukungan serta gotong royong sangat membantu terus meningkatnya perhatian kepada feminis dan hak asasi manusia.

 

Dilaporkan oleh Elsa

Kirim Komentar

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya

#SayaJuga

Berlangganan Nawala Never Okay Project untuk Mendapatkan Kabar Terbaru dari Kami.

Terimakasih telah Berlangganan Nawala Kami! Nantikan Kabar #SayaJuga Setiap Hari Selasa!