KETIKA OMNIBUS LAW FIX, GIMANA NASIB PEKERJA AHENSI?

Beberapa minggu terakhir, Omnibus Law lagi ramai dibicarakan beberapa media nih. Sebagai anak ahensi sih, bacanya cuma sekenanya aja. Kenapa? Ya karena topiknya tentang hukum, undang-undang, dan pemerintahan. Merasa nggak relate sih, tapi tetep pengen up-to-date. Eits, tunggu! Kata siapa ini nggak relate buat anak ahensi? 

Jadi setelah cari tau dan baca-baca, Omnibus Law ini adalah undang-undang yang mengatur dan mencakup berbagai jenis materi muatan yang berbeda-beda. Tujuannya juga menyempurnakan isi UU melalui penyederhanaan, harmonisasi, dan standarisasi. Sebenernya ini sah-sah aja kok dilakukan, tapi yaa balik lagi ke isinya tentang RUU Cipta Kerja, RUU Perpajakan, dan RUU Pemberdayaan UMKM. Omnibus Law ini juga kabarnya ada yang mendukung dan ada yang menolak. Dampaknya juga bisa merugikan para pekerja. 

Trus, kira-kira ada gaksih bagian aturan Omnibus Law yang bikin rugi pekerja ahensi? Ada dong. Kalian yang kerja di ahensi udah sadar kan gimana budaya kerja sehari-harinya? Terus kalau seandainya Omnibus Law ini sah, nasib kita pekerja ahensi ini bakalan….

 

Lembur Makin Ngawur

Kenapa makin ngawur? Kebayang kan sehari-hari aja anak ahensi bisa lembur sampai dini hari. Belum lagi kalau weekend-nya harus dipakai kerja. Dari pihak manajemen sih biasanya udah ada aturan maksimal jam lembur. Nah, kalau Omnibus Law ini tembus, akan ada ketentuan lembur yang sebelumnya maksimal 3 jam sehari menjadi 4 jam sehari, sesuai pasal 78. Gimana? Udah kebayang harus tidur berapa jam sehari belum?

 

Gaji Stuck, Karir ‘No Such Luck

Kalau ngomongin jenjang karir dan naiknya gaji pekerja ahensi, jelas dilihat dari performa dan kontribusi buat perusahaan. Tapi kebanyakan pekerja ahensi sering jadi kutu lompat biar cepet naik jabatan dan gaji. Siapa sangka, angan-angan ini bisa buyar kalau Omnibus Law sah. Kenapa? Ya, karena batasan pekerja kontrak dihapuskan. Pasal 59 di UU Ketenagakerjaan dihapuskan, jadi bisa aja kita dikontrak seumur hidup sama satu ahensi. Oh, nightmare!

 

Sense of Belonging’ Besar, Malah Diputus Sepihak

Selain alasan gaji, beberapa dari kita pilih kerja di ahensi karena brand yang menarik dan challenging kan? Kita beneran bisa bertahan di satu ahensi karena merasa udah ‘gue banget’ brand-nya atau berada di comfort zone karena udah disayang klien. Nah, bayangin pas lagi sayang-sayangnya ini, tiba-tiba kamu di-PHK aka pemutusan hubungan kerja. Padahal kamu udah korbanin banyak hal, merasa nggak diapresiasi tapi malah nggak bisa ngapa-ngapain. Ini akan terjadi kalau Omnibus Law sah, dimana aturan ini menghapus pasal 159 UU Ketenagakerjaan. Padahal aturan sebelumnya bilang kalau buruh punya hak mengajukan banding saat di PHK. 

 

Nasib di atas ini adalah 3 dari 7 poin dampak bagi pekerja kalau Omnibus Law kalau disahkan. Mungkin bagi beberapa pekerja ahensi, dampak ini bisa saja dianggap angin lalu, karena kerja-bagai-kuda sudah melekat jadi budaya. Tapi nggak ada salahnya juga kan kalau kita ingin sejahtera sebagai pekerja ahensi? Toh juga sama-sama kerja dan cari uang. Lagian tanpa Omnibus Law, pekerja ahensi udah banyak yang kena tipes dan asam lambung. Trus, apa jadinya kalau Omnibus Law sah? 

 

Sumber: https://www.instagram.com/p/B83Jsxfgom5/ (Instagram @neverokayproject)

Penulis: Vregina Diaz

Kirim Komentar

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya

Subscribe To Our Newsletter

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!