Pelecehan Seksual di Industri Musik: NOBAR NOP #1

NOBAR NOP #1: Pelecehan Seksual di Industri Musik

 

Sabtu (27/10), diadakan NOBAR NOP #1 (Nongkrong Bareng Never Okay Project), sebuah seri diskusi daring bertemakan pelecehan seksual di berbagai sektor industri kerja. Episode pertama ini membahas tentang pelecehan seksual di industri musik. Narasumber yang hadir di NOBAR ini ialah Zara Zahrina dari Hantu Records & Publishing dan Girl Up Indonesia dan Fithor Faris, seorang musisi dari Kedubes Bekasi. Hadir pula Firhat dan Icha dari Never Okay Project sebagai pemantik diskusi soal pelecehan seksual di industri musik ini.

Baca juga: Laporan Survei Pelecehan Seksual Di Dunia Kerja Selama WfH

Objektifikasi perempuan karena dominasi laki-laki

Pembahasan dimulai dari sudut pandang Zara yang kini bekerja di dunia musik indie. Ketimpangan antara perempuan dan laki-laki menjadi salah satu pemicu terbesar terjadi pelecehan seksual di industri musik. Label “dominasi laki-laki” dan “musik bukanlah untuk perempuan” telah merajai industri ini, khususnya musik indie. Budaya ini biasa dikenal dengan budaya patriarki, di mana laki-laki mendominasi dan memegang kuasa dalam sebuah komunitas.

Zara melihat bahwa perempuan hanya dipandang sebagai objek semata, dinilai hanya sebatas paras belaka. Ia menegaskan bahwa perempuan layak memiliki panggung untuk menampilkan keahliannya dalam bermusik, bukan panggung untuk menjual wajah cantik saja. Apabila hal ini terus dibiarkan, tentu pelecehan seksual di industri musik akan makin langgeng.

Fithor menyetujui bahwa ada beberapa produser musik memang sengaja menjadikan perempuan sebagai pemikat untuk meningkatkan rating musik. Ia sangat menyayangkan jika masih ada produser musik yang tak mampu melihat value yang dimiliki perempuan dalam bermusik. Musisi dari Kedubes Bekasi ini meyakini bahwa seharusnya musisi dinilai dari karyanya, bukan dilihat dari gendernya.

Berikan ruang aman untuk perempuan di industri musik

Zara melayangkan pertanyaan “Kenapa korban malah disalahkan?” Perempuan disalahkan karena melanggar istilah “boy’s club, play our rule” dalam sebuah industri musik yang notabene adalah miliki semua gender, bukan hanya laki-laki. Perempuan sering merasa tidak nyaman dan tidak aman. Hal ini membuat para seniman musik perempuan sulit untuk muncul dan berkembang.

Zara menambahkan bahwa penonton dan promotor juga harus mengubah pola pikir. Penonton harus mulai melihat dan memperlakukan perempuan secara adil baik di atas maupun di belakang panggung. Tidak jarang promotor enggan mencari tahu siapa perempuan yang bertalenta dan akhirnya perempuan-perempuan ini lama kelamaan redup oleh waktu.

Baca juga: Potret Kondisi Pelecehan Seksual Di Perusahaan

Gerak bersama berantas pelecehan seksual di industri musik

Fithor menyadari bahwa persoalan ini adalah persoalan besar yang harus segera dituntaskan. Masih sedikit orang yang tak sadar dan abai terhadap kasus pelecehan seksual. Fithor sangat mendukung dan mengapresiasi gerakan yang dilakukan oleh Never Okay Project. Inisiasi ini bisa jadi pengingat bagi semua orang untuk memberantas pelecehan seksual di lingkungan kerja.

Zara menambahkan bahwa setiap orang yang bergelut di dunia industri musik harus saling bersinergi. Budaya patriarki, ketimpangan gender, dan misogini dalam industri musik Indonesia harus dihapuskan. Zara menyoroti Never Okay Project adalah agen isu sosial yang nyata dalam memberantas kasus pelecehan seksual di dunia industri.

Nongkrong Bareng Never Okay Project menyoroti kasus pelecehan di dunia industri musik yang harus segera diberantas. Pencipta musik berhak merasa nyaman dan aman dalam segala aspek, khususnya dalam isu gender dan seksualitas. Musik tidak memandang gender dan harus bebas dari dominasi kelompok tertentu.

Simak obrolan selengkapnya di kanal Youtube kami!

 

Dilaporkan oleh Eunike Pangaribuan

Kirim Komentar

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya