Neoliberalisme di Indonesia

Hi Folks, pernah dengar teori Neoliberalisme nggak? Jadi paham ini sebenarnya pro-kontra bagi perekonomian di Indonesia. Sebelum membahas bagaimana Neoliberalisme di Indonesia, kita cari tau dulu apa sih definisi dan sejarah singkatnya.

Tentang Neoliberalisme

Menurut KBBI, Neoliberalisme adalah aliran politik ekonomi yang muncul setelah Perang Dunia I, ditandai dengan tekanan berat pada segi positif ekonomi pasar bebas, serta disertai dengan usaha menekan campur tangan pemerintah dan konsentrasi kekuasaan swasta terhadap perekonomian.

Bisa diartikan juga sebagai paham ekonomi yang mengutamakan sistem kapitalis dan mementingkan pihak-pihak tertentu untuk menguasai perekonomian. Singkatnya, menurut salah satu artikel Tirto menyebutkan, bahwa paham ini menganggap jika pemerintah memiliki keterbatasan kemampuan untuk mengatur ekonomi, jadi sebaiknya urusan perekonomian dijalankan oleh perseorangan. 

Paham ini juga mempunyai beberapa tujuan utama, yaitu:

  1. Pengembangan kebebasan individu, agar bisa bersaing secara bebas di pasar.
  2. Mengakui kepemilikan pribadi dalam faktor produksi.
  3. Membentuk harga pasar bukan hal yang alami, tetapi hasil dari penertiban pasar dan dilakukan Negara melalui undang-undang.

Ternyata Neoliberalisme juga mempunyai dampak negatif, karena paham ini membuat ketimpangan antara rakyat kecil atau kelompok yang tidak mempunyai kepentingan, dibandingkan kepentingan pemodal, kapitalis, atau investor. Jadi kesimpulannya, paham ini juga seperti akan menggeser rakyat miskin, pembangunan rakyat tidak inherent dengan pembangunan ekonomi.

 

Neoliberalisme di Indonesia

Neoliberalisme di Indonesia sempat dikaitkan dengan paham individu seseorang yang pernah menjadi penasihat ekonomi pemerintah pada zaman Presiden Suharto (awal tahun 1960-an). Penasihat ini dikenal sebagai lulusan program Doktor dari University of California, Berkeley. Paham ini dianggap wajar-wajar saja, karena Amerika Serikat merupakan negara yang menganut paham liberalisme ekonomi.

Tetapi, ternyata teori ekonomi neoliberalisme di Fakultas Ekonomi, Amerika Serikat juga mempunyai banyak perbedaan pendapat. Mulai dari istilah ekonomi air asin (Saltwater Economist), ekonomi air tawar (Freshwater Economist), atau istilah lain seperti Chicago Economist dan Berkeley Economist. Semua ini selalu kembali pada ajaran utama yang dipahami yaitu neoliberalisme ekonomi dan tertuang pada buku diktat mengenai Prinsip-Prinsip Ekonomi, Ekonomi Makro, dan Ekonomi Mikro.  Begitupun beberapa Universitas di Indonesia, juga memakai buku-buku karya Michael Parkin and Robin Bade, N. Gregory Mankiw, Paul Krugman, dan Ben Bernanke sebagai panduan kuliah. 

Ketika mencoba merujuk pada pendidikan para pejabat atau pengelola perekonomian/keuangan di Indonesia, sebanyak 38% dari mereka adalah lulusan Amerika Serikat, sedangkan sebanyak 31% adalah lulusan dalam negeri. Grafik ini juga menunjukkan bahwa persebaran perekonomian di Indonesia sepenuhnya tidak didominasi oleh ekonom lulusan Amerika. 

Sumber: https://kumparan.com/asmiati_malik/neoliberalisme-dan-perekonomian-indonesia-1538932576376158245/full

Jadi kita harus tau bahwa paham ekonomi neoliberalisme ini hanya membahas tentang ekonomi pasar dan tidak akan mengaitkannya dengan peran negara. Sehingga yang terjadi sekarang, paham dan kebijakan pemerintahan Indonesia masih sering bertentangan dengan Neoliberalisme. 

 

Implikasi Neoliberalisme Pada Pekerja Indonesia

Ternyata paham ini juga ada pada dunia kerja, seperti kasus PHK di PT. KIA Keramik Mas Gresik, Jawa Timur, sekitar tahun 2015-2017. Seperti pembahasan pada Jurnal Merysa Desy Permatasari yang menyebutkan bahwa penelitian dan analisis data mengenai operasional perusahaan yang telah menerapkan efisiensi biaya produksi, serta penekanan upah karyawan. Ini semua serupa dengan pemahaman Neoliberalisme yang membahas mengenai kepentingan sistem kerja kontrak dalam perusahaan. Hubungan industrial biasanya sering mengalami perbedaan pendapat serta kepentingan di antara pengusaha dan pekerja/buruh.

Kasus PHK ini sebenarnya sudah diatur oleh UU, yang membahas mengenai hak-hak pekerja yang mendapat perlindungan untuk memperoleh hak-haknya. Tujuannya agar para pekerja terlindungi dari ketidakadilan pengusaha dan ini semua diberlakukan pada Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Namun ternyata hukum tinggalah hukum, karena kasus PHK masih sering terjadi di Indonesia sampai detik ini. Bahkan sejak pandemi pada awal tahun 2020, telah ditemukan banyak sekali kasus PHK di beberapa sektor pekerjaan yang terjadi pada pekerja/buruh.

Jadi menurut kalian semua, apakah paham Neoliberalisme dalam perekonomian Indonesia sudah sesuai? Hmmm, coba tanyakan pada rumput yang bergoyang, mungkin mereka tahu.

 

Ditulis oleh Vregina Diaz

Sumber:
Jurnal Merysa Desy Permatasari
Artikel Tirto: Neoliberalisme dan Perekonomian Indonesia

Kirim Komentar

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya