NOBAR NOP #4: Pelecehan Seksual di Dunia Agensi

Sabtu (9/8), diadakan NOBAR NOP#4 (Nongkrong Bareng Never Okay Project), sebuah seri diskusi daring bertemakan pelecehan seksual di berbagai sektor industri. Episode keempat ini membahas tentang pelecehan seksual di Dunia Agensi. Narasumber yang hadir di NOBAR ini ialah Ayu Meutia Azevy, Senior Copywriter; Poppy R. Dihardjo, Account Management; Muhammad Fajar Nur dari Never Okay Project dan juga Elsa Devita sebagai moderator. NOBAR#4 ini khusus menghadirkan Didi sebagai juru bicara penerjemah bahasa isyarat.

Realita pahit yang harus dihadapi oleh anak agensi adalah ketika pelecehan seksual dianggap sebagai budaya kerja. Candaan seksis contohnya, pelecehan yang paling umum terjadi di agensi, ujar Poppy yang kini menjadi support group di Perempuan Tanpa Stigma. Kata “bercanda” tidak lagi memiliki batasan, apalagi dalam ranah dunia kerja. Mengawali karir sebagai AE di sebuah agensi membuat Poppy mengerti seluk beluk permainan didalamnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa seorang junior sepertinya dijadikan pemikat klien karena paras cantik yang dimilikinya. 

“Tidak sampai disitu, dulu aku pernah dikerjain, dikunci di studio sama anak-anak kreatif terus mereka pada bercanda dengan omongan ‘ada yang manis ni, di telanjangin apa?’ “ ungkap Poppy yang kala itu bekerja di sebuah agensi advertising. Candaan seksis dinormalisasikan hingga menjadi sebuah kebiasaan, hingga lupa apa itu moral umum.

Ayu menambahkan bahwa pelecehan seksual di dunia agensi menjalar pula hingga ke perbuatan fisik, seperti menepuk bokong perempuan. Pelecehan ini pun dianggap normal sama halnya dengan candaan seksis diatas. Pakaian pun sering menciptakan stigma Tak jarang ada yang berujung pada tindakan pemerkosaan. 

 

Dilecehkan Demi Karir

Selama diskusi berlangsung, mengingatkan Poppy ketika dulu ia pernah menolak klien masuk ke kamar hotelnya dan ia dianggap tidak asik. Bahkan saat ia pernah menemani klien main golf, ia malah dilecehkan sama teman kliennya. Miris rasanya ketika korban terpaksa dilecehkan hanya demi mempertahankan sebuah karir dan kepuasaan klien semata. Lupa esensi dari bekerja dan mencari kerja.

“Tempat kerja bukan hanya tempat mencari uang saja, tetapi tempat kerja adalah hidup orang tersebut, di mana lingkungan kerja yang nyaman sangat amat dibutuhkan” kata Fajar melihat banyak tempat kerja yang seolah bungkam terhadap kasus pelecehan seksual.

 

Anak Magang Jadi Sasaran Pelecehan Seksual

Anak magang adalah korban yang paling sering terkena pelecehan seksual di dunia agensi. Kenapa begitu? Anak magang dianggap anak baru yang dalam waktu 3 bulan akan cabut, sehingga pelecehan verbal atau nonverbal sekali seakan bukan masalah besar. Seperti survei yang dilakukan oleh Never Okay Project, 57% pelecehan seksual dilakukan oleh rekan sebaya dan 56% dilakukan oleh senior. Data ini sangat mendukung bagaimana tingkat kekuasaan seseorang belum tentu setinggi pengetahuannya akan pelecehan seksual.

Anak magang atau anak baru yang mulanya terjun ke dalam dunia agensi untuk berkreasi, namun ternyata hanya menjadi sasaran pelecehan seksual para senior. Hal ini sangat disayangkan. Ketika ingin melapor ke HR, tetapi HR memiliki ketakutan terkait pengaruh citra perusahaan yang akan menjadi buruk daripada mental SDM-nya yang terpuruk. Jika hal ini terus berkelanjutan, maka pelaku akan terus bersorak di atas hancurnya mental korban.

 

Bebas Berekspresi, Bebas dari Pelecehan Seksual

Agensi kreatif adalah tempat kerja yang penuh dengan para kaula muda yang mempunyai kebebasan berekspresi dan berkreasi hingga rasa kebebasan itu dirasa tidak ada lagi batasannya. Seringkali, bahan obrolan sehari-hari pun merupakan pelecehan-pelecehan seksual yang sudah melebur menjadi cemilan tiap hari. Sebagai penulis, Ayu berpesan bahwa semua orang harus berani untuk stand up untuk kasus-kasus pelecehan seksual. Walaupun berujung dengan dikatakan baper (bawa perasaan) atau diledekin, tetapi ketika seseorang bekerja itu diukur dari tingkat profesionalitas, bukan dari kuasa saja. 

Dikenal sebagai dunia yang ‘bebas berekspresi’ apakah juga mengartikan bahwa agensi ‘bebas dari pelecehan seksual?’ Seharusnya demikian. Wadah bercerita dan pembelajaran tentang pelecehan seksual harus selalu mendampingi, seperti yang dilakukan oleh Never Okay Project dalam mendampingi para penyintas yang mengalami pelecehan seksual di berbagai sektor industri. 

 

Dengan demikian, setiap lini industri harus mampu memahami pentingnya pendidikan dan pengetahuan tentang pelecehan seksual. Never Okay Project senantiasa bersedia untuk berbagi pengetahuan tentang pelecehan seksual dan mendengar ataupun membaca kisah penyintas dari berbagai macam pola pelecehan seksual dan latar belakang. Setiap kisah akan menjadi pembelajaran dan penguat bagi setiap orang. 

 

Dilaporkan oleh Eunike Pangaribuan

Kirim Komentar

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya