Memahami Privilese

Asal usul istilah hak istimewa/privilese dapat ditelusuri kembali pada tahun 1930-an, ketika pada saat itu orang kulit putih di Eropa dan Amerika merasa lebih unggul daripada orang kulit hitam 1. Pada saat itu, hak istimewa bukan hanya tentang siapa yang memiliki uang namun menggambarkan sebuah keadaan hidup seseorang. Orang kulit putih yang miskin merasa bahwa mereka lebih unggul daripada orang kulit hitam yang juga miskin karena setidaknya, mereka dapat mengikuti pemilihan umum serta pergi ke sekolah dan taman.

Kita dapat memahami bahwa privilese adalah seperangkat manfaat yang diterima dan diberikan kepada orang-orang yang masuk dalam kelompok sosial tertentu. “Orang-orang istimewa” ini dapat menggunakan posisi mereka untuk memberi manfaat kepada orang-orang lain yang seperti mereka (re: istimewa). Beberapa contohnya, di negara dengan kondisi terburuk bagi perempuan seperti Afghanistan, Syria, India, mereka seringkali tidak memiliki kekuatan institusional. 

Perempuan masih saja memiliki peluang yang tidak memadai dalam partisipasi sosial, terutama dalam memperjuangkan hak-hak politik dan kekuasaan di pemerintahan dan berbagai institusi 2. Kecenderungan historis ini masih berlanjut hingga kini, meskipun perempuan semakin banyak dipilih secara politik untuk menjadi kepala negara dan pemerintahan, namun suara mereka masih tidak terdengar 3. Sementara dalam masyarakat yang mengagungkan supremasi kulit putih, orang kulit berwarna mayoritas adalah budak dan mengalami perlakuan yang buruk.

Seiring berjalannya waktu, bersamaan dengan timbulnya kesadaran akibat gelombang feminisme, masalah gender, hak istimewa, dan ketimpangan telah menjadi pembicaraan umum dalam masyarakat selama bertahun-tahun.

Sumber gambar: Vox

Gerakan pembebasan perempuan pada tahun 1960 dan 1970-an memusatkan perhatian pada beberapa “hak istimewa” yang dinikmati oleh kelompok laki-laki. Gelombang besar ini juga turut menyorot bagaimana penggunaan kekuasaan oleh kelompok laki-laki turut memengaruhi kehidupan perempuan. 

Jika kita melihat secara dekat status sosial perempuan dan laki-laki, dapat dilihat bahwa laki-laki memiliki hak istimewa atas perempuan dalam banyak aspek kehidupan. Misalnya, perempuan lebih cenderung menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan di dunia kerja, dan mengalami diskriminasi upah sebagai hambatan utama terhadap kualitas hidup mereka dibandingkan yang dialami laki-laki.

Dalam budaya Indonesia, banyak hak istimewa dan kekuatan yang dimiliki oleh laki-laki atas perempuan merupakan bentuk kekuatan/legitimasi yang diperoleh secara cuma-cuma. Yang tak kalah miris, masyarakat seringkali menggunakan sudut pandang laki-laki sebagai fokus utama, dimana akhirnya membuat perempuan tidak berani untuk  maju dan menampilkan diri. Harus diakui, privilese nyatanya memiliki andil yang cukup besar bagi individu mencapai kesuksesan.

Pada awal abad ke-21, tujuan dalam gelombang feminisme kedua secara garis besar telah tercapai. Saat ini, lebih dari 70% wanita di Amerika memiliki pekerjaan dan bebas berada di tempat umum ataupun berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di masyarakat 4. Jumlah perempuan yang lulus dari perguruan tinggi pun lebih tinggi daripada laki-laki. Di Indonesia sendiri, Kemenristekdikti mencatat pada tahun 2018 jumlah mahasiswa aktif perempuan adalah 3.077.254 siswa, lebih banyak sekitar 440 ribu siswa dibanding mahasiswa laki-laki yang berjumlah 2.636.495 siswa 5. Namun, diskriminasi dan kekerasan sebagai bentuk adanya privilese masih saja terjadi. 

Dilaporkan bahwa 75% wanita di Indonesia telah mengalami kekerasan fisik dan seksual. Survei nasional pertama oleh pemerintah tentang kekerasan terhadap perempuan menunjukkan bahwa 33% perempuan berusia antara 15 dan 64 mengklaim bahwa dirinya telah mengalami pelecehan 6. Indonesia berada di peringkat ke-88 dari 144 negara dalam Indeks Kesenjangan Gender Forum Ekonomi Dunia 2016 setelah mencetak nilai buruk pada partisipasi ekonomi, pemberdayaan politik, dan pendidikan. Meskipun ekonomi telah membaik dalam sepuluh tahun terakhir, para kritikus mengatakan bahwa kesenjangan tetap ada dan wanita sering menjadi korbannya 7.

Mengenali hak istimewa sangat mirip dengan pendidikan seks di Indonesia: kita tidak pernah diajarkan secara formal tentang hal itu namun terus-menerus memikul tanggung jawab untuk “mendidik diri sendiri”. Lantas, apa sih yang bisa kita lakukan? 

Jika ingin “membebaskan diri”, pertama-tama kita tidak boleh menempatkan seluruh tanggung jawab untuk mengubah budaya yang melanggengkan diskriminasi kepada kelompok marjinal saja. Para aktivis dan organisasi yang fokus pada masalah ini harus mampu menuangkan hasrat, ide, dan strategi menjadi sebuah aksi nyata untuk perubahan. 

Setiap dari kita memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi kepada orang lain di sekitar kita tentang bagaimana hak istimewa/privilese bekerja dalam dunia nyata. Jangan takut untuk mulai memposting di media sosial, menulis blog, berdiskusi, atau bahkan membangun ruang untuk berdialog bahkan mengkritik contoh-contoh tindakan tidak benar yang didasari privilese. Apakah masih menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak lainnya?

Privilese tidak akan pernah hilang sampai sistem di masyarakat kita sendirilah yang berusaha untuk menghapuskan diskriminasi. Dalam kehidupan sehari-hari berusahalah untuk mempertanyakan privilese sehingga suatu hari nanti kita semua menikmati manfaat yang setara. Lastly, for those who routinely benefit from privilege, the challenge is to not quickly deny its existence, instead use your everyday privilege to help others.

 

Ditulis oleh Gabriella Regina K.

Blog Comments

Selalu menarik bicara gender… I like it

Thank you 🙂

Kirim Komentar

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya

Subscribe To Our Newsletter

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!