Tak ada judul cerita, silahkan baca.

Aku kira aku sudah melupakan masalah ini.

Satu tahun yang lalu, seperti mahasiswa akhir pada umumnya aku masih sibuk dengan banyak hal. Skripsi, internship, kegiatan organisasi, event, acara lain, semuanya. Semua hal terasa menyibukkan, tidak ada celah untuk merasa sedih karna fikiranku sudah terlalu penuh dengan banyak hal.

Hari itu tanggal 7 Juni, 2 hari setelah lebaran. Aku masih ditanah rantau, ayah menolak keinginanku untuk pulang dan merayakan lebaran dirumah bersama mereka (akan aku ceritakan suatu hari).

Berlebaran ditanah rantau bukan hal asing lagi, toh aku sudah tidak pulang 3 tahun.

Dia, seseorang yang dulu aku sebut teman mengajakku untuk keluar dan sekedar mencari kopi. Berbekal kepercayaan “teman baik” akupun mengiyakan. Bodohnya bukan aku yang dijemput, dan bodohnya aku tak merasa hal ini aneh. Aku datang ketempatnya, berharap kita akan segera berangkat setelah aku menitipkan kendaraanku disana. Ternyata tidak.

Banyak hal yang terjadi, yang aku ingat kita mengobrol tentang tempat mana yang akan kita datangi hari itu. Sampai akhirnya, orang itu memperkosaku. Memperkosa seorang teman baik yang hari itu datang dengan harapan bahwa hal baik akan datang padanya. Bahkan dengan bangsatnya setelah pulang dalam keadaan menangis dan ketakutan setengah mati, esoknya dia masih menghubungi dan bertingkah seolah tak ada yang terjadi.

Jangan bilang aku tidak melawan, aku melawan tapi semuanya terasa kaku. Jangan bilang aku tidak ingin melaporkannya, aku ingin. Tapi berbagai keadaan saat itu menuntutku untuk menyembunyikan hal ini dari orang lain. Mempertimbangkan banyak hal yang akan terjadi membuat aku memutuskan menelan sendiri perasaan hari itu. Dari hari itu, aku mati.

Hampir satu tahun setelah hal itu terjadi. Aku masih sering tiba2 hilang kontrol dan menyalahkan diri sendiri. Aku tau itu bukan salahku, aku sepenuhnya tau. Tapi ada perasaan sakit luar biasa yang tidak bisa aku kendalikan yang lagi dan lagi membuatku menyalahkan diri sendiri. Aku bahkan kadang masih meringis kesakitan ketika secara tidak sadar aku mengingat sakitnya didorong, disentuh, dikendalikan dan dikuasai olehnya.

Hidup memang sebercanda itu.

Sudah hampir satu tahun. Aku sudah mulai berdamai dengan diri sendiri. Mencoba berbagai hal yang terkadang berhasil membuatku lupa dan teralihkan dari ingatan hari itu. Perlahan, tapi pasti aku akan sembuh dan menyembuhkan diri sendiri.

 

Diceritakan oleh R.

Kirim Komentar

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Cerita Lainnya