Pelecehan dan Kebungkaman

Saat itu, aku berada pada semester 2 di kelas 7 jadi kalau dihitung-hitung masih awal-awal aku masuk di Sekolah Menengah Pertama. Aku tersadar bahwa semakin naik jenjang sekolahku maka semakin jauh jarak sekolah kerumahku dan ya seperti biasa aku selalu pulang sendiri dengan naik angkutan andalan. Sebelum naik angkutan pun aku harus berjalan sekitar 15 menit dan itu paling cepat berbeda jika bercanda bersama teman mungkin jalan kaki tidak akan terasa lama tetapi tenyata memakan waktu hingga setengah jam atau sekitar 30 menit. Untungnya letak SMPku saat itu berada ditengah kota jadi mau pulang kapanpun dengan berjalan kaki, suasana tengah kota akan selalu ramai dengan orang-orang berlalu.

Kebetulan orang tuaku memiliki warung makan didekat daerah rumah dan ibuku selalu memintaku kalau setelah naik angkutan aku diharuskan turun di warung baru nanti akan pulang diantar oleh ibuku. Hanya saja saat itu aku terlalu malas karena jika aku menunggu diantar maka aku bisa pulang hingga sore hari dan itu benar-benar melelahkan sehingga aku memaksa untuk turun didepan gang rumah dan berjalan menuju rumahku sendiri.

Saat itu firasatku buruk karena kondisi perumahanku benar-benar sepi, aku memutuskan berjalan cepat dengan memperhatikan keadaan sekitar berharap ada kendaraan yang berlalu-lalang disekitarku. Hingga ada suara kendaraan melewatiku dengan dikendarai oleh mas-mas berwajah buruk yang memperhatikanku hingga ia memutar balik dan kupikir ia mungkin kembali entah kemana. Kejadian berputar cepat hingga ternyata ia kembali memutar balik lagi dibelakangku dan berkendara mendekatiku yang saat itu aku benar-benar tidak sadar. Lalu, dia meremas payudaraku dan melarikan diri.

Aku syok

Kaget

Aku benar-benar takut

Aku ingin berteriak tapi tidak ada seorang pun dan orang yang berkendara tersebut benar-benar sudah melarikan diri. Aku berlari kerumahku dan menangis sekeras-kerasnya di kamar mandi karena aku benar-benar takut akan apa yang telah terjadi. Hingga tetanggaku mendengar suaraku dan bertanya apa yang terjadi. Tetapi aku tetap menangis dan aku meminta untuk segera dipanggilkan ibuku. Saat ibuku datang, aku membuka pintu kamar mandi dan berlari memeluk ibuku. Aku benar-benar takut dan aku menceritakan kejadian tersebut hingga kedua orang tuaku marah. Ayahku ingin melaporkan kejadian ini kepada ketua RT tetapi aku mencegah karena aku merasa malu dan masih takut akan hal itu jika harus mengingat-ingat seseorang yang mengendarai motor tersebut.

Kejadian telah berlalu selama 2 minggu, hingga sepulang ayahku dari rapat rutin RT ayahku menceritakan kepadaku bahwa ada anak perempuan salah satu tetanggaku yang ternyata melaporkan kejadian sama sepertiku. Dia juga dilecehkan, lalu ayahku mulai menceritakan pula kejadianku hingga dari rapat tersebut memutuskan bahwa kejadian ini akan dilaporkan ke Ketua RW sehingga akan ada pengamanan lebih untuk kompleks perumahanku.

Dari situ aku tersadar, bahwa ternyata disaat aku memutuskan untuk bungkam terhadap kasusku maka orang lain akan mengalami kejadian serupa yang aku sendiri tidak ingin mengingatnya. Sehingga aku merasa bersalah dan memutuskan bahwa aku harus selalu berani mengungkapkan setiap kejadian yang salah terutama terkait dengan kasus pelecehan seksual.

 

Diceritakan oleh DYA

Sektor Pekerjaan:

Add a comment

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.