‘Marital Status’ Bikin Kerja Jadi Nggak Fokus?

“Katanya gue nggak bisa kerja di sana, karena udah nikah.”

“Dia bilang sih kalo gue single berarti bisa kerja lembur terus.”

 

Itulah beberapa celoteh pekerja yang pernah terdengar dari seorang teman. 

 

Ternyata memang bentuk-bentuk diskriminasi di tempat kerja itu banyak sekali. Salah satunya status pernikahan. Beberapa perusahaan selalu membuka peluang bagi fresh graduate dengan alasan semangat dan hasrat yang masih tinggi untuk bekerja. Tetapi siapa sangka, diam-diam ini mendiskriminasi para pekerja. 

Memang sejak kapan status pernikahan ini mempengaruhi performa kinerja? Bisa-bisa ‘marital status’ ini bikin kerja jadi nggak fokus 😔

Diskriminasi status pernikahan ini juga tergambar dalam film Korea Selatan yang berjudul Kim Ji-Young, Born 1982 (2019), yang merupakan adaptasi dari novel “82nyeonsaeng Kimjiyoung”. Film ini menceritakan Kim Ji-Young seorang perempuan yang awalnya bekerja di agensi kehumasan, kemudian menikah, dan hamil. 

Setelah kehidupan barunya ini, Kim Ji-Young dipaksa berhenti dari pekerjaan dan berganti peran menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Status dan kegiatan sehari-harinya membuat Kim Ji-Young mengalami banyak hal, hingga kehilangan jati dirinya.

 

Dalam tesis Neil Y. Pacamalan yang berjudul Sex Matters: A comparative Analysis of Work Discrimination in Indonesia and Philippines, ia mengatakan bahwa pengusaha lebih suka mempekerjakan perempuan lajang daripada yang sudah menikah. Menurut studi Wolf, perempuan lajang relatif lebih murah untuk dirawat daripada yang sudah menikah. 

Tertulis juga contoh nyata diskriminasi yang terjadi di sektor periklanan. Salah satu perusahaan mencari sekretaris Presiden Direktur, dengan syarat umur di bawah 25 tahun, tinggi 1,60 m, dan belum menikah. Hmm, ternyata memang ya status pernikahan ini bisa menjadi kutukan bagi pelamar.

 

Baca juga: Diskriminasi Dalam Iklan Kerja

 

Di Amerika Serikat, meskipun ada undang-undang yang memberikan cuti hamil bagi perempuan selama 3 bulan, pemerintah mengakui bahwa perempuan hamil ini sering dipecat atau digantikan oleh orang lain. Jadi ada beberapa perusahaan yang mengharuskan perempuan menandatangani pernyataan bahwa mereka tidak akan hamil selama kontrak kerja. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) sempat merilis laporannya sebelum Hari Perempuan Internasional, bahwa Indonesia telah mencatat peningkatan jumlah terbesar wanita pengangguran di Asia Tenggara satu dekade sejak krisis keuangan tahun 1997.

Ketika Status Pernikahan Pengaruhi Pekerjaan

Status perkawinan ini mengacu kepada kita yang single, menikah, bercerai, janda, berpisah, atau tinggal bersama dengan pasangan tanpa ikatan. Ternyata ini semua bisa menjadi ukuran perusahaan menilai kesiapan dan performa kerja kita lho, sedih yaa.

Contoh yang terjadi misalnya:

  • Ada studio tari yang menawarkan kursus hanya untuk orang yang masih single.
  • Seorang manajer yang tidak akan mempromosikan perempuan yang baru saja menikah, karena mereka berpikir perempuan ini akan fokus kepada keluarganya daripada karir.
  • Perusahaan memberikan bonus kepada karyawan yang sudah menikah, namun tidak melakukannya kepada karyawan single.
  • Sebuah perusahaan menawarkan karyawan yang sudah menikah, untuk bekerja di lokasi terpencil dengan jaminan tunjangan dan cuti mengunjungi keluarga. 
  • Hingga membayar pekerja laki-laki lebih banyak daripada perempuan, dengan asumsi bahwa laki-laki menjadi kepala keluarga.

 

Menurut penelitian Victorian Equal Opportunity and Human Rights Commission Annual Report 2018-2019, sebanyak 57,7% adalah laporan keluhan mengenai diskriminasi status pernikahan dalam pekerjaan.

Agar Status Pernikahan Tak Campuri Pekerjaan

Ketika interview, pewawancara juga seharusnya juga tidak boleh menanyakan atau meminta informasi mengenai status pernikahan pelamar. Begitupun menyampaikan informasi mengenai status secara implisit juga tidak disarankan, karena bisa memancing pewawancara membuka pertanyaan lebih lanjut mengenai status pernikahan. Cara yang tepat untuk menghindari pertanyaan secara sengaja atau tidak sengaja bagi perusahaan adalah dengan membuat struktur wawancara untuk perekrut atau manajer.

Itulah salah satu bentuk diskriminasi yang sebenarnya jarang disadari, karena status ini bisa berganti kapan saja. Semoga kita semua semakin peka dengan bentuk-bentuk diskriminasi yang mulai jadi pemakluman.

 

By: Vregina

Sumber:
https://www.humanrights.vic.gov.au/for-individuals/marital-status/ 

https://smallbusiness.chron.com/labor-laws-marital-status-discrimination-61346.htm
http://www.etd.ceu.hu/2008/pacamalan_neil.pdf 

Kirim Komentar

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya