Budaya Pelecehan di Lingkungan Kantor

Saya adalah lulusan mahasiswa Universitas Indonesia. Saya aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan gerakan perempuan atau feminisme. Saya akrab dengan isu lintas gender.

Namun, tidak pernah saya bayangkan. Saya, yang biasa dipanggil “SJW” oleh teman-teman kampus saya, harus mengalami sendiri realita keras budaya misoginisme dan patriarki di lingkungan pekerjaan saya. Saya memang bergelar ijazah administrator bisnis. Memungkinkan saya untuk bekerja di sektor bisnis korporasi dan bukan di sektor yang bergerak untuk isu sosial.

Saya bekerja di start-up teknologi penyedia jasa layanan yang bergerak di bidang asuransi. Saya ditempatkan pada divisi front-line marketing. Divisi saya diisi oleh mayoritas laki-laki. Tidak banyak orang mengetahui, bahwa menjadi tenaga penjual produk asuransi membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang baik. Pengetahuan tentang asuransi terbilang sulit. Maka, saya tidak heran, apabila rata-rata usia pekerja di divisi saya berumur 25 ke atas dan atau telah berkeluarga.

Menurut saya, latar belakang usia yang tidak muda dengan rata-rata jenis kelamin laki-laki berperan dalam budaya pelecehan di lingkungan kerja saya. Saya bersama lima rekan saya (Management Trainee) telah dilecehkan melalui sebuah percakapan grup aplikasi pesan whatsapp. Grup tersebut bukan grup yang membahas teknis pekerjaan, melainkan yang sering masyarakat bilang “grup bokep”. Di dalam screenshot yang dikirim oleh salah satu anggota tersebut, saya melihat adanya unsur pelecehan. Di sana, terdapat foto perempuan Kaukasian telanjang namun dengan bagian buah dada yang disensor. Salah satu anggota grup tersebut mengajukan sebuah tebak-tebakan mengenai buah dada perempuan mana yang paling besar. Banyak anggota grup menebak-nebak. Si pelontar pertanyaan kemudian merilis jawabannya. Anggota lain berceletuk bahwa buah dada perempuan tersebut mirip salah satu anggota Management Trainee yang berarti saya atau rekan-rekan saya. Dari situlah, perbincangan mereka menjadi sebuah percakapan panjang penuh pelecehan. Mulai dari kata mengintip, sex appeal, besar, pedas, sange, keluar, hingga keluarnya sticker tidak senonoh yang dibandingkan dengan anggota tubuh salah satu Management Trainee. Bahkan, nama kami dijadikan sebuah list. Kami diranking berdasarkan bentuk tubuh mana yang paling ideal. Kami diobjektifikasi habis-habisan.

Saya shock. Marah. Rasanya, saat itu, saya ingin sekali menyebarkan screenshot ini agar manajemen perusahaan tahu dan segera meng-sanksi perbuatan mereka.

Namun, realita tidak semudah itu. Saya akhirnya berdiskusi dengan dua rekan saya. Bagaimana merespons hal seperti ini. Seperti yang saya duga, mereka tidak menyarankan saya untuk melaporkan hal ini kepada manajemen perusahaan. Kemudian, saya berpikir, dua rekan saya ternyata memiliki alasannya tersendiri.

Pertama, budaya pelecehan yang telah mengakar di kantor, khususnya di divisi front-line marketing. Mengapa, budaya pelecehan? Karena saya melihat, candaan seksis dan melecehkan dianggap normal dan jenaka di sini. Lelucon cantik, suka yang semok, mengomentari baju, dan hal-hal yang mengarah kepada seks biasa dilontarkan saat rapat maupun mengobrol. Hal itu telah saya perhatikan, dilakukan oleh laki-laki. Bahkan oleh beberapa team leader.

Kedua, pejabat level atas tidak jarang melontarkan kalimat yang membenarkan pelecehan.
Ketiga, kami hanyalah Management Trainee. Anggota Management Trainee hanya lima orang dan semuanya perempuan. Saya sadar bahwa daya kuasa kami sangatlah rendah dibandingkan dengan mayoritas laki-laki yang berumur lebih tua, berstatus senior, dan pekerja tetap. Relasi kuasa sangat terasa nyata. Karena, kami sebagai MT ditugas manajemen untuk di”tandem” atau dididik oleh mereka yang bekerja lebih lama.

Keempat, kantor saya tidak memiliki peraturan tentang pelecehan seksual di lingkungan kerja.
Kelima, tidak adanya pendidikan seksual sejak dini di Indonesia, membuat budaya patriarki seperti pelecehan dan misoginisme melekat kuat secara umum. Sehingga sulit untuk mempraktekkan isu gender yang tidak umum di masyarakat biasa maupun lingkungan bisnis.

Masih banyak lagi, contoh kalimat atau tindakan pelecehan yang bisa saya utarakan disini. Namun, rasanya tidak cukup, karena hal itu telah menjadi kebiasaan dan sangat lazim di sini. Bahkan, tidak sedikit, perempuan yang turut melecehkan perempuan lain atau tidak memiliki kesadaran bahwa ia telah dilecehkan. Karena, mereka tidak terpapar oleh kajian gender dan konsep pelecehan seksual seperti saya, maka sebagian dari mereka turut melanggengkan budaya tersebut. Akibatnya, pelecehan terus diproduksi secara masif.

Namun, memang ada beberapa manajer level atas atau pekerja yang tidak bersikap demikian. Hanya sebagian. Mereka minoritas. Mereka tidak signifikan dan tidak berupaya untuk menghentikan hal tersebut. Walaupun, mereka memang tidak bersikap misoginis dan patriarkis.

 

Diceritakan oleh IS

Kirim Komentar

*Please complete all fields correctly

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Cerita Lainnya