Modern Slavery pada Fast Fashion

Hi Folks, pada tau gak sih kalau modern slavery atau perbudakan modern hingga saat ini masih ada. Padahal kalau mendengar kata “perbudakan”, otak kita mungkin mikir ketika masa penjajahan kan? Walaupun bentuk perbudakannya yang berbeda, tapi efek yang dirasakan oleh korban masih tetap sama.

Baca juga: Serba-Serbi Serikat Buruh/Serikat Pekerja Di Indonesia.

 

Definisi Umum Modern Slavery

Dalam definisinya, Muhamad T. Nugraha (2015) mengatakan modern slavery adalah bentuk memperkerjakan orang yang menempatkannya di bawah kendali orang lain. Pembatasan yang dimaksud mencakup penggunaan energi fisik hingga pikiran, dan tidak diberikan gaji yang sesuai. Dia melanjutkan, perbudakan tidak melulu menyerang keadaan fisik, namun juga psikologis seseorang. Bentuknya tidak sebatas bekerja pada sebuah instansi, tapi juga termasuk perdagangan manusia, eksploitasi seksual dan buruh migran.

 

Bentuk Modern Slavery pada Fast Fashion

Kira-kira apa saja bentuk fast fashion pada modern slavery dan bagaimana kaitannya? Menurut Sri Utama, fast fashion adalah keadaan dimana model dari brand fashion tersebut bergerak sangat cepat. Per tahun, industri ini mampu menghasilkan 42 model busana yang dipasarkan. Dampak dari fast fashion ini tidak hanya mencakup lingkungan, seperti polusi air, tanah dan perubahan iklim. Tapi juga berdampak pada manusia atau buruh yang dipekerjakan.

Industri fast fashion ini dapat ditemukan di negara berkembang seperti India, Bangladesh hingga Indonesia. Mereka selalu mempekerjakan wanita yang minim pendidikan dan muda dengan bekerja 14 jam/hari. The Ethical Intiative (ETI) menyatakan tindakan eksploitasi manusia yang terjadi mencakup kerja paksa sampai praktik perbudakan yang mengancam nyawa seseorang. Korban modern slavery juga tidak mendapatkan jaminan keamanan dan kesehatan dari perusahaan.

Dengan gaji minim tersebut, mereka bahkan tidak sanggup untuk membeli makannya sendiri. Sehingga mereka dipaksa untuk berhutang kepada atasannya, yang berefek ke beban yang ditanggung menjadi lebih berat. 72%-76% buruh di Bangladesh tidak mampu membayar pengobatannya sampai harus jauh dari keluarga, karena tidak dapat membiayai kebutuhan primernya. Berdasarkan data dari The Global Slavery Index , per tahun 2019, tercatat 40 juta orang secara global yang diperbudak.

Tindakan yang diterima para wanita seperti dipaksa lembur, kerja paksa tanpa upah dan kawin paksa. Selain itu, anak-anak dipaksa untuk memetik kapas sebelum berangkat sekolah. Bagi mereka yang tidak melakukan tugasnya, akan diancam kekerasan hingga tidak diberikan makanan oleh atasannya. Oleh karena sistem bekerja yang begitu keras, per 24 April 2013 tercatat 1.138 orang Bangladesh yang meninggal.

Baca juga: Perempuan Papua: Ditindas Negara, Dilindas Budaya

 

Cara menghentikan Modern Slavery pada Fast Fashion

  1. Jangan mengikuti tren. Temukan selera fesyenmu tanpa harus mengikuti tren gaya yang sedang hits. Maka itu, brand-brand pakaian tersebut akan mengurangi cepatnya pergerakan model. Dengan ini maka harapan modern slavery akan berkurang.
  2. Porsi “kebutuhan” harus lebih besar dari “keinginan” kita. Dengan membatasi diri agar tidak tergiur untuk terus mengikuti tren, khususnya di fesyen. Secara jangka panjang dapat berefek mengurangi modern slavery pada fast fashion. 

 

Contoh kasus seputar Modern Slavery di Indonesia

Di Indonesia belum memiliki data konkret seputar modern slavery pada fast fashion ataupun korban yang bercerita. Tapi pada tahun 2013 silam, ada 34 korban modern slavery yang bekerja di pabrik aluminium di Tangerang, Banten. Bentuk penganiayaannya berupa tidak membayar gaji (sebagian buruh), tidak diberi fasilitas hidup yang layak. Ditambah juga tidak diizinkan istirahat, beribadah shalat dan dilakukan penganiayaan pada 34 buruh tersebut. Karena ulah atasannya itu, polisi menangkap 5 tersangka yang terlibat dan membebaskan 34 korban untuk balik ke kampung mereka masing-masing. Sampai sekarang belum ada berita lebih lanjut seputar kasus ini.

 

Oleh Vanessa

Ditulis pada 17 September 2020

Photo by Kelly Lacy from Pexels

 

Referensi:

https://jurnaliainpontianak.or.id/index.php/atturats/article/view/308 

https://www.antaranews.com/berita/464938/apa-itu-perbudakan-modern#:~:text=Dalam%20Indeks%20Perbudakan%20Dunia%2C%20perbudakan,orang%20yang%20melakukan%20praktik%20perbudakan.

https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/mengenal-fast-fashion-dan-dampak-yang-ditimbulkan/#:~:text=Fast%20Fashion%20adalah%20istilah%20yang,buruk%2C%20sehingga%20tidak%20tahan%20lama.

https://www.globalslaveryindex.org/ 

https://nasional.kompas.com/read/2013/05/06/11332682/Perbudakan.Tangerang..Contoh.Perbudakan.Modern

https://www.beritasatu.com/irawati-diah-astuti/archive/394096/indonesia-masuk-10-besar-korban-perbudakan-modern 

http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/30164/F.%20BAB%20II.pdf?sequence=6&isAllowed=y 

 

Add a comment

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Related Article